
Kini Davino mulai menyadari kalau wanita yang selama ini percayai, ternyata membohonginya, dengan wajah kecewa Davino masuk ke dalam ruang kerjanya.
‘Kirana kamu membuatku sangat kecewa, kamulah orang satu-satunya yang aku percaya selama ini, ternyata kamu juga membohongiku’ Davino membatin.
Ia duduk dalam ruang kerjanya, sebotol wisky akan menemaninya saat ini, ia akan bertambah lancar dalam hal bicara, bahkan tidak terkontrol setiap kali ia meneguk minuman memamukkan itu, ia sangat terluka dan kecewa, selama ini, hanya Kiranalah yang ia percaya satu-satunya di dunia ini, tapi itupun membhonginya saat ini.
Kirana ingin masuk ke ruang kerja Davino.
“Sayang, dengarkan aku dulu biarakan aku menjelaskanya,” ucap Kirana mengetuk kamar Davino.
“Jangan sekarang, aku lagi sibuk kerja, lain kali saja, hari ini lagi banyak pekerjaan yang ingin aku selesaikan,” ucap Davino mencari alasan.
Saat Kirana mengetuk ruanga kerja Davino, Ny. Marisa baru pulang, ia bisa melihat ada hal besar yang akan terjadi nantinya.
“Ada apa dengan Davino,” tanya Ny. Marisa.
“Tidak Oma dia hanya ngambek kami sedang bercanda,” ucap Kirana, tentu saja menutupi dari Marisa.
“Dasar anak manja,” ucap Ny. Marisa ia masuk ke dalam kamar untuk istrirahat.
Duduk di sisi kasur memijit kepalanya, merasa sangat sakit di kantor ia dicerca para pemegang saham, karena masih ikut aktip mengurus perusahaan, para pemegang saham dan fatner perusahaan memintanya untuk pensiun dan menyerahkan urusan perusaan pada Davino cucunya. Ia tahu tujuan mereka agar perusahaanya bisa dipermainkan oleh mereka, selama ini perusahaannya miliknya selalu tangguh karena ada ia di balik layar yang memegang kemudi.
“Tapi bagaimana aku menyerahkan perusaan pada bocah yang belum dewasa seperti itu, umurnya saja yang tua, kelakuan dan pikiranya masih bocah, mengurusnya wanita-wanitanya saja ia tidak benar bagaimana dia akan mengurus perusahaan,” ucap Marisa kesal.
Perusahaan yang di bangun keluarganya dari generasi ke generasi, akan hancur bila ia serahkan pada Davino, itu yang selalu ia pikirkan, ia belum yakin pada Davino untuk mengurus perusahaannya, ia takut saat begitu ia serahkan, para saingan bisnisnya sudah menunggu hari itu tiba, mereka sudah menunggu seperti serigala-serigala kelaparan, karena semua orang tahu, Davino tidak pernah tampil membuat satu geprakan besar layaknya seorang pewaris tunggal, bisnis besar keluarga Erlangga, mereka hanya tahu kalau Davino anak yang manja, egois, sombong, dan angkuh.
__ADS_1
Saat Ny. Marisa duduk memijit-mijit keningnya, suara Kirana kembali terdengar, kali ini menyinggung Foto, hal itu membuat Ny. Marisa penasaran ia berdiri lebih dekat ke daun pintu kamar.
“Baiklah sayang, foto itu aku dapatkan dari seorang yang bekerja di pabrik yang namanya Alir,” ucap Kirana mencoba menjelaskan agar Davino mau membuka pintu.
Terdengar pintu ruangan Davino terbuka. Menarik tangan Kirana masuk kedalam ruang kerja.
Ny. Marisa yang berdiri di dekat pintu tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan lagi.
“Alir … ? bukankah itu lelaki manager pabrik? Dari mana ia mendapat informasi tentang Aresya, sejauh mana ia mengetahui tentang Resya?”
“Aku tidak tahu hubungan mereka, aku dapat dari dia"
Dengan cepat Davino menghubungi Lilis, meminta wanita tangguh itu datang kekamarnya, ia ingin wanita itu menyelidiki orang yang bernama Alir sejauh mana ia tahu tentang Resya.
“Tadi kamu bilang tidak mengenal Alir, sekarang kamu bilang kamu temanya, hubungan seperti apa yang kalian miliki”
“Aku tidak akan menuduhmu, kalau kamu berterus terang dan tidak melakukan semuanya di belakangku, sekarang katakan, untuk apa kamu melakukan semua ini, ini urusan keluarga Erlangga kenapa ada ikut campur tangan orang lain, apa sebenarnya tujuan kamu?” bentak Davino baru kali ini ia semarah itu pada Kirana wanita yang sudah lama bersamanya.
“Aku tidak ada tujuan lain sayang, aku hanya ingin selalu bersamamu tanpa ada orang lain di antara kita,” ucap Kirana mencoba meraih leher Davino ia berpikir dengan sikap manis seperti itu akan berhasil menjinakkan lelaki itu, tapi kali ini ia salah Davino menolak tangnya melepaskanya dari lehernya dan memundurkan tubuhnya.
“Kirana! Saat aku bertanya padamu saat itu, kamu bilang kamu setuju, tapi sekarang kamu bilang yang berbeda apa sebenarnya yang kamu inginkan?”
“Wanita mana yang mau di madu, aku tidak rela, saat itu aku menyetujuinya, agar Oma kamu senang, tapi aku tidak suka, aku tidak akan rela sampai kapanpun berbagi milikku dengan orang lain.”
“ Karena itu kamu sampai menuduh orang lain seperti itu, itu sangat jahat, kamu memfitnahnya”
__ADS_1
“Sayang, deng-“
“Cukup jangn teruskan lagi”
Davino keluar meninggalkan Kirana yang menangis minta maaf, ia menjelaskan tapi Davino tidak mendengarnya lagi, biasanya kalau ia menangis atau menjerit kencang Davino langsung luluh, tapi kali ini lelaki itu tidak perduli padanya, ia meninggalkan rumah, menyetir mobil sendiri. Mendengar semua penjelasan Kirana membuatnya sangat kecewa, ia mengarahkan mobilnya kearah Bar, tempat yang biasa didatangi Kirana dan Alir dan teman-teman Kirana.
**
Mendengar pertengkaran Kirana dan Davino tadi Ny. Marisa bukanya merasa sedih atau empati karena cucunya bertengkar degan istrinya, ia malah senang, ia terlihat tersenyum kecut.
‘Ketahuan juga kelakuan busuknya, harusnya kamu mengerti saat oma memberitahukannya’ Marisa membatin
“Aku berharap kalian bertengkar selamanya, kalau bisa berpisah sekalian, agar aku bisa membawa Aresya ke rumah ini, hanya dia yang cocok jadi menantu di rumah ini, hanya dia cocok yang jadi Nyonya besar di rumah ini, Kirana dan Difi hanya sampah, mereka berdua dan antek-anteknya hanya wanita jahat yang mengincar harta keluargaku, ucap Ny Marisa melipat tangan di dada, berdiri di balkon kamarnya, melihat Davino keluar dari rumah dengan wajah kecewa.
“Davino, memang bodoh, aku sudah bilang dari dulu, kalau wanita yang kamu bawa kerumah ini bukanlah wanita baik seperti yang kamu pikirkan. Akan aku tunjukkan padamu siapa wanita ini nanti,” sambung Marisa lagi.
Ia masuk ke dalam kamarnya dan istirahat dan Lilis malam ini akan bekerja keras dengan satu target utama bernama Alir, NyMarisa ingin tahu sebanyak apa lelaki itu tahu tentang Aresya.
Saat lagi kesal Davino akan selalu mencari wanita yang akan jadi pelampiasan kemarahannya.
“Bawakan aku wanita, bawa ke hotel,” ujar Davino pada asistennya, melongarkan dasi yang ia kenakan.
“Baik Pak pastikan dia Platinum atau gold”
“Baik”
__ADS_1
‘Akan ada lagi suara jeritan dan kesakitan dari kamar Pak Davino, kasihan wanita yang akan jadi yang jadi mangsanya malam ini’ ucap lelaki itu dalam hati.
Bersambung …