
Suana pagi hari begitu sejuk angin bertiup sepoi-poi, dengan lembut menyapu wajah wanita tua itu, Ny Marisa menikmati segelas susu rendah lemak dan dua lembar roti gandum menjadi serapannya setiap pagi.
Wanita itu selalu menseleksi setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya, hal itu juga membuatnya awet muda dan selalu tampil cantik. Di umurnya yang sudah tujuh puluh tahun.
Pagi itu untuk pertama kalinya, NyMarisa, merasa damai berada dalam rumahnya. saat Difi dan Kirana terusir dari rumah itu, wanita itu menyadarkan punggungnya di sofa di taman depan rumah. Ia baru tiba di Jakarta setelah menghabiskan waktunya berlibur lama.
“Oma! Kapan datang kok ga bilang-bilang kalau mau datang,” ucap Davino mendudukkan panggulnya di samping omanya.
“Kami berdua sama papi menghabiskan waktu berlibur ke semua tempat.”
“Papi ikut Oma liburan? ini tidak adil buatku, meninggalkan aku sendirian dan kalian berdua liburan enak”
“Saatnya yang mudah bekerja Davino…. Kami yang sudah tua ini, akan menghabiskan waktu santai-santai”
“Tapi bagaimana hasilnya oma, apa tidak ada kabar tentang Aresya? ini sudah bertahun-tahun,” tanya Davino dengan tatapan mata berharap dan terlihat putus asa.
“Sabar Davino pasti ada-“
“Aku sudah cukup sabar oma,” potong Davino dengan tatapan kecewa.
“Hati ini tidak tenang kalau Aresya belum ada, bagiku dia wanita yang tergantikan oleh siapapun,” ucap Davino tanpa memperdulikan Tiara yang melihatnya dengan tatapan kecewa.
“Bersabarlah Davino, kita pasti akan mendapatkanya,” ucap Ny. Marisa menatap Davino dengan hangat mengusap pungung tangan cucunya dengan lembut.
“Baiklah,tadi mendengar Oma datang aku berpikir akan mendengar kabar baik, tapi iya sudahlah… aku akan berangkat kekantor” Davino berdiri dengan wajah yang amat kecewa, tadinya ia berharap kalau Aresya ada bersama omanya, setidaknya omanya tahu tentang kabarnya Aresya . Namun , kali ini ia kembali menelan kekewaan.
Davino meninggalkan omahnya dengan langkah tidak bersemangat, jelas sekali ia sangat kecewa di suruh menunggu hal yang tidak mudah, mungkin kalau hanya Aresya yang menghilang, semua keluarga tidak akan sesedih ini, namun ada calon anaknya yang tidak tahu kabarnya. Apakah ia masih hidup apa sudah mati.
“Bersabarlah Vin semua kan baik-baik saja,” ucap Ny. Marisa, wanita itu hanya menatap punggung Davino yang semakin jauh meninggalkannya dan menghilang masuk ke kerumah.
*
Saat bediri di pantulan kaca dengan wajah muram tidak bersemanagt, tetapi, tiba-tiba Tiara membuka kopernya menyusun pakainnya kedalam koper.
__ADS_1
“Aku ingin pergi”
Davino membalikkan tubuhnya, menatap wanita yang sedang menyusun pakaianya, mendengar itu tidak membuatnya kaget ataupun sedih wajahnya tetap datar.
“Mau kemana?” tanya Davino menatapnya dengan tatapan tanpa makna dan tanpa cinta sedikitpun.
“Aku akan pergi dari rumah ini, aku akan pergi dari hidupmu”
“Kenapa?”
“Aku tidak ada artinya bagimu, apa kamu tidak pernah mencintaiku sedikitpun? Apa hanya wanita itu yang kamu inginkan? apa ia wanita yang sangat cantik? Kenapa ia sangat berarti untuk kamu”
“Namanya Aresya, maafkan, kalau aku belum bisa membahagiakan kamu, terus terang aku hanya mencintai Aresya, aku berharap ia masih hidup dan baik-baik saja.”
“Iya, terus bagaimana dengan aku, apa aku tidak ada artinya sedikitpun?”
Davino hanya diam ia tidak ingin berbohong pada Tiara, ia dari dulu memang tidak mencintai wanita itu, baginya Tiara cukup hanya melayani di ranjang sebagai lelaki ia masih membutuhkan kehangatan.
“Kamu istriku,cukup hanya itu”
“Iya tidak lebih dari itu, kalau kamu ingin meminta lebih dari itu, maaf aku tidak bisa memberikanya”
“Baiklah sekarang aku paham, aku hanya cukup tahu kalau tugasku hanya memuaskanmu”
“Maaf hatiku hanya satu, hanya untuk dia”
“Ini sudah dua tahun tidak bisa kamu melupakannya dan berpaling untukku” ucap Tiara menatapnya dengan tatapan mata berkaca-kaca.
“Jangan meminta yang tidak bisa aku berikan, jika kamu ingin pergi mencari kebahagianmu, pergilah aku tidak akan menghalangimu”
Tiara meremas jari-jari tangannya, ia pikir usahanya selama ini sudah bisa mendapatkan hati Davino tetapi apa yang ia pikirkan salah, hati lelaki itu tidaklah mudah mendapatkan hati Davino .
“Baiklah aku akan pergi seperti yang kamu minta, dua tahun sudah cukup untukku melakukan apa yang bisa aku lakukan. Namun , tidak berhasil aku menyerah, kamu benar, kebahagianku mungkin tidak bersamamu, terimakasih dua kebersamaan kita,”ucap Tiara mengulurkan tangannya menyalam Davino.
__ADS_1
Ia menyerah saat ia tidak dapat perhatian Davino.
“Baiklah semoga kamu mendapatkan kebahagian akmu,” ucap Davino tidak sedikitpun melarangnya untuk pergi, ia tidak meminta untuk tinggal bersamanya.
Melihat sikap Davino yang tidak melarangnya dan tidak memintanya untuk tinggal ia semakin yakin untuk pergi.
‘Untuk apa bertahan kalau ia tidak pernah mengangapku sebagai seorang istri, kalau hanya ingin menghangatkannya, ia bisa menyewa wanita bayaran, tidak perlu harus aku’ ucap Tiara.
Ia mengepak semua barangnya, tidak banyak yang ia bawa ia bukan tipe yang ribet yang suka dengan barang-barang mewah ia wanita yang simpel.
Saat ia ingin pergi Davino memberinya kunci mobil, memberikan satu rumah untuk wanita itu, Namun, Taiara bukanlah wanita yang seperti itu,ia juga tidak banyak menuntut tentang harta.
Di beri satu rumah dan satu tempat usaha ia sudah sangat senanng.
“Ini ambillah kalau kamu tidak mau kunci mobil lamaku’
“Tidak, aku tidak butuh semua itu, cukup kamu beri aku rumah untuk aku tidur dan berikan aku usaha untuk aku bisa bertahan hidup,” ucap Tiara.
“Baiklah, aku akan memberikan semua yang kamu butuhkan katakan apa yang kamu inginkan, nanti pengacara saya akan mengurus semuanya.” ucapDavino masih menatapnya.
“Sudah cukup, ini saja.” Tiara melangkah keluar dan pamit pada Ny. Marisa.
Sama halnya dengan Davino Ny Marisa tidak melarangnya, wanita tua itu berpikir kebahagiannya bukanlah di rumahnya, ia tahuTiara tidak akan bisa mendapatkan keturunan, maka itu ia melepaskan Tiara.
“Baiklah aku tidak ingin memaksamu, Nak Tiara untuk bertahan dengan Davino aku tahu lelaki itu orang yang keras kepala, tidak banyak orang yang sanggup berdiri di sampingnya, katakan apa kamu butuhkan Nak, saya akan memberikan semua yang kamu butuhkan.”
‘Kenapa di pikiran mereka semua hanya uang dan uang, tidak cucu tidak neneknya, tidak bisakah mereka bertanya kenapa aku pergi, tidak bisa mereka manahanku dan bilang, kalau mereka membutuhkanku? Tiara semakin merasa sangat sedih karena tidak satupun yang mengingkannya untuk tinggal di rumah itu.
“Tidak Oma, saya tidak butuh apa-apa, saya akan pergi , terimakasih”
“Baiklah hati-hati nanti pengacara yanga akan mengurus perceraianmu dan Davino.”
Tiara melangkahkan kakinya menahan air mata yang hampir tumpah, awan gelap di dalam matanya sudah ingin tumpah ke bumi.
__ADS_1
Bersambung