Aresya

Aresya
Ibu Tiri Yang Jahat


__ADS_3

Setelah penobatan Davino selesai, Ny. Marisa merasa satu bebanya sudah lepas, karena dengan begitu ia bisa bernapas legah, akhirnya semua pemegang saham dan mitra kerja dapat menerima  Davino sebagai pemimpin baru dari Group Erlangga.


Tidak mudah meyakinkan mereka, karena sangat menentang  Davino sebagai pemimpin, penyebabnya tidak menerima lelaki tampan itu sebagai pemimpin karena salah  satunya; ia masih mudah dan belum berpengalaman, kedua karena istrinya Kirana yang melakukan skandal perselingkuhan mempermalukan perusahaan mereka, karena kejadian itu juga, saham Erlangga Group terjun bebas ke level paling bawah saat itu.


Semua menolaknya saat itu,  Namun saat ini, mereka tidak bisa berbuat apapun,  karena apa yang mereka lakukan untuk menyerang Davino,  tidak  berpengaruh bahkan tidak terusik sedikitpun. Ny Marisa seorang pemain yang hebat, ia yang dapat mengendalikan permainan dengan cara yang epic.


“Kamu tunggu dan lihatlah sebentar lagi, orang yang membuatmu meneteskan airmata karena kehilangan Aresya akan menerima hukumanya,” bisik Marisa.


“Apa maksud Oma? Siapa?” tanya Davino emosi.


“Tunggulah sebentar lagi….”


Davino resmi jadi seorang CEO muda sekaligus pewaris dari Perusahanya, tidak mudah mendapatkan semua itu, walau keluarganya yang pemilik perusaan besar itu. Namun, mereka tidak bisa bekerja sendiri mereka membangun banyak mitra kerja dan relasi, mereka itulah yang menolak kepimpinan Davino karena di anggap masih mudah belum layak jadi pemimpin, menyarankan  pemimpin dari luar keluarga mereka.


Namun, untuk seorang Ny. Marisa apa yang dimiliki keluarga  tidak bisa di miliki orang lain dan tidak ingin di pimpin orang lain. Bagi wanita tua itu harta dan miliknya akan jadi milik keluarganya tidak butuh campur tangan orang lain untuk mengurusinya.


“Baiklah terimakasih atas kerja sama dan terimakasi karena telah menerima Davino Erlangga menjadi pemimpin di perusahaan ini, sebelum kita  menikmati hidangan  pembuka. Izinkan saya  bicara sebentar”


Ny Marisa  berdiri di panggung semua mata  tertuju pada wanita yang sudah  berumur itu. Namun, tetap terlihat muda itu, Lilis  dan pengawal yang lain sudah bersiaga.


“Saya ingin mengumumkan kalau saudara Difi saya pecat dari komisaris dari perusaan saya, sekali lagi ini bukan karena urusan keluarga yang kalian pikirkan kalau ini masalah keluarga saya akan peringatkan di rumah. Namun, ini masalah pekerjaan, jadi saya mengumumkannya disini,” ucap Ny Marisa  semua mata tertuju pada Difi Saras Wati, wanita yang terlihat anggun, berdiri di samping suaminya Sutomo Erlangga.


“Ada apa? kenapa sampai masalah sampai sejauh ini?” suara sumbang dari tamu sudah mulai berbisik seperti lebah.


“Oma … ada apa sebenarnya?” tanya Davino ikut bigung.


Wanita itu menghiraukan suara-suara kebingungan pada semua tamu dan Davino.


 Difi Saras Wati, otak utama dalam pembakaran rumah saya yang di Bekasi dan menyebabkan  menghilangnya nyawa orang-orang yang tidak bersalah,   di Pabrik Erlanggatex menyebabkan pengawai perusahaan meninggal.”

__ADS_1


“Tapi, bukankah itu semua karena ulah perampok?” tanya wanita bertubuh gebuk menatapnya dengan tatapan menajam.


“Tidak. Tujuan dia ingin menghabisi Davino dan ingin mengantikan anaknya Bimo yang jadi penerus dari perusahaan  ini, sayang, mimpi wanita ini terlalu tinggi, mana mungkin saya mau menerima anak yang tidak ada hubungannya darah dan tidak ada hubungan keluarga denganku akan dijadikan pewaris perusaanku”


Difi terlihat panik karena semua yang di lakukan semua di ketahui Ny. Marisa.


Sutomo Erlangga suaminya hanya duduk diam, tanpa membantah dan tidak mendukung juga, ia sudah tahu apa di lakukan Difi juga karena itulah ia melepaskan jabatannya sebagai pemimpin perusahaanya, itu semua Karen Difi istrinya  selalu menekanya, ingin menjadikan Bimo ikut  mendapat  bagian sebagai pewaris,


Sumoto tidak menyetujuinya, Difi marah dan merencanakan sabortasi pada perusahaan Erlanggatek dan ingin melenyapkan  Davino. Tetapi, Sutomo tidak tahu kalau Difi juga terlibat dalam hilangnya Aresya.


“Tidak, tidak benar itu semua tuduhan yang tak berbukti,” kilah Difi menatap semua orang dengan tatapan mencoba tenang . Ia terkenal dengan kelicikanya, ia selalalu bebas dengan semua kejahatan yang ia lakukan. Namun, kali ini semuanya akan berubah, Ny. Marisa sudah mempersiapkan diri  untuk semua bantahan dan sikap ngeyelnya.


Suasana tiba-tiba menegang karena polisi datang  ingin mengangkut Difi bersama beberapa orang-orang yang berdiri di belakangnya,  Bimo tidak luput dari penangkapan, padahal ia tidak tahu apa-apa, tetapi Ny. Marisa bisa membuatnya terlibat karena ulah dari Ibunya.


“Lepaskan anakku, ia tidak tahu apa-apa,” ujar Difi dengan tatapan memohon pada dua nggota polisi yang  memegang tangan Bimo.


Tetapi Bimo sudah mempreksi  akan hal ini,  di mana Ny. Marisa akan  kehilangan batasan ke sabarannya melihat ketamakan ibunya, ia tidak pernah merasa cukup. Difi ingin merebut semua harta keluarga Erlangga, ia mengarahkan semua kelurganya untuk kerja di perusaan Erlangga, mereka di jadikan badut untuk membantunya untuk merebut harta keluarga Davino.


Tetapi Bimo tidak pernah mau ikut terlibat dengan hal itu, ia lebik banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang melakukan  hobbynya. Bimo tidak pernah terlibat dalam perebutan harta seperti yang dilakun ibunya. Bagi lelaki yang hobby balapan motor itu, bisa di terima dalam keluarga Erlangga sudah cukup untuk pemuda berwajah oriental itu. Namun, tidak begitu pada ibunya, ketamakan adalah awal dari kehancuran.


“Tidak! Bimo tidak salah apa-apa tangkap saya saja”


“Jelaskan semua di kantor polisi, aku sudah sangat muak melihat kelakuanmu selama ini, kamu itu ibarat seekor anjing di tolong malah  mengigit”


“Aku tidak melakukan apa-apa kenapa anda menuduh saya” teriak Difi ia berusaha memojokkan Ny. Marisa memposisikan dirinya sebagai pihak yang tersakiti dan pihak yang dituduh.


“Tunggunsebentar pak, wanita itu barang kali sudah lupa apa yang sudah di lakukan” Ucap Ny Marisa


Memerintahkan asistennya memutar rekaman di mana ia Difi terrekam  bertemu  dengan para pelaku kejahatan itu,

__ADS_1


Bukan hanya rekaman pertemuan, bahkan menunjukkan percakapan antara Difi dan para pelaku untuk memerintahkan mereka untuk menghabisi Aresya dan Davino.


Terlihat juga nilai bayaran yang sangat mahal yang di berikan Difi untuk para penjahat sebagai upah untuk mengahibisi Davino dan istrinya.


Wajah Difi pucat  melihat apa yang terpampang di dalam layar telivisi di ruangan pertemuan.


Mata semua orang menatapnya dengan tatapan kebencian, bagaimana tidak, demi sebuah harta dan kekuasaan, ia rela memerintahkan orang untuk menghabisi Aresya wanita yang sedang hamil.


Davino  mengepal tangannya dengan kuat, ia ingin  berteriak melampiaskan kemarahannya pada ibu tirinya, namun Ny. Marisa melarangnya.


“Tahan dirimu, jangan  merusak apa yang sudah saya rencanakan,” ucap Ny. Marisa menatap tajam kearahnya.


“Oma aku tidak tahan lagi, tanyakan padanya kemana Aresya, apakah ia  sudah melenyapkannya, apa ia menyembunyikanya?”


“Tenangkan dirimu nanti juga akan ketahuan,” ucap Ny. Marisa menahan  Davino.


Davino ingin keluar  dari ruangan itu, dadanya terasa sesak ternyata selama ini orang yang mengincar dan membuat Aresya keguguran adalah ibu tirinya, paling mirisnya papinya sendiri tidak tahu kalau istrinya di balik kekacauan selama ini dirumahnya.


Padahal kedua bapak dan anak itu mati-matian selalu membela Difi di depan omanya.


“Apa benar ini semua ulah kamu, apa benar kamu yang melakukanya pada Aresya?” Sutomo bertanya pada istrinya.


Wanita yang sudah mendampinginya selama puluhan tahun itu hanya diam  tidak berani melihat suaminya.


“Itu karena kamu terlalu lemah dan tidak tegas,” ujarnya masih punya muka membantah suaminya.


“Kamu pantas membusuk di penjara, aku berharap kamu mati selamanya di sana,” ucap suaminya  dengan wajah penuh emosi.


Ia tidak pernah menduga kalau istrinyalah di balik hilangnya cucu yang sudah di nanti-nantikanya.

__ADS_1


__ADS_2