
Saat ini Davino merasa gembira, karena ia pikir akhirnya Aresya dalam gengamannya, ia melakukan semua untuk menarik perhatian Aresya.
Setelah mandi berdua. Davino belajar dari Bu Darma bagaimana cara menyeduh susu untuk diminum Aresya, sebelum tidur.
“Aku akan jadi pelayanmu selama kamu mengandung anakku, aku juga akan memanjakanmu dengan caraku,” ucap Davino dengan angkuh.
“Aku tidak suka manja, aku tidak pernah manja”
“Kamu akan ketagihan dengan caraku ,” ucap Davino lagi
Aresya hanya mendegus kecil melihat kelakuan Davino, ia yakin Davino tidak akan bertahan dengan sikapnya.
*
Satu minggu berlalu Davino masih bertahan dengan sikap Aresya yang tidak pernah menerimanya, tidak membuka diri untuknya, Aresya jarang bicara ia mengangap Davino hanya sebatas bos baginya bukanlah sebagai suami.
“Sya, apa kamu tidak bisa memperlakukanku sebagai seorang suami untukmu?” tanya Davino menghelana napas.
Tadinya ia berpikir kalau ia sudah menekannya dengan cara memotong uang dari yang sudah di janjikan ia pikir Aresya akan sedikit berubah. Namun, karena hal itu, ia bersikap seperti robot akan menjawap sekedarnya, kalau ia bertanya.
Kalau Davino tidak membuka obrolan seharian juga Aresya bisa diam.
“Aku nyaman seperti ini, jangan mengangapku, seorang istri bagimu, tetapi, kamu harus mengangapku hanya wanita asing yang akan melahirkan anak untukmu, itu akan lebih baik dari pada kamu mengharapkan yang tidak mungkin aku lakukan”
“Apa salahnya kamu membuka hatimu untukku Sya, aku hanya ingin mencintaimu”
“Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya ingin mengendalikanku, kamu juga tidak perlu melakukanya, cukup mencintai anak yang aku kandung itu sudah cukup bagiku, toh, juga setelah melahirkan aku akan meninggalkan keluarga ini,” ucap Aresya dengan suara datar.
Padahal Davino sudah melakukan segalanya untuk mengambil perhatian Aresya, ia berharap apa yang ia lakukan dapat membuat Aresya terkesan. Namun semuanya seakan-akan tidak ada artinya, tidak terpengaruh pada Aresya, ia benar-benar wanita keras kepala semua perhatian yang di berikan Davino padanya sedikitpun tidak berarti.
__ADS_1
“Apa untuk mencintai harus begitu sulit?”
“Jika sulit jangan lakukan, aku juga tidak membutuhkannya, jika kamu butuh seseorang untuk temanmu berbagi cerita dan berbagi kehangatan aku menyarankan, agar kamu menikah dan mencari wanita yang tepat”
“Apa kamu harus mengatakan itu sampai berulang-ulang? bagiku mencari wanita yang secantik artis Luna Maya juga gampanag Aresya, aku hanya ingin mencintai ibu dari anakku, apa itu berlebihan?”
“Bagimu tidak berlebihan, tetapi, bagiku itu sesuatunyang dibesar-besarkan, sekarang dan nanti apa bedanya, kamu juga nanti tetap juga akan mencari wanita untuk ibu anak ini, aku tidak ingin jadi ibunya, cukup bagiku hanya melahirkanya”
Mata Davino melotot kaget mendengar kalimat penolakan itu dari Aresya.
“Iya, ampun apa sebenci itu kamu padaku Aresya, bahkan anakku yang kamu kandung juga tidak kamu inginkan, kamu ibunya, kamu tidak akan memungkiriny, dia punya batin kamu sudah menolaknya sebelum kamu lahirkan ke dunia ini”
“Aku tidak menolaknya Davino, dia milik keluargamu dan aku tidak berhak untuk itu, aku orang yang menepati janji”
“Iya aku tahu. Kamu hanya orang yang tepat janji, bukan hanya tepat janji, kamu juga orang yang kejam tidak berperasaan, aku baru melihat ada wanita batu seperti kamu,” ucap Davino meninggalkan Aresya,
‘Ya, pergilah, menjauh dari hidupku bila perlu tinggalkan aku sampai aku melahirkan, aku juga akan meninggalkan rumah ini dan semua ini, aku hanya ingin berkumpul dengan keluargaku’ ucap Aresya dalam hati.
Namun semakin ia raih dan semakin ia genggam ia merasa wanita itu semakin menjauh dan sikapnya semaki dingin padanya.
“Apa yang bapak pikirkan?” tanya Bu Darma membawakan segelas kopi dan cemilan meletakkan di atas meja, Davino duduk di dekat kolam renang.
“Dia wanita yang keras kepala Bi, aku tidak berdaya dibuatnya, aku sudah melakukan semua yang bisa aku lakukan,” ucap Davino, ia curhat pada wanita yang sudah puluhan tahun bekerja pada keluarga itu.
“Jangan menyerah Pak, dengan bapak menyerah itulah yang diinginkanya, dia ingin bapak pergi dari rumah ini dan pergi dari kehidupanya.”
“Aku sudah kehabisan cara Bi, tidak tahu harus berbuat apa lagi, ini sudah beberapa minggu, aku berada di sini hanya menjaganya, bahkan aku rela aku kerja di pabrik, agar aku bisa pulang cepat dan menjaganya namun , apa yang aku dapatkan, dia malah semakin menjauh dan sangat membenciku, dia terus-terusan menolakku, Bi”
Bu Darma sudah mengenal watak keras dari Aresya dan sikapnya akan dingin, jika ia tidak menyukai seseorang, ia memberi nasihat untuk Davino bagaimana caranya menghadapi Aresya.
__ADS_1
*
Saat ingin berangkat ke kantor Davino sengaja bangun lebih awal, meletakkan susu untuk Aresya di atas nakas, cara kali ini berbeda dari yang ia lakukan biasa.
Davino berangkat ke kantor tidak membangunkan Aresya juga mendiamkannya, membiarkan wanita itu melakukan apa yang ia mau.
Saat pulang juga ia makan sendiri dan tidak mengatakn apa-apa untuk Aresya, ia mengikut yang di sarankan Bu Darma padanya.
Dalam kamar hanya suara televisi yang terdengar Aresya memilih menonton flim kartun dari Negeri Sakura, sesekali ia tersenyum kecil mengikuti alur cerita dari flim kartun yang ia tonton.
‘Sampai kapan aku bisa bertahan dalam diam seperti ini, lama-lama bisa gila aku’ ucap Davino sungguh membenci sauasana diam-diaman seperti ini. Namun ia akan mencoba bertahan sedikit lagi, kalau Aresya akan mendiamkannya sampai pagi, maka ia akan mengambil keputusan untuk pergi dan meyerahkan semuanya pada omanya.
Karena sudah satu bulan ia tinggal bersama Aresya, tapi keberadaanya tidak pernah dianggap diacuhkan bahkan dibenci.
Tanganya memegang sebuah buku bacaan, tetapi pikiran Davino melayang jauh ke angkasa memikirkan banyak hal tentang Aresya, matanya menatap kosong kearah jendela, melihat bintang langit yang indah.
‘Mami aku butuh bantuanmu’ Davino memohon dalam hati. Ia menutup mata.
“Aku ingin makan nasi goreng” ucap Aresya namun Davino masih menutup matanya seakan tidak yakin dengan pedengarannya. “ Beli aku nasi goreng” Aresya menyentuh tangan Davino
Lelaki itu terkejut, ia terlalu lama melamun. “Ha… kamu bicara dengan, aku?”
“Iya aku bicara dengan kamu, masa ama tembok” ucap Aresya.
“Iya aku pik-“
“Haa , aduh… aduh, sakit.”
Aresya memegang perut yang bucit. “Sya, kenapa ….?” Tanya Davino memapah tubuhnya ke tempat tidur.
__ADS_1
“Perutku sakit” wajah Davino ketakutan, degan cepat ia menelepon dokter yang biasa merawat Aresya dokter pribadi keluarganya yang di tempatkan khusus di rumah itu untuk menjaga kesehatan Aresya.
Bersambung