Aresya

Aresya
Diabaikan Aresya


__ADS_3

Setelah melayani suaminya Davino berpikir kalau Aresya akan menerimanya sebagai suami, ternyata Aresya tidak sedikitpun membuka hati pada Davi. Apa yang di lakukan Davino di masa lalu sangat membekas di hati wanita canti itu. Karena Aresya selalu menolaknya untuk  di jadikan istri yang sah Davino marah, ia sampai terlontr kata-kta hinaan saat sedang emosi.


Beberapa  hari kemudian.


Davino sudah dua hari sejak kepulangannya,  dari liburan itu, padahal ia beralasan pada omanya kalau ia pulang karena kepikiran pekerjaan, tetapi bukan pekerjaan yang yang membuatnya kepikiran melainkan Aresya. Sejak ia pulang, belum pernah ia masuk kantor, melainkan sibuk mencari cara untuk bisa bertemu dengan Aresya.


Matanya menatap layar ponselnya, ia bertarung dengan pikiran sendiri, apakah ia mengirim pesan pada Aresya, apa tidak. Padahal sebelum ia memustuskan pergi liburan, ia menelepon Aresya saat itu, memakinya, menyebutnya wanita munafik dan suka memanfaatkan orang lain.


Namun, saat itu,  Aresya hanya diam mendengar apa yang di ungkapkan Davino  ke padanya, baginya apa yang di katakan lelaki itu, ia anggap  hanya angin berlalu,  ketika Davino menyebutnya wanita pemuja uang ia hanya tersenyum kecut.


“Apa aku meneleponnya atau tidak, nanti kalau ia tidak menjawabnya bagaiamana ?” Davino berbicara sendirk dalam kamar itu.


                 *


Kamar  Davino sudah berubah total,  pernak-pernik milik Kirana sudah ia singkirkan mulai dari meja rias, lemari, semua yang ada hubungannya dengan Kirana ia singkirkan dari kamarnya,  termasuk dari hatinya. Walau mereka masih hubungan suami istri karena Kirana menolak berpisah dengannya.


Saat ini Kirana kembali kerumah orang tuanya setelah di bebaskan  dari penjara, ia  di bebaskan dari penjara karena ia tidak terbukti ikut dalam barang setan itu,  tetapi, walau ia di bebaskan tidak lantas membuatnya nyaman.


Karena skandal yang di lakukan Kirana mempermalukan dua keluarga, keluarganya dan keluarga besar Davino sebagai suaminya. Saat keluarga Kirana ingin mengantar wanita masuk kembali kerumah Erlangga


 Ny. Marisa menolaknya, ia tidak memperbolehkan Kirana datang lagi ke rumahnya, jadi Kirana hanya status istri tidak di anggap kini hati Davino  hanya untuk wanita cantik yang bernama Aresya, istri kedua , tetapi sayang Aresya menolak jadi istri yang sah, ia hanya ingin melahirkan anak untuk Davino lalu ia akan pulang ke rumahnya.


                *


Saat itu Davino bertarung dengan pikirannya.


‘Baiklah aku akan mencoba mengirim pesan ‘ ucap Davino setelah lelah berpikir.


[Apa kabar?]


Davino   menunggu,  pesan yang ia kirim untuk Aresya hanya dired,  namun tidak dibalas.


[Aku sudah di Jakarta sekarang apa boleh kita bertemu?]


Sama juga,  hanya dired tanpa dibalas juga.


“Eh, dasar apa kamu tidak mau hanya untuk membalas pesan dariku?” ucap Davino merasa kesal melemparkan ponsel miliknya dia atas ranjang ke atas ranjang. “Kamu itu wanita yang keras kepalan Aresya kamu menyebalkan” Davino  merebahkan tubuhnya di atas ranjang,  memikirkan cara untuk bertemu degan Aresya.


Mengulurkan tangannya lagi mengambil ponselnya, ia mencoba menelepon Aresya, saat menekan nama ‘Keras ke pala’ itu nama yang digunakan untuk  nama Aresya dalam kontak ponselnya.  Merasakan jantungnya berdetup sangat kencang saat ia menelaponnya. Pada nada panggilan ke dua  sebuah suara khas terdengar di ujung telepon. Ia merasa gugup, tadiny ia pikir wanita itu tidak akan mengangkatnya.


“Iya halo,” jawab Aresya di ujung telepon,  suaranya datar tidak bersemangat. Jantung Davino semakin bertetup tidak beraturan, untuk pertama kalinya ia merasakan sangat gugup menelepon wanita, padahal wanita yang ia hubungi adalah istrinya sendiri.


“Apa kabar,” ucap Davino.

__ADS_1


“Baik”


“Lagi lapain kamu?”


“Tidur”


“Aku mau datang ke sana untuk menemuimu”


“Untuk apa, tidak usah lagian kita sudah bicara lewat telepon untuk apa lagi,” ucap Aresya masih dengan nada datar.


“Aresya aku berhak bertemu karena kamu istriku, apa aku salah?”


“Tidak, tapi aku tidak ingin bertemu, aku malas”


“Dengar iya, aku tidak perduli kamu malas apa tidak itu urusanmu, aku hanya ingin datang menjenguk istriku dan calon anakku,” ucap Davino memberanikan diri. “Ia menutup teleponya.


Ia menghela napas panjang setelah menutup teleponya,  baru kali ini ia mengemis minta bertemu dengan seorang perempuan, baru kali ini juga ia di acuhkan bahkan di cueki sama seorang wanita.


Tidak perduli dengan penolakan yang dilakukan Aresya. Ia menyambar kunci mobilnya, ia meyetir sendiri hal yang jarang ia lakukan,  biasanya ia akan selalu di supiri setiap kali  ingin  bepergian, tetapi saat ini ia melakukannya sendiri.


Tiba di depan rumah berlantai dua itu ia berhenti. Namun,  pengawal itu melarang Davino masuk  ke rumah, atas perintah Aresya.


“Maaf pak Davino,  saat ini, Non Aresya lagi istrirahat, dia tidak ingin di gangu”


“Maaf pak kami tidak bisa melakukanya, kami hanya melakukan tugas, sesuai yang di perintahkan Ny. Marisa” Kedua lelaki itu bertahan, tidak membiarkan Davino masuk walau ia suami dari Aresya.


“Lo, cari mati apa! gue suaminya,” bentak Davino lagi, tetapi kedua lelaki itu hanya menunduk. Namun, tetap bertahan.


Dengan wajah sangat kesal, Davino megeluarkan ponselnya menelepon Aresya ia juga tidak mengangkatnya, ia semakin berasa jengkel.


Ia menelepon omanya untuk meminta bantuan, tetapi wanita itu tidak membantu juga.


“Vin, kalau Aresya bilang tidak ingin bertemu biarkan saja, kamu pulang saja, toh  juga kalau kamu menemui kamu hanya akan memarahinya ‘kan?”


“Oma, aku ini suaminya, apa oma sadar itu?”


“Oma tahu nak, biarkan saja kamu juga tidak menginginkannya”


Davino menghela napas panjang,  mendengar omanya bicara ia semakin kesal, karena tidak ada yang perduli dengan perasaanya.


“Ah, sudahlah oma juga sama tidak tau apa yang aku inginkan,” ucap Davino menutup sambungan teleponya.


Ny. Marisa,  tertawa mendengar nada putus asa dari Davino, ia tahu kalau Davino sudah mulai memiliki perasaan untuk Aresya, tetapi ia sengaja pura-pura tidak peka. Ia ingin lelaki itu berusaha sendiri. Saat ini, Davino menunggu di  luar rumah,  tangannya  terus  mencoba menelepon Aresya namun tidak berhasil.

__ADS_1


Namun, Aresya tidak tega melihat Davino menunggu hampir satu jam,  mengangkat teleponya.


“Ada apa dengamu?” tanya Davino dengan suara meninggi.  “Apa kamu takut menemuiku? Apa kamu takut aku mengigitmu?” tanya Davino marah.


“Aku baru bangun”


“Oh iya Nyonya besar, kamu berlagu sekali, apa kamu sudah merasa hebat sekarang? kamu turun sekarang kalau tidak aku bakar rumahnya”


“Kamu kenapa datang ke sini?”


“Oh baiklah,  kamu belum pernah melihatku gila, iya”


Davino mengambil batu  melempar kaca jendela rumah itu sampai pecah.


Para pengawal itu hanya bisa diam dengan tatapan bigung melihat aksi nekat Davino.


“Baiklah, baiklah kamu naik sekarang, kamu membuat keributan semua orang sudah melihatmu”


“Biarkan mereka menangkapku, aku tidak mau masuk kerumah, kamu yang turun sekarang sebelum  rumah itu hancur”


“Hadeeeh dasar orang stress, baik hentikan aku turun” Aresya mengalah, ia  turun, karena tidak ingin rumah itu hancur dan tidak ingin mengundang perhatian orang sekitar.


Meraih switer lalu ia turun, melihat Aresya turun,  dengan gaya santai ia berdiri di samping mobil, menatap Aresya yang datang kearahnya.


Ia mengangkat kedua alisnya saat Aresya mendekat.


“Apa harus cara seperti itu agar kamu mau bertemu?”


“Itu cara yang  bar-bar,” ucap Aresya dengan tatapan sinis.


“Iya kalau tidak seperti itu kamu tidaka akan mau  bertemu setidaknya cara ini berhasil’ kan”


“Terus … apa yang penting untuk bertemu denganku” tanya Aresya merangku  kedua tangannya terlihat seperti orang kedinginan.


“Kamu istriku, apa tidak boleh bertemu?”


“Baiklah sekarang mau apa?”


“Mau memeluk kamu, aku kangen sama anakku,”  ucap Davino memeluk Resya  tiba-tiba.


“Hei, apa yang kamu lakukan banyak orang yang  melihat, kamu membuatku malu”


Aresya  berusaha melepas diri dari pelukan Davino, jangan melawanku,  kalau tidak aku akan melakukan hal yang lebih gila lagi di depan orang-orang ini” ucap Davino mengancamnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2