
Bertemu Dengan Aresya
Saat datang ke Surabaya Davino menuju pemakaman ibunya ziara, mencurahkan semuanya di kuburan sang ibu, Davino sedih karena wanita yang ia percayai ternyata mengkhianatinya, ia pikir Kalara menerima semua kekurangannya dengan tulus, ternyata wania itu hanya menginginkan uang dan harta miliknya, setelah puas mencurahkan semua di sana ia pergi menuju kapal pribadinya, menikmati angin menghabiskan waktunya sepanjang hari sampai malam, ia ada di dalam kapal, ia tidak tahu kalau Ny. Marisa dan Aresyah juga datang ke Surabaya.
Pak Darma menemani Davino dalam kapal sepanjang malam, kegemarannya memancing ikan, ia lakukan malam itu juga, namun tidak ada satupun ikan yang menyentuh umpan kailnya,
Pak Darna hanya bisa menggeleng, melihat kelakuan Tuan muda itu, tidak ada orang yang memancing di malam hari, karena semua ikan pasti tidak melihat umpannya .
Akan tetapi, Davino melakukan itu untuk mencari hiburan sendiri, karena dengan menghirup angin laut hatinya terasa tenang, di atas kapal di samping pancinganya, ia merebahkan tubuhnya terlentang menatap hamparan bintang di langit,
“Aku ingin hidup bebas,” ucap Davino, menghela napas, ia lelah jika hidupnya selalu bergantung sama omanya.
Melihat bintang-bintang dilangit, menggambarnya dengan imajinasinya sendiri, lelah dengan mata dan pikirannya ditambah angin laut yang berhembus dingin tubuhnya seakan di nina bobokan Davino tutup mata dan tertidur, untung tidak terjatuh ke laut.
“Pak Davino, bapak tidur di kamar saja, saya sudah rapikan ranjangnya pak,” ucap pak Darma, ia membangunkan Davino karena sudah sempat tertidur.
Ia bangun tanpa ada suara, hanya melangkah turun ke bawah kapal dan masuk bilik seperti kamar, sebuah kamar yang di lengkapi dengan ranjang dengan segala kelengkapannya.
Dalam kapal pesiar mini milik Davino, kapal mewah yang di lengkapi dengan semua kebutuhannya .
Ada dapur televisi, kulkas bahkan kolam renang mini untuk ia merendam, ia selalu datang bersama Kirana dan segala desain dan perlengkapan dalam kapalnya pilihan istrinya, kini ia datang sendiri, sepi, hampa, itulah yang ia rasakan saat ini. Karena merasa lelah, ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan tertidur pulas.
**
Di tempat lain, Ny. Marisa masih sangat geram atas kejadian yang mereka rasakan, di pabriknya ia mendapatkan banyak penyelewengan, korupsi, sikap tidak manusiawi pada para buruh, di kantor bahkan ia mendapatkan yang lebih parah dari sebelumnya, gedung besar yang menampung ratusan pegawai, tiba-tiba seperti kuburan, hanya puluhan yang terlihat, saat di telusuri dalam sudut ruangan ada banyak hal menjijikan yang terjadi.
Ny Marisa mengumpulkan sebuah orang-orangnya, bahkan ia memanggil pengacara langsung dari Jakarta untuk membuang orang-orang yang tidak berguna itu.
Hingga pagi tiba, Davino bangun ia duduk diatas kapal ditemani segelas kopi dan dan roti bakar buatan pak Darma, ia duduk menatap jauh kearah laut, kapal itu sudah terikat dengan kuat di dermaga di pinggir pantai,
Saat Davino sudah tertidur pulas tadi malam, pak Darma masih berkutat mengikat kapal itu dengan rantai dengan kuat, kalau ia tidak mengikat dengan kuat, malam itu mungkin lari ke tengah lautan terbawa ombak, karena anginnya sangat kencang .
“Pak apa kita jadi ke Kantor pagi ini?’ tanya Pak Darma menghampiri Davino.
“Jadi pak, kita akan ke kantor, saya akan mandi dan berangkat”
__ADS_1
Saat tiba di kantor, ia kebingungan karena tiba-tiba suasana terlihat menegang semua pegawai terlihat berdiri seakan -akan ingin melakukan penyambutan besar, saat ia tiba mereka semua berdiri menunduk takut.
‘Ada apa? kenapa mereka melakukan penyambutan seperti itu untukku, padahal aku datang tidak memberi kabar’ ucap Davino dalam hatinya .
Saat ia berjalan ke pintu masuk, dua mobil berwarna hitam berhenti di halaman depan.
Ny. Marisa turun dari mobil, bukannya hanya Omahnya bahkan ada Aesya mengandeng tangannya.
‘ Aresyaaa ….?
“Davino? Kamu juga kesini?”
“Omah kapan kesini?”
“Haaa? Sudahlah nanti Omah jelaskan, ayo kita ke ruang rapat, kamu kapan sampai?”
“ Kemarin, tapi aku langsung ke kuburan Mami, dari sana langsung ke Kapal”
“Oh”
“Apa yang terjadi?” tanya Davino matanya melirik wanita asing di belakangnya.
Saat ada Davino bersama mereka, tiba-tiba semangat Aresya langsung menghilang, merasa tidak pantas untuk ikut rapat, tapi ia tidak mau mengecewakan Ny. Marisa, terpaksa ikut dengan jarak lima meter dari Davino.
Apa ini Aresya? kenapa penampilannya tiba-tiba berubah, ini Aresya apa bukan sih? Wanita yang dulu jelek dan amit-amit, tetapi yang ini sangat cantik ucap Davino, ia terlihat sangat ragu,
Tiba-tiba Ny. Marisa berhenti dan menoleh ke belakang, ia menarik tangan Aresya saat memasuki ruang rapat.
“Nak, Aresya duduklah di sebelahku.”
“Baik Omah”
“Aresya?” tanya Davino menatap omahnya.
Tapi wanita itu mengacuhkannya, baginya saat ni tentang perusahaannya dan kantornya dulu, nanti setelah urusan perusahaan selesai baru tentang mereka.
__ADS_1
Berkumpul dalan ruangan besar, sengaja kumpulkan dalam ruangan yang luas, dan di depan para pegawai duduk para petinggi perusahaan termasuk Aresya dan Davino dan Ny. Marisa, untuk membuat dobrakan.
Davino masih menatap Aresya dengan tatapan sinis, aresya cuek dan tidak perduli dengan tatapan sinis dari lelaki yang sudah menjadi suaminya, ia hanya akan diam dan bersikap tidak mengenalnya.
“Terimakasih untuk kedatangan kalian, pertama saya ingin sampaikan, saya kecewa dengan semua karyawan kantor ini.”
Saat mereka lagi rapat, tiba-tiba ruangan terbuka dan dua orang wartawan bayaran Ny. Marisa masuk.
“Bagaimana tidak, saya sudah memberikan kalian semua pekerjaan, akan tetapi, semua orang menyalah gunakan gedung ini menjadi tempat perzinahan, dalam layar lebar tampil semua video yang lilis rekam. “ Para leluhur dan pendiri perusahaan ini akan menangis melihat kelakuan manusia-manusia bejat dan hina seperti kalian, saya membayar gaji tiap bulan, tetapi, kalian tidak melakukan apa-apa untuk saya, malah melakukan zinah di perusahaan saya, bukan hanya satu orang, ada banyak, hal yang paling menjijikkan biarkan keluarga kalian pada melihat apa yang kalian lakukan,” ucap Ny. Marisa dengan nada marah.
“Nyonya saya meminta maaf,” ucap lelaki itu dengan mulut bergetar, ia adalah direktur yang menangani perusahaannya, perusahaan sudah memberinya makan dan keluarganya dari ia masih muda, akan tetapi, ia membiarkan perusahaan yang sudah menghidupinya puluhan tahun, ia biarkan hampir bangkrut, ia tidak mengurusnya.
Bahkan di masa tuanya, ia melakukan hal yang menjijikkan, ia gemetaran karena semua anak-anak dan cucunya akan melihatnya dan istrinya juga.
Mere semua menunduk malu, beberapa wartawan merekam skandal para karyawan itu, tidak cukup sampai di situ, setelah puas mempermalukan mereka, seakan ada kejutan lagi.
“Semua orang yang melakukan korupsi dalam perusahaan saya, akan saya sita hartanya,” ucap Ny. Marisa. “Semua orang dalam kantor ini akan bertanggung jawab atas kerugian yang dialami perusahaan, tidak terkecuali, karena saat saya kemarin melakukan sidak dadakan, tidak ada satupun orang dalam kantor ini yang bekerja, padahal uang saya keluarkan sekian banyak untuk membayar gaji para karyawan dalam kantor ini, akan tetapi, tidak ada yang bekerja satu orangpun, hal yang sangat mengecewakan untuk saya,” ucap Ny Marisa.
Sikap tenang yang di tunjukkan kemarin ternyata hanya pancingan agar mereka datang semua , dan saat datang di situlah ia bongkar semua keburukan mereka .
Semua malu dan tertunduk bahkan beberapa ada yang menangis menyesali, karena rekaman dalam layar akan membuat mereka malu seumur hidup.
Tiba-tiba Aresya berdiri atas perintah Ny Marisa, Davino hanya menatap sinis padanya.
“Mungkin, sebagai dari pegawai yang ada disini sudah mengetahui kalau Bu Marisa selaku pemilik perusaan sudah bertemu dengan para buruh dan sudah menangkap para pemain busuk dari sana, saat ini … kantor ini akan ditutup selamanya, untuk kantor baru nanti akan ada lagi, perusahaan tidak ditutup hanya bangunan kantornya yang akan diganti tentu sama semua orang di dalamnya di pecat tanpa terkecuali,” ucap Aresya.
Suara tangisan dari para pegawai mengisi ruangan itu, Ny. Marisa menghukum mereka semua di permalukan, di denda, dipecat.
“Apaaa? Davino terkejut mendengar kantornya di tutu p. “Apa kamu gila menutup kantor, apa sudah diskusi dulu sama Omah?” tanya Davino menatap tajam kearah Aresya.
“Sudah itu perintah saya,” ucap Ny. Marisa sinis meninggalkan ruangan itu dengan wajah tegas dan marah.
*
Bersambung.
__ADS_1