
Saat Davino mempercayai istrinya selama ini, ternyata Kirana selingkuh dengan karyawan Davino bernama Alir, ia adalah kepala pabrik mantan atasan Aresya di pabrik.
Kini Kirana mencari pelampiasan saat Davino menghiraukannya.
Dengan gerakan tangan lembut Alirmengusap tubuh bagian depan Kirana, tangannya dengan lihai menari-nari menyusuri setiap inci tubuh wanita bertubuh seksi itu.
Tubuh Kirana merespon gerakan tangan Alir, ia mengeluarkan suara dengan bibir di gigit dengan punggung gerakan mendayu-dayu maju mundur.
Alir semakin bersemangat, dengan cepat Ia tangkap dagu Kirana dan menikmati bibirnya dengan gerakan posesif, ia juga mencekram bukit indah milik Kirana.
“Ah,” Kirana mengerang.
Alir memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kirana, wanita itu mengatupnya dan memainkan lidahnya di sana, dengan sangat rakkus, mereka berdua saling mengerang panjang, gerakan tangan alir terlihat posesif cenderung kasar.
Puas dengan pangutan bibir, ia berdiri dalam bak mandi menarik rambut Kirana dengan gerakan kasar mengarahkanya ke bawa perutnya. Kirana menurut, ia melakukanya seakan-akan benda besar itu sebuah aceream, ia melakukannya dengan suara –suara ribut dari mulut.
Alir belum melepaskan cekramanya dari rambut Kirana, ia menahan kepala Kiarana dengan kasar dan ia mendorong panggulnya maju mundur, sampai-sampai terbatuk-batuk karena benda itu sampai menerobos tenggorakanya.
Saat ia terbatuk-batuk alih-alih menolong. Kenzo menarik rambutnya sampai berdiri menyambar bibir Kirana. Bibir yang belepotan dengan cairan berwarna putih di sekitar bibirnya.
Alir menikmati dengan kasar, satu tangan mencekram bagian lembut di dada dan tangan satunya memukul-mukul panggul Kirana sampai merah.
Kirana berteriak-teriak nikmat dengan berbagai macam rasa yang diberikan Alir. Mulutnya kembali menyusuri dari leher dengan gerakan menurunkan tubuhnya Alir mengigit bagian leher, turun ke dada, dan perut Kirana masi berdiri tegak dengan tangan memegang tembok di samping bathtub agar tetap seimbang. Saat Alir menyusuri setiap inci dari tubuhnya, tiba-tiba lelaki itu mendaratkan bibirnya di hutan lebat itu, ia mengangkat satu kaki Kirana ke sisi bahtub dan ia menjulurkan lidahnya masuk ke dalam hutan lebat itu menjilati cairan itu seakan itu lelahan coklat
Ia mengangkat satu kaki Kirana ke sisi bahtub dan ia menjulurkan lidahnya masuk ke dalam hutan lebat itu menjilati cairan itu seakan itu lelahan coklat
Kirana bergejolak, dan tubuh menegang seketika, bagai tersengat aliran listrik, saat mendapat sentuhan itu, tubuhnya menegang dengan tangan mencekram rambut Kenzo, mencoba mendorongnya menjauh dari hutan miliknya.
Alir semakin di tolak semakin bersemangat, ia semakin liar menerjang liang lembab itu dengan rakus lidahnya menjulur masuk mencari jalan masuk kedalam gua.
“Aaaaaahhhh” Kirana meranjau dengan tubuh bergerak tidak beraturan.
Lelaki mengangkat tubuhnya keluar dari bak mandi meletakkanya di atas meja dengan posisi tubu terlentang dan panggul sedikit mengantung di meja dan kedua kaki di topang kursi. Lalu menuangkan wine di bagian sensisitpnya dan meminumnya dengan cara yang berbeda. Ternyata Alir juga sama seperti Davino yang dulu, memiliki gaya ranjang yang kasar dan cenderung extrim, terlihat dari gerakanya memperlakukan Kirana dengan kasar.
Tetapi Kirana sepertiny menikmatinya, ia juga menumpahkan wine berwarna merah itu keseluruh tubuh Kirana, lalu ia menikmatinya dan meminumnya dari setiap tetesan dari tubuh Kirana.
Ia mengangkat tubuh ke Kirana ke sebuah sofa, di ruangan tamu membuka laci mengeluarkan beberapa benda yang bentuknya seperti senjata milik pria dengan segala ukuran. Ia mengeluarkan ukuran yang paling besar yang panjanganya, lebih besar dari miliknya.
__ADS_1
Untuk menuntaskan permainan terahirnya, ia mengangkat panggul Kirana ia memaikai lobang yang paling atas dan lobang bawahnya ia pakai menggunakan alat yang ia pegang tadi.
Dua lubang dua benda sekaligus ia mendorong tubuhnya dan mendorong benda di tangannya mendorongnya mengikuti hentakan dari panggulnya.
Kirana berteriak- teriak terdengar seperti digebukin satu Rt suaranya meleking memenuhi ruangan apartemen Alir, semakin ia berteriak semakin lelaki itu bersemangat.
Hingga keduanya lemas dan Alir mengendongnya kembali ke dalam bak mandi.
Membantu Kirana membersikan diri mengosok punggung dan kaki wanita itu.
Lepas dari permainan panas itu, ia kembali terlihat seperti babu, mengosok tubuh Kirana menuangkan wine ke gelasnya dan memijat tubuhnya.
“Beb, kalau kamu merasa sedih kamu datang kepadaku, aku selalu siap menghiburmu, jika Davino marah padamu kamu datang ke padaku aku akan selalu ada untukmu, selalu siap kapanpun kamu butuhkan aku, mau baik malam, maupun siang, hujan atau badai, aku berjanji aku akan selalu ada untukmu, aku tidak akan pernah memarahimu ataupun membuatmu kecewa karena kamu ratuku,” ucap Alir dengan penuh rayuan gombal.
“Makasi iyaLir, untung kamu selalu ada setiap kali aku merasa buruk,” ucap Kirana micium bibir Alir
Saat masih dalam bak mandi berduaan, ponsel Kirana berdering.
“Eh, itu ponsel gue, bukan?” tanya Kirana mengarahkan kupingnya.
“Iya”
Alir mengekor memeluk tubuh polos Kirana meletakkan pundaknya di bahu.
“Halo sayang” jawab Kirana,
“Ki, kamu di mana, kata si Bibi kamu tadi pulang kerumah, sory iya… tadi tidak angkat, ponselku kelupaan di dalam laci, aku sengaja mengunci kamar karena aku mengeluarkan buku-buku dan barang lama dalam kamar semua berserak, takut orang lain masuk jadi aku menguncinya,” ucap Davino.
“OH. Begitu iya? aku sempat sedih kamu marah,” ucap Kirana mendorong kepala Alir yang terus menempel di pundaknya dan bibirnya megecup pundak Kirana, ia tidak perduli, kalau yang menelepon Kirana itu seorang Davino, di saat Kirana bicara dengan suaminya ia asik menjilat dan menggigit kuping Kirana.
Ia juga mendorong tubuh Kirana kearah kaca, melihat tubuh indah wanita itu di pantulan kaca memeluk tubuh polos Kirana, tangannya denga liar mengusap perut Kirana dan memainkan tanganya di area itu.
“Aaahh”
Tanpa sadar Kirana mendesah lalau ia menutup mulutnya.
“Kamu kenapa? Sekarang di mana?” tanya Davino “Aku di rumah teman,” Ucap Kirana mengigit bibirnya dengan tubuh menengang lagi, di saat ia sedang menelepon suaminya tiba-tiba Alir dengan gerakan cepat membalikkan tubuhnya dan menundukkan tubuh Kiarana lalu ia memasukkan benda tumpul itu lagi ke sana.
__ADS_1
“Aa”
“Aku di hotel aku sedang ngegym, olahraga malam sayang” ucap Kirana mencoba menahan suara.
“Oh, aku jemput apa kamu pulang sendiri?” ucap Kiarana dengan tangan memukul lengan Alir karena ia mendorongnya dengan tempo cepat membuat suaranya terdengar aneh karena tidak stabil.
“Aku pulang sendiri sayang, aku mandi dulu”
“Baiklah” Davino menutup teleponya.
Kirana melemparkan ponselnya atas ranjang, ia mengertak giginya kesal dengan kelakukaan Alir yang tidak sabaran.
“Hei, kamu kenapa melakukannya saat aku menelepon suamiku, tidak bisa menunggu sebentar apa kalau mau melakukannya lagi.” Kirana protes
“Aku tidak tahan Beb melihatmu seperti itu, kamu milikku,” ucap Alir mendorong tubuhnya dengan tempo semakin cepat dengan suara teriakan dari mulutnya, ia terlihat sangat bringas, ia membolak-bailikkan tubuh Kirana mencoba berbagai posisi yang bisa memuaskanya, hingga ia mendapatkan kepuasaan. Dengan suara panjang mengerang akhirnya ia mencapai puncaknya lagi.
Ia terkapar lagi di atas ranjang, melihat Alir sudah menyelesaikan dan sudah mendapatkan kepusaan, Kirana bangun dan memungut pakainya dan berlari kearah kamar mandi, mandi dengan buru-buru dan berpakain rapi ia keluar dari kamar mandi.
“Lir, aku pulang dulu iya, Davino menyuruhku pulang”
“Tidak besok saja Beb, bilang saja kamu kurang enak badan sayang”
“Gak, bisa Lir, aku harus pulang sekarang, nanti aku telepon lagi, iya,” ucap Kirana mengecup pipi lelaki itu.
Ia hanya duduk dengan diam, melihat Kirana bersikap-buru.
“Beb, sepertinya kamu kelupaan sesuatu “
“Apa ?” tanya Kirana berdiri menatap kearah Kenzo
“Kamu tidak memakai kaca mata kuda milikmu, tadi kamu memutarnya pakai jarimu dan terlepar ke belakang sofa.”
Dengan gerakan singap Kirana meraba dadanya, benar saja pengaman bagian dadannya belum ia pakai.
“Oh iya benar,” ucap Kirana .
Mencarinya kain berwarna merah itu, memungutnya dan meminta Alir membuka kancing Dressnya dengan sikap buru-buru ia memakainua depan lelaki yang jadi selingkuahanya.
__ADS_1
“Ok aku pergi sayang, nanti aku datang lagi”
Kirana keluar dari apartemen Alir membawa koper besar itu lagi.