
Aresya menceritakan semua rahasia hidupnya pada Davino.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku, kalau semua itu kamu lakukan demi keluargamu, kanapa kamu selama ini membiarkanku salah paham padamu Aresya”
“Saat itu, aku hanya ingin adekku selamat, tidak perduli dengan masalah yang lain,” ucap Aresya.
“Apa kamu ingin menemaniku?” tanya Davino saat mereka dalam mobil saat perjalanan pulang dari rumah sakit.
“Kemana? Aku ingin mengajak melihat tempat pemadangan yang paling indah di Negara ini”
“Aku tipe wanita yang tidak suka hal-hal yang ramai, kalau disuruh milih antara bekerja di rumah apa di luar , aku akan memilih di rumah jauh dari orang-orang dan jauh keramaian” ucap Aresya.
“Aku juga seperti itu, tapi, kita sudah di sini kenapa kita tidak habiskan liburannya, apa kamu hanya bicara seperti itu saat bersamaku? Saat omah membawamu ke Surabaya saat itu kamu menikmatinya, saat kamu bersamanya” ucap Davino dengan tatapan sinis.
Lelaki yang ia maksud adalah Adi pengawalnya yang sangat dekat dengan Aresya.
“Siapa maksudnya? Kak Adi? dia lelaki yang baik”
“Bahkan sekarang kamu berani memujinya di depanku,” ucap Davino
“Baiklah aku mau” Aresya mengalah
Davino sengaja memilih hotel yang dekat dengan taman yang terkenal di kota itu taman kota yang indah, sebuah hotel mewah yang membentuk sebuah kapal di atas gedung, hotel mewah itu sengaja Davino pilih, tadinya ia ingin pamer dan ingin membuat Aresya kagum, namun saat ini ada rasa menyesal dalam hati Davino, namun, ia tetap melanjutkan ingin menyenangkna Aresya.
Ia membawa Aresya ke gedung atas di hotel di tempat mereka menginap , kamar Davino saat ini, di lantai paling atas , dari sana saat malam hari akan di manjakan dengan pemandangan yang luar biasa, bisa melih patung Merlion, patung singa berbadan ikan itu lambang lambang Negara Singapura dari Hotel itu juga Aresy di manjakan melihat lampu taman kota yang indah atau Gardiens Ebai.
Aresya melihat dengan kagum, ia bahkan tidak menyadari kalau Davino melihatnya sejak mereka duduk. Senyum kecil dan tatapan mata takjup terlihat dari Aresya, ia juga mengarahkan camera ponselnya untuk mengambil gambar pemangdangan, tiba-tiba tangan Davino menarik tangan Aresya mengarahkan camera ponselnya kearah mereka berdua, berfoto self.
i
Dalam satu pose Davino ia mengarahkan bibirnya dan mendarat di pipi Aresya walau awalnya ia menolak , tetapi pada akhirnya Aresya mengizinkan Davino melakukannya, biar bagaimanapun lelaki tampan itu adalah suaminya, walau hati kecil Aresya masih membenci, tetapi ia tidak ingin menambah masalah.
‘Kenapa jika wanita berubah cantik, para pria selalu ingin lengket’ Aresya membatin
__ADS_1
Davino memegang tangan Aresya mengajaknya berdiri menatap lautan dari gedung tinggi itu.
Davino sangat menikmatinya, apalagi saat bersama Aresya, sesekali Davino menatap wanita itu dengan seyuman, Aresya mengangumi keindahan malam itu.
“Aku berharap aku menikmati pe,mandangan ini dengan Adi, jika suami bisa selingkuh kenapa istri tidak?’ Aresya berbisik dalam hati.
Saat makan malam selesai Aresya dan Davino belum ingin untuk masuk ke kamar, mereka berdua masih menikmati pemandangan dan menikmati pertunjukan yang disungkan malam itu.
“Aku, mengantuk,” ucap Aresya.
“Kamu mau tidur?”
“Kalau Bapak belum mau tidur tidak apa-apa aku tidur duluan saja,” ucap Aresya.
“Tidak kita udahan saja” Davino bangun matanya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, waktu sudah menunjukkan jam 23:00
Mata Aresya juga sudah mulai memerah karena beberapa kali menguap menahan ngantuk.
Tetapi saat Davino bersikap tenang dan percaya diri, Aresya malah menghirukanya, ia fokus dengan perawatan wajanya mengolessi wajahnya dengan cream yang mereka beli saat pulang dari menjenguk adek Aresya, ia juga tidak lupa mengolesi bibirnya dengan lip yang mengandung vitamin agar tertap segar.
Saat melihat keluar jendela, ia melihat bayangan hitam itu lagi.
‘Sial lagi-lagi mahluk jahat ini mengikutiku, apa dia tidak tahu kalau aku sudah tidak perawan lagi. Apa perlu aku melakukannya di depan matanya’ Aresya ingin membalas makluk jahat yang menyebabkan adiknya kecelakaan. Otak Aresya kembali licik.
Ia ingin mengoda Davino, ternyata Davino juga niatnya ingin membuat Aresya terpesona dengan tubuhnya, ia ingin bilang kalau ia juga berotot, kalau ia juga lelaki idaman, Aresya pernah bilang kalau ia suka yang punya tato, tidak tahu kapan tepatnya, kini Davino juga puya tato, karya seni juga di lengannya sebuah tato dengan tulisan Latin. Aresya mengalihkan pandangan matanya dari tubuh Davino.
‘Kenapadia tidak tertarik, apa dia benar-benar tidak menyukaiku sedikitpun?’ Tanya Daviino dalam hati.
Ia merasa kehilangan kepercayaan diri, dengan langkah tidak bersemangat ia melepaskan handuk kecil itu mengantungnya membiarkan tubuhnya terbuka, ia membelakangi Aresya menguyur tubuhnyadengan panjuran air ia membasukhkepalanya yang sempat menegang karena melihat bibir Aresya di poles, ia tergoda melihatnya.
Beberapa menit kemudian Aresya keluar dari kamar mandi, Davino mendengus kesal ia merasa kesal karena rencana merayu Aresya gagal
Ia menyudahi mandinya dan mekai handuk yang lebih besar lagi ia berpikir percuma ia merayu Aresya wanita itu tidak akan meliriknya, keluar dari kamar mandi dengan tatapan dingin tidak bersemangat, padahal ia berharap ia mendapatknya di kamar mandi dan membat kesan yang indah.
__ADS_1
Aresya sudah duduk di sofa dengan memakai piyama berwarna coklat mengkilap kain piyama terlihat seperti sutra yang halus.
Davino masih dengan tatapan kecewa, ia memakai kaos dan celana boxer pendek, tidak ada suara dalam ruangan itu, Davino terlalu sibuk mengurus hatinya yang berantakan saat itu, keluar dari kamar mandi , wajahnya semakin suram, saat melihat Aresya sudah bersiap untuk tidur, dengan sebuah bantal di pangkuanya.
‘Baiklah lupakan tentang malam indah, mari tidur ‘ kata Davino dalam hatinya ia merasa jengkel padahal juniornya sudah berdiri tegap sejak dari tadi, ia ingin mengulang malam indah saat di hutan saat itu, wangi tubuh Aresya membutnya kecanduan.
Ia baru saja duduk ingin merebahka tubuh.
“Pak Davino aku ingin bicara, bisa?” tanya Aresya.
“Bisa, tapi bisakah kamu jangan memanggilku dengan pangilan pak, pangil aku Davino, aku ini suamimu bukan bapakmu,” ucap Davino kesal
“Baiklan Davino“
“Apa kamu haru bicara dari situ juga, tidak bisakah kamu mendekat ke sini?”
Aresya datang dan duduk di sisi ranjang, wajanya sangat berat untuk mengucapkanya.
“Ada apa?” tanya Davino membenarkan posisi duduknya menatap Aresya dengan tatapan serius.
“Kamu bilang, bersedia menolongku untuk melepaskan dari mahluk jahat itu, apa kamu mau menolongku?”
“Tentu, apa kita melakukannya lagi?” tanya Davino bersemangat.
“Ya, kita akan melakukannya dengan sebuah ritual”
“Baiklah” Davino bersemangat
Kamu hanya perlu Aresya melepaskan ikatan tali piyamanya dan membiarkannya melorot di depan mata Davino, tubuhnya kini benar-benar polos berdiri di depan Davino.
“Aresya….? Apa yang harus kita lakukan?”
“Tolong buka, horden itu dan biarkan mahluk jahat itu melihat kita”
__ADS_1