
Saat Tiara meninggalkannya, sebenarnya ia merasa sedih, biar bagaimanapun, wanita itu selalu bersamanya menemaninya, memberinya perhatian layaknya seorang istri, walau ia tidak terlalu menyukai perhatian dari Tiara.
Namun, ia tidak berani untuk menahan wanita itu agar tetap di sampingnya, ia merasa terlalu egois, memiliki kelebihan membuatnya berbeda dengan orang-orang pada umunya, jika ia menahan wanita itu agar tetap di sisinya itu wanita itu akan tua bersamanya tanpa mendapatkan anak.
Kalau wanita itu menikah dengan pria lain, ia akan mendapatkan keturunan.
“Aresya kamu di mana, apa kamu masih hidup atau sudah mati? tolong beri aku petunjuk,” ucap Davino menatap kearah jalanan, ia berdiri di jendela kantornya.
Kini harinya semakin suram karena tidak ada lagi Tiara di sampingnya, ia kembali menyibukkan dirinya di kantor.Kerja kerasnya membuahkan hasil, karena kerja keranya perusahaan mendapatkan keutungan meningkat tiap tahunnya.
Ny. Marisa mengakui kinerja Davino, wanita itu tidak pernah ikut campur lagi dalam urusan perusahaan, ia menyerahkan sepenuhnya pada Davino, ia mendaptkan hari-hari yang ia impikan. Dimana tidak ada yang mengusik ketenangan keluarganya tidak ada yang menganggu perusahaan dengan begitu ia bisa beristirahat di masa tuanya.
*
Seminggu sejak Tiara memilih berpisah dan meninggalkan keluarga Davino, hari itu, satu lagi wanitanya memilih mundur dari hidup Davino.
Sempat bertahan dalam ketidak pastian, akhirnya Kirana memilih menyerah, ia melayangkan gugutan cerai pada Davino ia memilih tidak mendapatkan apa-apa sesuai kesepakatan tertulis yang mereka tanda tangani.
“Baiklah, pergilah kalian semua menghilang dari hidupku itu akan lebih baik,” ucap Davino menatap dengan nanar dokumen perceraiannya dengan Kirana.
Sebelum berpisah Kirana memintanya untuk bertemu ia menolaknya, Davino tidak mau goyah, semua masalah perceraianya di urus sama pengacaranya sampai tuntas, tidak sulit mengurus perceraian mereka berdua. Kirana tidak menuntut apa-apa darinya, hanya satu ingin bertemu. Namun, itu pun ia menolaknya tidak menurutinya, bercerai apa belum, ia masih tetap membenci Kirana.
Akhirnya ketiga wanita yang menjadi istrinya pergi meninggalkannya, Saat ini Davino lelaki tanpa ada wanita bersamanya, ia tinggal sendirian saat ini.
*
Satu setengah tahun berlalu, itu artinya Aresya tiga tahun lebih sudah menghilang tanpa kabar.
Davino, masih dalam kesendirianya, menanti Aresya masih berharap wanita itu datang. Davino duduk membaca sebuah buku, menikmati hari libur di rumah.
__ADS_1
Davino duduk di kursi di dekat kolam renang, mengangkat kakinya di antara dua kursi menyadarkan kepalanya di sandaran kayu jati berwarna coklat itu, matanya lelah karena terlalu lama membaca buku.
Ia menutup mata, menikmati angin sepoi-sepoi yang seakan-akan menina bobokanya.
“Non Aresya, iya ampun” teriak seorang asisten rumah tangga.
Davino tersenyum kecil, mendengar suara-suara sumbang yang seakan berdendang samar dalam kupingnya.
‘Aku terlalu merindukannya, bahkan sering terbawa mimpi’ gumam Davino
“Iya ampun, tampannya cucuku” ucap Papi Davino.
“Eh mirip Davino,” ucap Nyonya Marisa tertawa.
“Eh, Non Aresya sudah pulang” suara itu semakin nyata.
Davino terbangun, ia sadar suara-suara yang menyebut nama Aresya bukan dalam mimpi.
Davino masih berdiri mematung antara tidak percaya dan percaya, ia mencubit lengannya, “Ah sakit” ucapnya parau.
“Davino!” teriak papinya menatapnya dengan tatapan mata berbinar.
“A-a-Aresyaa?” Davino mematung tidak percaya.
“Pak ada No Aresya,” ucap seorang anak buahnya.
“Pak Davino, panggil wanita paruh baya orang yang ikut menghilang dengan Aresya.
“Bu Darma?”
__ADS_1
Mata Davino melotot tidak percaya, ia seakaan-akan terbangun dari mimpi panjang, ia berlari ke rumah di manaAresya sudah masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu.
“Aresya,” panggil Davino memeluk tubuh Aresya, tidak prduli tatapan mata semua keluarga dan tatapan papi dan omanya padanya, ia sangat merindukan wanita itu, merindukan ibu dari anaknya, tangannya memeluk erat tubuh Aresya, ia hanya diam tanpa membalas pelukan Davino.
“Davino ini anak kamu, namanya Arkan,” ucap Papi memeluknya dengan tawa bahagia bahkan sangat bahagia, kebahagian keluarga Davino untuk pertama kalinya, ia tidak ingin merusaknya.
Aresya hanya diam, ia terlihat lebih kurus dan sesekali tersenyum cangung dan ia menunduk lagi.
“Iya ampun Vin, papi punya cucu, kamu punya anak, papi akan betah di rumah dengan adanya Arkan di sini,” ucap Papinya masih terus saja memeluk bocah tiga tahun itu. Baby Arkan hanya menatap bigung dan mengulurkan tanganya pada Aresya.
“Mami … !” panggilnya dengan tangisan ia bigung karena tiba-tiba semua orang berebut mengendong bocah berwajah tampan itu.
Hidungnya mancung dan kulitnya sangat putih dan manik matanya berwarna coklat cerah seperti Aresya.
Wajahnya perpaduan antara Davino dan Aresya lelaki yang tampan.
“Kamu tidak mau mengendong Vin, kamu tidak ingin mengendong anakmu?” tanya pak Sutomo.
“Nanti menangis Pi aku tidak pintar membujuk anak yang sedang menangis,” kilah Davino , tetapi wajahnya terlihat menegang, seakan-akan banyak yang ingin ia utarakan. Namun, ia tidak mau merusak suasana bahagia itu, matanya tidak terlepas dari anaknya Arkan, tidak diduga Davino meneteskan air mata melihat Arkan sudah berumur tiga tahun, padahal setiap malam ia melamun, ingin berkumpul dengan keluarganya. Ada Arkan membuat semua keluarganya tiba-tiba heboh, omahnya tertawa lepas, melihat Arkan yang sudah mulai mau bermain, menjawab semua pertanyaan mereka dengan jelas.
Papinya yang mengeluarkan semua energi dan kekuatanya untuk bermain dengan bocah yang terlihat lincah itu. Bocah yang sangat aktip dan larinya sangat cepat.
‘Jika aku dan Aresya memiliki kelebihan memiliki kekuatan, Aresya bisa mengangkat beban berat dan aku sendiri bisa mengendalikan lisrik, maka anak ini apa yang ia bisa?’ Davino bermonolog dalam hatinya, matanya menatap Arkan yang terus-menerus berlari tanpa merasa lelah.
“Ia akan berhenti jika ia sudah merasa lelah,” ucap Bu Darma.
“Apa itu yang dia miliki?” tanya papi menatapnya.
“Belum tahu pak, soalnya ia tidak mudah di perediksi, kadang dia lagi marah semua bisa diangkat dan dilempar,” jawab bu Darma.
__ADS_1
Jika Aresya memiliki kekuatan dan Davino juga memiliki kelebihan maka Arkan memili beberapa kelebihan, bisa mengangkat beban berat dan bisa mengendalikan pikiran orang lain.
Bersambung