
Saat Davino marah-marah tidak jelas, Aresya meninggalkannya.
“Kamu mau kemana, aku belum selesai bicara” bentak Davino.
“Setiap kata-kata yang keluar dari mulut bapak, pasti mengandung racun membuat orang sakit hati, jangan bicara denganku lagi” ucap Aresya mempercepat langkah kakinya.
Davino menarik tangan Aresya dengan paksa menyeretnya ke kapal milik Davino.
“Pak, Davino tolong jangan kasar sama Non Aresya itu berbahaya,” ujar Adi gugup, ia meliht ke arah perut Aresya, tetapi Aresya mengeleng.
“Memang kamu siapa? Suaminya? Bapaknya?” Bentak Davino dengan kasar.
Aresya tidak ingin ada keributan, jadi ia menurut namun dalam hatinya ingin rasanya ia melempar lelaki sombong ini kelaut jadi makanan ikan hiu.
“Dengar Aresya, dari kemarin aku sudah cukup sabar dengan sikapmu, jadi, sekarang aku ingin menjelaskan padamu, barang kali kamu lupa, aku … adalah suami,” ucap Davino menatapnya dengan tajam.
Seperti biasa Aresya hanya diam, baginya apa yang keluar dari mulut Davino, ia anggap hanya mualan semata.
‘Apa sekarang kamu sudah menganggapku sebagai manusia? Bukankah sebelumnya, kamu memperlakukanku dengan buruk, aku belum memaafkan dirimu, Davino Erlangga, aku membencimu’ ucap Aresya dalam hati ia mengalihkan matanya ke jendela kaca dari kamar Davino.
“Sudah? Boleh aku pergi sekarang?” tanya Aresya dengan tatapan dingin.
“Kamu harus di sini bersamaku, menemaniku, karena kamu harus menemaniku minum,” ucap Davino.
“Maaf, aku tidak mau,” ucap Aresya menarik pintu ia keluar.
“Hei!” Davino mengejarnya, Aresya mempercepat langkahnya dan ia masuk ke kamar Ny. Marisa .
Ia menguncinya dan ia berbaring di sebelah Ny Marisa.
**
Saat Aresya bangun, kapal sudah bersandar di tepi pantai, di dermaga kapal milik keluarga Erlangga di sebelahnya ada kapal Davino yang ikut berlabuh juga.
Matahari masih mengintip malu-malu dari ufuk timur, Resya bangun, mengenakan jaket tebal, ia turun dari kapal menyusuri tepi pantai.
berjalan santai, menikmati angin pagi di tepi pantai, tapi saat ia berjalan, ternyata bukan hanya ia yang sudah bangun, ada Davino yang berjalan di tepi pantai melepaskan sepatu yang ia pakai menenteng sepatun dan membiarkan kakinya menginjak hamparan pasir di tepi pantai, sama seperti yang di lakukan Aresya menenteng sandal miliknya.
‘Ais … apa yang di lakukan lelaki sombong itu di sini menganggu saja, aku balik badan, apa terus ucap Aresya dalam hati’ kini ia dalam dua pilihan, maju apa harus mundur?
“ Mundur saja, bertemu dengannya akan menjadikan hari-hariku semakin runyam” ucap Aresya..
__ADS_1
Ia berbalik badan, “Sampai kapan kamu menghindariku?” tanya Davino meneriakinya.
Aresya diam, dalam hatinya ia menyahut’ selamanya aku akan menghindarimu kalau bisa ‘ ucap aresya
Berbalik badan, berjalan menyusuri pantai kearah berlawanan, tapi saat ia berjalan ke depan ada Adi, Devan dan anak-anak yang lain sedang bermain bola pantai.
“Aresya sudah bangun sini duduk” Adi dan Depan dua sosok laki-laki idaman para wanita, mereka berdua tersenyum padanya.
Melihat suara riuh Davino terpancing juga, ia ikut menonton pertandingan.
Wanita ini, apa ia senang memamerkan tubuhnya pada orang lain, menyebalkan, ucap Davino matanya sinis melihat Aresya yang melepaskan jaket dan duduk berjemur, menggunakan pakain minim celana hotpants dan dengan atasan hanya menggunakan pakain yang menutup bagian dadanya.
Tato di punggung Aresya menarik perhatian Davino itu tato milik keluarganya, ia juga memilikinya dan hanya keluarga Davino yang mengunakan tanda khusus itu.
“Kenapa dia mengunakan itu?” tanya Davino pelan menatap dengan serius punggung Aresya , baru kali ini ia memperhatikan dengan goretan di tubuh Aresya.
Aresya tertawa lepas dan bersikap ramah pada Adi dan Devan, tapi tidak untuk Davino, bagi Aresya lelaki itu anak iblis yang harus di jauhkan, rasa sakit hati Aresya belum sembuh dari Davino.
Matahari sudah datang dengan gagahnya bahkan panas teriknya seakan membakar kulit, tapi permainan bola pantai antara team Adi dan Lilis belum berahir malah semakin memanas, Lilis bukan wanita yang gampang dikalahkan baik ia wanita yang tangguh, saat Devan dan Riko kelelahan dan istirahat, tidak untuk lilis mereka masih berlanjut.
“Pak Adi mengaku kalah saja, saya jago dalam permainan Voli pantai ,” ucap lilis dengan percaya diri.
“Aku juga demikian Ibu Lilis, aku bukan orang yang mudah dikalahkan,” ucap Adi kini tinggal mereka berdua yang saling berusaha saling mengalahkan.
“Sampai kapan mereka terus saling mengadu kuat? Tapi seandainya Aresya ikut, aku akan mendukung Aresya, dia wanita yang sangat cantik, baik, ramah, tidak sombong,” Kiki memujinya berlebihan di depan Davino, ia sengaja agar kuping lelaki itu panas.
Davino meninggalkan Aresya, ia kembali ke kapal, ia lebih baik memancing daripada mendengar teman-temannya senagaja memanas-manasinya.
*
Adidan Lilis menyudahi pertandingan, karena panas matahari semakin membakar kulit, kini tinggal aresya dan lilis, hanya mereka berdua lagi duduk bersantai.
“Non, Pak Davino sepertinya ingin bicara dengan Non, apa tidak sebaiknya di tanggapin”
“Tidak akan, aku tidak akan pernah berbaikan dengan lelaki sombong seperti dia”
“Tap dia ayak anak itu”
“Iya, aku mau karena itulah tujuan utamaku datang ke keluarga ini, aku berharap bayi sehat sampai lahir, tanpa harus melihat dan bersentuhan dengan lelaki jahat itu”
“Apa Non Aresya sangat membenci Pak Davino?” tanya Lilis penasaran.
__ADS_1
“Sangat, apa yang di lalukan padaku aku tidak bisa memaafkannya,”
ucap Aresya dengan tatapan matah kosong, jelas sekali apa yang dilakukan Davino padanya sangat melukai harga dirinya.
Setelah puas bersenang-senang di kapal, Ny. Marisa mengajak mereka pulang ke rumah, teman-teman Davino juga sudah pada pulang kerumah masing-masing, Ny. Marisa dan rombongan kembali ke villa termasuk Davino.
Aresya baru saja melepaskan jaket yang ia gunakan dan ia keluar dari kamar.
“Boleh kita bicara ?” suara Davino mengagetkannya Aresya.
“Tida, aku ada urusan mendadak dengan Adi”
“Apa dia lebih penting dari pada, suamimu?”
Aresyah, tidak menghiraukan protes dari Davino. “Maaf aku tidak bisa, nanti saja,” ucap Aresya, selalu bersikap dingin dan acuh pada Davino, ia meninggalkan Davino,
‘Aku sudah bersumpah pada diriku kalau aku tidak akan memaafkan penghinaan dan sikapmu yang merendahkanku, bagiku kamu hanya suami di atas kertas, tidak lebih, ucap Aresya ia masuk ke dalam mobil dan meningalkan Davino.
Apakah Davino sudah punya rasa cointa pada istrinya?
bersambung ….
Baca terus kisahnya ya.
Bersambung
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasih untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (on going)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)