Aresya

Aresya
Melayani Suami


__ADS_3

Lelaki berwajah tampan itu memegang kembali dagu Aresya mendaratkan bibirnya denga lembut dan lidahnya masuk ke semakin dalam mengelitik bagian rongga mulut Aresya, ia masih diam membiarkan suaminya bermain sendiri namun Davino tidak ingin bermain sendiri.


Ia mengerakkan tangannya menyelinap ke kemeja Aresya menyentuh dua benda lembut milik istrinya, tubuh Aresya menegang hingga akhirnya menutup mata dan menerima sentuhan bibir Davino.


“Kamu akan menyakitinya nanti”


“Jangan khawatir sayang , aku tidak akan menyakiti anak kita”


Aresya  pasrah … ia juga menerimanya dan melakukannya dengan lembut, ia membalas bibir Davino dengan lembut seakan bibir itu benda berharga yang diperlakukan dengan hati-hati, tangannya bergerak mengusap kepala bagian belakang Davino, memberi pijatan di bagian leher.


Davino yang biasa melakukanya dengan sikap hati-hati pada pasangannya, namun bersama Aresya seakan ia yang dikendalikan. Ia mengikuti irama yang diciptakan Aresya lembut dan saling menikmati.


Tubuh Aresya dengan sendirinya merosot dari pegangan sofa dan bebaring di sofa, bibir Davino menjalar ke bagian leher dan mendarat di dada Aresya, angin sepoi dari balkon menyapu dengam lembut, seakan bernari senang melihat pasangan suami istri  yang sedang dimabuk asmara itu.


Tubuh Aresya terangkat keatas dan dada membusung menegak. Saat Davino menjelajahi bagian kenyal dari tubuh Aresya dan mengusap perutnya yang bucit, melihat perut besar itu, Davino menikmati sensasi yang baru .


Aresya bernafas terputus-putus saat Davino mengigitnya ujung bukit indah milknya  dan mencekram bagian satu lagi,


Tubuh Aresya bergerak tidak beraturan, karena sentuhan yang diberikan Davino.


Tidak mau menunggu lama. Davino kembali mengalihkan perhatian Aresya menyibukkannya denga bibirnya, melakukanya dengan nikmat saat Aresya sibuk dengan membalas permainan bibir suaminya, tangan Davino sudah melepaskan kemeja dan pengaman bagian dada yang dipakai Aresya.


Ia tidak mau memberikan wanita itu kesempatan untuk berpikir dan tidak ingin memberikannya jedah, ia yakin kalau Aresya sadar bagian tubuhnya sudah polos, ia akan panik dan menarik sesuatu untuk menutupi tubunya.


Namun dengan membuatnya sibuk dengan kissing, pikiranya teralihkan hanya menikmati, permainan panas yang di berikan Davino, ia juga menarikkan kemeja yang ia kenakan hingga kancingnya terlepas.


Kini bagian atas tubuh mereka bedua sudah, sudah sama-masa tidak memakai pakaian.


Nafas Aresya mengebuh mengimbangi permainan bibir dari Davino.


Aresya mengeluarkan napas panjang. Saat Davino mengebu dan ciumannya, semakin panas, ia menangalkan celana jeans yang dipakai Aresya.


Tidak menghiraukannya atau ia tidak menyadarinya kini tubuh mulus itu hanya tertutup satu kain yang menutup bagian sensitipnya, Walau Arsya terbuai dengan  sentuhan Davino, namun, Davino masih dalam tingkat kesadaran penuh, ia membuka mata lebar dan melihat perut Aresya


Tubuh yang indah yang dihiasi tato kecil di bagian perut bawahnya.


‘Kamu sangat cantik Aresya, bagaimana aku bisa melupakan tubuh ini?ini milikku apa yang kamu miliki semua hakku’ucap Davino menutup matanya mengarahkan bibirnya ke bagian leher dan menikmati setiap inci dari tubuh Aresya,


‘Kamu akan mengingat tanda-tanda cinta ini Aresya hingga kamu tidak punya alasan untuk menolakku’ ucap davino dalam hati.


Meninggalkan banyak tanda merah di leher dan di bagian dada Aresya.

__ADS_1


Hingga ia bibir itu turun dan menyusuri bagian perut dan ia menyusuri semakin lama hingga ia berhenti di titik inti.


Aresya terhenyak, seakan ia terbangun dari mimpi panjanya dan ia membuka mata.


“Davino apa kamu yakin dia tidak apa-apa?,” tangannya menutup bagian dadanya dengan wajah merah.


“Tidak apa-apa , aku suamimu, kita ini pasangan halal, kenapa harus gugup, toh juga ini bukan pertama untuk kita melakukannya”


“Bukan itu … maksudku bayi ini”


“Tidak apa-apa dia  sudah aman, kamu juga membutuhkan sentuhan seperti ini”


“Tetap saja aku malu”


Davino mendaratkan bibirnya ke kening Aresya dan turun ke bibir Aresya tidak ingin bertambah malu. Mengendong tubuh Aresya ke ranjang di kamar mengunci pintu.


“Sudah, kamu tidak malu lagi kan?” tanya Davino mengarahkan wajahnya lebih deka mendaratkan bibirnya ke  bibir itu kembali dan ia mengunakan tangannya melepaskan celananya.


Tangan Aresya perlahan mengendor dan akhirnya melepaskan tangannya dari dadanya, ia melingkarkan tangannya di leher Davino.


‘ Baiklah saat itu, kita melakukannya untuk melepaskan kutukan itu, dari tubuhku dan aku berterimaksih untuk itu, kali ini, aku melakukanya sebagai kewajibanku sebagai istrimu, karena kamu yang meminta, tidak ada yang salah, karena kita pasangan suami istri, aku berhara ucap Aresya menutup matanya.


Davino sudah benar-benar menikmatinya , kalau tadi ia membuka matanya menjaga perasaan Aresya, maka kali ini, ia sangat menikmatinya tubuhnya menuntutnya, untuk melakukan lebih.


Suara keluar dari mulut Davino, karena Aresya membalasnya dengan mendaratkan bibirnya di dadanya dan mengelitik bagian belakang kupingnya, ia tidak mau ketinggalan. Davino menggerakkan tangannya menyusuri pangkal kaki Aresya mengusapnya dengan lembut,


Dengan perlahan ia menangalkan kain berwarna hitam yang berbentuk segitiga itu, menariknya hingga lepas, hingga Aresya terlihat seperti boneka besar yang tergolek di atas ranjang.


Matanya masih tetap menutup, keringat sudah menyusuri tubuh mereka berdua, tangan Davino dengan gerakan lembut mengusap lembut perut  Aresya, perlahan namum pasti, mengusapnya dengan gerakan naik turun ia belum melepaskan pangutan bibirnya, lembut  tetapi  semakin.


 memanas itu.


Hingga akhirnya tangannya membuka kedua kaki itu, memposisikan tubuh wanita hamil itu dengan posisi nyaman, mata Aresya terbuka, menatap Davino dengan tatapan sayu seakan meminta untuk melanjutkan serangan terahirnya.


“Aku akan memasukkannya, apa kamu siap?” tanya Davino.


Dengan dada naik turun dengan napas panjang pendek. Aresya hanya diam dengan wajah takut-takut, namun, mau.


“Lakukan dengan hati-hati,” ucap Aresya dengan mengigit bibir bawahnya


“Jangan takut, asa sakit itu sudah lewat, saat pertama kita melakukanya,” ucap Davino mencoba menenangkan Aresya.

__ADS_1


“Baiklah,” ucap Aresya menahan napas, lalu melepaskanya dengan perlahan.


 Davino menyentuh  bagian inti aresya dengan jari-jarinya, ia mencoba memasukkanya dengan dua jari, mencari pintu untuk masuk. Pinggul Aresya terangkat dengan tubuh menegang.


Dengan hati-hati Davino memegang batang dan memasukkannya, dengan perlahan ia mendorong dengan hati-hati,


Tap ….!


Aresya takut, dengan mata melotot. kedua tangannya menarik seprai.


“Percayalah, tidak akan sakit lagi”


Aresya menganguk, Davino medorong tubuhnya lagi hingga mereka berdua berhasil menyatukan tubuhnya.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)

__ADS_1


__ADS_2