Aresya

Aresya
Lelaki Pilihan Oma


__ADS_3

Liburan dalam kapal masih berlanjut, walau Aresya dan Davin sama-sama tidak ingin melihat satu sama lain, tetapi mereka memilih duduk berjauhan.


Kini,  adu nyali di mulai  lagi Lilis, Rini, Adi  akan meyelam ke dalam air tanpa peralatan renang, mereka akan mengambil  karang  ataupun rumput,  sebagai bukti.


“Satu, dua, tiga!” Seru Aresya menghitung.


NY. Marisa terlihat gelisah menonton dari atas kapal,  ia tidak ingin Aresya ikut turun lagi ke laut, ia takut kandungannya ada masalah.


‘Kamu tetaplah duduk di situ Aresya jangan ikut menyelam’ Marisa bicara dalam hati.


“Wah, lama, tidak muncul” ucap Kiki


Suasana semakin tegang  setelah sekian detik tidak ada yang muncul,


Tidak lama kemudian Lilis muncul memegang karang dalam tanganya, di susul Rini  muncul ke permukaan memegang karang kecil


“Wah mereka wanita yang berani,” ucap Kiki memuji Lilis karena pujian itu, wanita yang ikut bersama terlihat cemburu.


“Ada apa?” tanya Lilis  melihat dengan dengan bigung.


“Ririn memegang kakiku   dari tadi maka itu aku tidak menang”


Resya, tertawa lepas bahkan ia sampai mengeluarkan air mata karena tertawa, Tadinya Ririn  pikir bisa berenang tanpa alat bantu, namun saaat di tengah jalan,  tiba-tiba ia panik menarik kaki Adi memaksanya   untuk mengendongnya.


Saat semuanya sudah diam Aresya masih saja tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Adi yang memerah karena terbatuk-batuk.


“Maaf kak Adi,  tadinya aku pikir aku bisa, ternyata saat aku  turun tiba-tiba gelap,  aku panik makanya aku menarik celana kakak hingga lepas,” ucap Ririn. Aresya tertawa terpingkal-pingkal lagi  lilis menyelam melihat kebawa, ia ikut tertawa ternyata Adi kehilangan celananya,  makanya  lama ke permukaan.


Mereka semua tertawa terbahak-bahak saat menyadari kalau Adi kehilangan celana kolor miliknya karena ditarik  Ririn.


“Untung bukan anuku yang ditarik ama kamu,” ucap Adi dengan wajah merah.


 Lilis menyelam lagi mencari  celana dalam milik Adi ternyata celananya tersangkut di batu karang.


“Ini iya,”  melempar celana pada  Henro dan Henro melempar pada Rini.


“Ada apa? kenapa kalian pada tertawa?” tanya Ny.Marisa.


“Adi kehilangan kolornya Bu, dia sekarang tidak pakai kolor,” ucap Lilis tertawa.


“Sudah,  kalian naik, sudah mulai sore nanti Aresya masuk angin,” ucap Ny. Marisa.


“Sini milikku, kamu mau aku keluar tanpa celana?” ucap Adi geram.


Lilis malah melemparnya jauh ke tengah laut.” Itu ambil,” ucapnya terkekeh.


“Dasar gila” gerutu Adi marah, semua keluar dari air kecuali Adi.


“Tunggu di sini kak, biar aku yang ambil pakaian kakak,” ucap Aresya.


Saat semuanya sudah naik ke kapal Adi masih   berada dalam air, Resya naik mengambil   satu celana pendek milik Adi,  ia turun lagi memberikan celana pada Adi.

__ADS_1


“Resya mau kemana lagi?” tanya Marisa


“Sebentar oma kasih celana untuk  kak Adi,”  ucap Aresya.


Melihat keakrapan  mereka,  semua semakin bigung, Aresya terlihat sangat dekat dengan Adi yang tidak lain adalah  bodyguardnya, Marisa niatnya ingin Aresya dekat dengan Devan lelaki pilihan Marisa.


“Non  mau melihat sunset tidak, dulu kami sering melihat sunset,  saat Nyonya tinggal di sini ” kata Adi


Boleh”


“Ayo, ganti pakaianmu kita akan naik kapal motor kearah sana”


‘Itu lebih baik dari pada meliht lelaki itu di sini’ Aresya membatin.


Mereka berdua naik, tapi bukan untuk mandi, Aresya hanya memakai jaket untuk menutupi tubuhnya. Ia mendekati Marisa lalu berbisik


“Oma, aku sama  Adi mau melihat matahari tengelam dari sana,” ucap Aresyah minta izin.


“Dari sini juga bisa.”


“Dari sana lebih bagus Oma”


“Baikla hati-hati,” ucap Nyonya Marisa, ia tahu ia hanya tidak ingin bersama Davino. Ia memberi kode pada para bodyguar mengawal Aresya.


‘Kabur sana jauh,  sampai besok, tidak usah balik’ bisik Davino dalam hati.


Adi membonceh Aresya membawanya kearah timur,   membawa Aresya pada tempat yang biasa ia datangi satu tempat yang bisa melihat matahari  tengelam dengan sangat jelas.


mengikuti Aresya  dan Adi, melihat pemandangan yang sangat indah, aresya tidak lupa juga mengabadikan momen indah dengan foto.


Di dalam kapal  suasana sudah terlihat bosan, karena Aresya, Lilis dan teman-teman yang lain tidak mau  bergabung dengan mereka, seakan-akan tembok pembatas antara anak-anak orang kaya itu dengan Aresya.


“Oma mau istirahat dulu,” ucap wanita itu masuk dalam kamar,  Marisa membaringkan tubuhnya di ranjang.


Saat Ny.Marisa pergi,  Lilis, Rini, Aresya jadi bahan pembahasan teman-teman Davino.


“Salam pada Lilis,” ucap Kiki teman wanitanya lansung  marah.


“Aku sama Aresya saja, dia wanita yang paling unik menurutku, soalnya banyak lukisan seni di tubuhnya,  tapi menurutku, Bodynya Aresya  bagus dan tubuhnya sintal, aku yakin dia belum disentuh lelaki  masih utuh, aku suka dengan bodynya dan gaya seperti itu” Istrinya jadi bahan fantasi liar teman-temannya aneh, Davino tidak marah sedikitpun.


Matahari meninggalkan singgasananya, kini langit sudah mulai  gelap,  Aresya dan Adi kembali.


“ Non kata Nyonya, Non Resya mandinya pakai air hangat, saya sudah menyediakanya ,” ucap asisten rumah tangga


“Baik, Bi bentar lagi,” ucap Aresya masih duduk  bercekrama dengan Lilis da Rini,  mereka duduk di kursi bawah. Ia masih menggunakan pakaian renang.


Tiba-tiba Davino datang melemparkan handuk untuknya.


 “Apa belum cukup pamer tubuh kamu yang punya tato itu,  semua orang membicarakan kamu di sini, jadi cepatlah pakai pakaianmu, aku jijik melihatnya,” ucapnya dengan tatapan merendahkan.


‘Pak Davino, seandainya kamu tahu … di tubuh wanita yang kamu anggap menjijkkan itu ada anakmu, apa kamu masih membencinya?’ Lilis membatin.

__ADS_1


‘Apa urusanya denganmu, aku juga tidak menyangkut pautkan denganmu’ ucap Aresya dalam hati,  ia memugut handuk yang dilempar


Aresya seperti biasa, ia tidak mangatakan apa-apa, baginya  omongan dan kemarahan Davino hanya bualan yang tidak penting, ia tidak perduli sedikitpun pada suaminya.


“Apa kamu tidak mau dengar?” gertak Davino marah.


Lilis dan Rini hanya bisa menunduk takut, Aresya tidak menjawab wajahnya datar,  ia masuk kemar mandi dan beganti pakaian.


“Ada urusan apa  sama dia, kalau dia tidak suka, kenapa dia tidak balik ke kapalnya, mengangu saja,” ucap Aresya  mendumal kesal.


Ia keluar dari kamar mandi, sudah mengenakan pakain dres mini di atas lutut, memperlihatkan kaki mulusnya.


Saat ia keluar Devan ternyata menungunya ,” Eh, pak Devan ada apa” tanya Aresya ramah.


“Maaf, oma memintaku  menjagamu”


“Oh, baiklah.” Aresya tersenyum kecil.


“Aku ingin bertanya tentang pekerjaan kemarin boleh gak, Sya?”


“Tentang pekerjaan, boleh saja Pak, mari sini,” ucap Aresya meminta lelaki muda itu untuk  duduk.


“Jangan di sini, kita cari tempat yang bisa bicara berdua”


“Dimana pak? semua tempat di kapal ini ada orang”


“Kita ke sebelah , kapal Davino”


Davin mengajak Aresya duduk di atas kapal Davino ke empat orang  bodyguar mengikuti Areyah.


“Apa mereka selalu mengekorimu? Tanya Devan penasaran.


“Mereka hanya melakukan  tugas,  jangan hiraukan mereka tidak apa-apa, pak Devan,  ingin bertanya apa?” tanya Aresya saat duduk di kapal Davino.


Mata Aresya melihat setiap sudut kapal, ia mengagumi   kapal milik Davino terlihat mewah.


“Kemarin yang mengusulkan gedung kantor ditutup ide siapa?”


“Siapa lagi, tentu itu ide bu Marisa pak, apa, ada hal yang salah”


“Tidak, itu tindakan yang sangat berani menurutku, tindakan berani dan berresiko, tapi ngomong-ngomong ada hubungan apa kamu dengan Bu Marisa” tanya Devan mulai menyelidiki.


“Beliau atasan saya Pak”


“Benarkah? Tapi kenapa dia memperlakukanmu sangat berbeda dengan yang lain, bahkan kamu juga dikawal empat orang bodyguard?”


Aresya lebih suka Adi pengawalnya dari pada Devan lelaki muda yng tampan , pilihan Nyonya Marisa.


Lalu saiapa yang akan di pilih Aresya apa Adi pengawal pribadinya yang baik? Atau Devan pria tampan pilihan oma Marisa, apa dia bertahan pada suaminya, lelaki yang paling dia benci di muka bumi ini?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2