Aresya

Aresya
Bertemu Dengan Aresya


__ADS_3

Bertemu Dengan Aresya


Saat datang ke Surabaya Davino  menuju pemakaman ibunya ziara, mencurahkan semuanya di kuburan sang ibu, Davino sedih karena wanita yang ia percayai ternyata mengkhianatinya, ia pikir Kalara menerima semua kekurangannya dengan tulus, ternyata wania itu hanya menginginkan uang dan harta miliknya, setelah puas  mencurahkan semua di sana ia pergi menuju kapal pribadinya,  menikmati angin menghabiskan waktunya  sepanjang hari sampai malam, ia ada di dalam kapal,  ia tidak tahu kalau Ny. Marisa dan Aresyah juga datang ke Surabaya.


Pak Darma menemani Davino dalam kapal sepanjang malam,  kegemarannya  memancing ikan, ia lakukan malam itu juga, namun tidak ada satupun ikan yang menyentuh umpan kailnya,


Pak Darna hanya bisa menggeleng,  melihat kelakuan Tuan muda itu,  tidak ada orang  yang memancing di malam hari, karena semua ikan  pasti tidak melihat umpannya .


Akan tetapi, Davino melakukan itu untuk mencari hiburan sendiri,  karena dengan menghirup angin laut hatinya terasa tenang, di atas kapal di samping pancinganya, ia merebahkan tubuhnya terlentang menatap hamparan bintang di langit,


“Aku ingin hidup bebas,” ucap Davino, menghela napas, ia lelah jika hidupnya selalu bergantung sama omanya.


Melihat bintang-bintang dilangit, menggambarnya dengan imajinasinya sendiri, lelah dengan mata dan pikirannya ditambah angin laut yang berhembus dingin tubuhnya seakan di nina bobokan Davino tutup mata dan tertidur, untung tidak terjatuh ke laut.


“Pak Davino, bapak tidur di kamar saja,  saya sudah rapikan  ranjangnya pak,” ucap pak Darma, ia membangunkan Davino karena sudah sempat tertidur.


Ia bangun tanpa ada suara, hanya melangkah turun ke bawah kapal dan masuk bilik  seperti kamar, sebuah kamar yang  di lengkapi dengan ranjang  dengan segala kelengkapannya.


Dalam  kapal pesiar mini milik Davino,  kapal mewah yang di lengkapi  dengan semua  kebutuhannya .


Ada dapur televisi, kulkas bahkan kolam renang mini untuk ia merendam, ia selalu datang bersama Kirana  dan segala desain dan perlengkapan dalam kapalnya pilihan istrinya, kini ia datang sendiri, sepi, hampa, itulah yang ia rasakan saat ini. Karena merasa lelah, ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan tertidur pulas.


**


Di tempat lain, Ny. Marisa masih sangat geram atas kejadian yang mereka rasakan, di pabriknya ia mendapatkan banyak  penyelewengan, korupsi, sikap tidak manusiawi pada para buruh, di kantor bahkan ia mendapatkan yang lebih parah  dari sebelumnya, gedung besar yang menampung ratusan pegawai, tiba-tiba seperti kuburan, hanya puluhan yang terlihat,  saat di telusuri dalam sudut ruangan ada banyak hal menjijikan yang  terjadi.


Ny Marisa mengumpulkan sebuah orang-orangnya, bahkan ia memanggil pengacara langsung dari Jakarta untuk membuang orang-orang yang tidak  berguna itu.


Hingga pagi tiba, Davino bangun ia duduk diatas kapal  ditemani segelas kopi dan  dan  roti bakar buatan pak Darma, ia duduk menatap jauh kearah laut,  kapal itu sudah terikat dengan kuat di dermaga di pinggir pantai,


Saat  Davino sudah tertidur pulas tadi malam,  pak Darma masih  berkutat mengikat kapal itu dengan rantai  dengan kuat, kalau ia tidak mengikat dengan kuat, malam itu mungkin  lari ke tengah lautan terbawa ombak, karena anginnya sangat kencang .


“Pak  apa kita jadi ke Kantor pagi ini?’ tanya Pak Darma menghampiri Davino.


“Jadi pak, kita akan ke kantor, saya akan mandi dan berangkat”

__ADS_1


Saat tiba di kantor, ia kebingungan karena  tiba-tiba suasana terlihat menegang  semua pegawai terlihat berdiri seakan -akan ingin melakukan penyambutan besar,  saat ia tiba mereka semua berdiri menunduk takut.


‘Ada apa? kenapa mereka melakukan penyambutan seperti itu untukku,  padahal aku datang tidak memberi kabar’ ucap Davino dalam hatinya .


Saat ia berjalan ke pintu masuk,  dua mobil berwarna  hitam berhenti di halaman depan.


Ny. Marisa turun dari mobil, bukannya hanya Omahnya bahkan ada Aesya mengandeng tangannya.


‘ Aresyaaa ….?


“Davino? Kamu juga kesini?”


“Omah kapan kesini?”


“Haaa? Sudahlah nanti  Omah jelaskan, ayo kita ke ruang rapat, kamu kapan sampai?”


“ Kemarin, tapi aku langsung ke kuburan Mami, dari sana langsung ke Kapal”


“Oh”


“Apa yang terjadi?” tanya Davino matanya melirik wanita asing di belakangnya.


Saat ada Davino bersama mereka,  tiba-tiba semangat Aresya langsung menghilang,  merasa  tidak pantas untuk ikut rapat, tapi ia tidak mau mengecewakan Ny. Marisa,  terpaksa ikut dengan jarak lima meter dari Davino.


Apa ini Aresya? kenapa penampilannya tiba-tiba berubah, ini Aresya apa bukan sih? Wanita yang dulu  jelek dan amit-amit,  tetapi  yang ini sangat cantik ucap Davino, ia terlihat sangat ragu,


Tiba-tiba Ny. Marisa berhenti dan menoleh ke belakang, ia menarik tangan Aresya saat memasuki ruang rapat.


“Nak, Aresya duduklah di sebelahku.”


“Baik Omah”


“Aresya?” tanya Davino menatap omahnya.


Tapi wanita itu mengacuhkannya,  baginya saat ni tentang perusahaannya dan kantornya dulu, nanti setelah urusan perusahaan selesai baru tentang mereka.

__ADS_1


Berkumpul dalan ruangan besar, sengaja  kumpulkan dalam ruangan yang luas, dan di depan para pegawai duduk para petinggi perusahaan termasuk Aresya dan Davino dan Ny. Marisa,  untuk membuat dobrakan.


Davino masih menatap Aresya dengan tatapan sinis, aresya cuek dan  tidak perduli dengan tatapan sinis dari lelaki yang sudah menjadi suaminya, ia hanya akan diam dan bersikap tidak mengenalnya.


“Terimakasih untuk kedatangan kalian, pertama saya  ingin sampaikan, saya kecewa dengan semua karyawan kantor ini.”


Saat mereka lagi rapat, tiba-tiba ruangan terbuka dan dua orang wartawan bayaran Ny. Marisa masuk.


“Bagaimana tidak,  saya sudah memberikan kalian semua pekerjaan, akan tetapi, semua orang menyalah gunakan gedung  ini menjadi tempat perzinahan, dalam layar lebar tampil  semua video yang  lilis rekam. “ Para leluhur dan pendiri perusahaan  ini akan menangis melihat kelakuan manusia-manusia bejat dan hina seperti kalian, saya membayar gaji tiap bulan, tetapi,  kalian tidak melakukan apa-apa untuk saya,  malah melakukan zinah di perusahaan saya,  bukan hanya satu orang, ada banyak, hal yang paling menjijikkan biarkan keluarga kalian pada melihat apa yang kalian lakukan,” ucap Ny. Marisa dengan nada marah.


“Nyonya saya meminta maaf,” ucap lelaki  itu dengan mulut bergetar, ia adalah direktur yang menangani perusahaannya,  perusahaan sudah memberinya makan dan keluarganya dari ia masih muda,  akan tetapi,  ia membiarkan perusahaan yang sudah menghidupinya puluhan tahun, ia biarkan hampir bangkrut, ia tidak mengurusnya.


Bahkan  di masa tuanya,  ia melakukan hal yang menjijikkan, ia gemetaran karena semua anak-anak dan cucunya akan melihatnya dan istrinya juga.


Mere semua menunduk malu, beberapa wartawan merekam skandal para karyawan itu, tidak cukup sampai di situ, setelah puas mempermalukan mereka, seakan ada kejutan lagi.


“Semua orang yang melakukan korupsi dalam perusahaan saya,  akan saya sita hartanya,” ucap Ny. Marisa. “Semua orang dalam kantor ini akan bertanggung jawab atas kerugian yang dialami perusahaan, tidak terkecuali, karena saat saya kemarin melakukan sidak dadakan, tidak ada satupun orang dalam kantor ini yang bekerja, padahal uang saya keluarkan  sekian banyak untuk membayar gaji para karyawan dalam kantor ini, akan tetapi, tidak ada yang bekerja satu orangpun, hal yang sangat mengecewakan untuk saya,” ucap Ny Marisa.


Sikap tenang yang di tunjukkan kemarin ternyata hanya pancingan agar mereka datang semua , dan saat datang di situlah ia bongkar semua keburukan mereka .


Semua malu dan tertunduk bahkan  beberapa ada yang menangis menyesali, karena rekaman dalam layar  akan membuat mereka malu seumur hidup.


Tiba-tiba Aresya berdiri atas perintah Ny Marisa, Davino hanya menatap sinis padanya.


“Mungkin, sebagai dari pegawai yang ada disini sudah mengetahui kalau Bu Marisa selaku pemilik perusaan sudah bertemu dengan  para buruh dan sudah menangkap para pemain busuk dari sana, saat ini … kantor  ini akan ditutup selamanya, untuk kantor baru nanti akan ada lagi, perusahaan tidak ditutup hanya bangunan kantornya yang akan diganti tentu sama semua orang di dalamnya di pecat tanpa terkecuali,” ucap Aresya.


Suara tangisan dari para pegawai mengisi ruangan itu, Ny. Marisa menghukum mereka semua di permalukan, di denda, dipecat.


“Apaaa? Davino terkejut mendengar kantornya di tutu p.  “Apa kamu gila menutup kantor, apa sudah diskusi dulu sama Omah?” tanya Davino  menatap  tajam kearah Aresya.


“Sudah itu perintah saya,” ucap Ny. Marisa sinis meninggalkan ruangan itu dengan wajah tegas dan marah.


*


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2