Aresya

Aresya
Nyawa Dalam Bahaya


__ADS_3

Aresya akhirnya hamil anak Davino, laki-laki yang palimg ia benci dan ingin ia lenyapkan dengan kekuatannya,  tetapi di satu sisi ia merasa sangat takut, takut yang menginginkannya sebagai pengantinnya masih mengiincarnya. Seandainya Davino melakukan  malam pertama dengannya saat itu hidupnya akan terbebebas dari incaran mahluk jahat yang mengincar tubuhnya.


‘Hidupku dan anak dalam kandunganku dalam bahaya kalau aku masih melakukan hubungan badan dengan pria, siapa yang ajak melakukannya?’ Aresya jadi khawatir.


Ruanga makan itu diam dan tidak ada suara padahal yang  makan di dalam meja makan itu ada delapan orang,  tapi bisa tidak ada suara yang keluar, hanya suara sendok yang saling bersahut-sahutan,  dalam meja makan ada Davino, Kirana istrinya,Papi dan Ibu dan adek tirinya dan adek dari Ibu tirinya dan suaminya dan Nyonya besar Marisa.


Setelah selesai makan siang karena hari itu hari libur jadi kebetulan mereka ada semua di rumah,  orang dalam rumah besar Davino hidup dalam kemunafikan,  saling mengigit dan saling menjatuhkan, Kirana berpikir ia juga Nyonya dalam rumah,   baginya Difi ibu tiri  Davino,  Difi berpikir kalau ia lebih berhak karena ia ibunya Davino, tapi Kirana berpikir hanya Ibu tiri saja.  Bimo adek tiri Davino yang hidup hura-hura main perempuan balapan, judi semua kenakalan remaja ia borong habis.


Hal itu juga yang tidak di sukai Aresya  ia tidak ingin terlibat dalam perebutan tahta kekuasaan di keluarga itu, baginya cukup  melahirkan anak dan dapat uang banyak,  lalu ia akan pergi membawa  adiknya ke tempat yang jauh agar mahluk yang mengincar tubuhnya tidak menemukannya.


.


Saat meja makan dibereskan, wanita itu mengajak mereka untuk duduk di ruang tamu, ingin membicarakan tentang Aresya.


“Bagini… Aresya  sudah kembali ke rumah, saya sudah membawanya kembali, tapi dia minta di rumah yang sebelah, tapi itu tidak apa-apa yang penting dekat dengan rumah ini. Jadi... kami lagi melakukan program bayi, doakan berhasil agar ada suara anak-anak dalam rumah ini”


Wajah Kirana langsung berubah, walau beberapa kali bilang,  kalau  mendukung  Aresya melahirkan, tapi itu kebohongan, Marisa tahu semua kebenaranya. Davino sebelumnya sudah punya istri bernama Kirana, tetapi wanita itu tidak akan bisa memberinya seorang anak, karena itulah Nyonya Marisa mencarikan istri kedua untuk Davino.


“Oh, kita senang,” ucap Kirana memaksakan diri untuk tersenyum.


“Iya,  kita juga senang, Bu” ucap Difi dan adeknya juga mengangguk-anguk, tapi semua itu adalah palsu, sebenarnya mereka semua  tidak ada yang menginginkan Aresya melahirkan anak.


“Apa itu semacam Bayi tabung, Oma?” tanya Bimo ikut nibrung, walau kehadiranya terkadang tidak pernah dianggap.


.


“Ya, dokter  mengambil benih Davino, lalu  memasukkanya ke rahim Aresya, dia menolak melakukan malam pertama dengan istrinya, jadi kami terpaksa mengambilnya dengan paksa”

__ADS_1


Wajahnya Davino terlihat sangat kesal saat neneknya menceritakan hari yang menjengkelkan itu pada keluarganya, bagaiman tidak, ia seakan direndahkan karena  mereka mengambilnya secara paksa atas  suruhan Omanya.


Tapi saat Ny.Marisa  menceritakan Davino menolak melakukanya, Kirana menatap suaminya dengan tatapan berbunga-bunga,  ia berpikir itu karena Davino sangat mencintainya.


“Davino,  menolak melakukanya?” tanya Bimo membuatnya semakin merasa jengkel.


“Aku berharap tidak ada yang mengusiknya, tidak ada yang boleh mengangunya tidak perlu ada yang datang ke rumah itu, baik Davino”


“Tapi berapa lama, Oma?”


“Bimo, orang hamil berapa lama  sih?” Omah balik bertanya.


“Sembilan bulan”


“Iya betul, kita berdoa saja agar kali ini berhasil dan Davino jadi seorang Ayah”


Mata mereka semua menatap kearah Davino, tapi lelaki itu menatap kaearah jedela kaca,  tatapanya kesal, apa yang di lakukan Omanya telah melukai harga dirinya sebaga pria.


“Bisa,” jawab Davino tapi, tatapan matanya tidak iklas.


“Baiklah aku hanya ingin menyampaikan itu saja.”


Nyonya besar  itu meninggalkan  ruang tamu, ia naik ke ruang kerja, ia akan mengahbiskan waktunya memeriksa  semuanya dari sana, ia bekerja di balik layar, orang tahunya Papi Davinolah yang Derektur dan Davino pewaris tunggal untuk semua kerajaan bisnis mereka, tapi tidak banyak yang tahu kalau wanita itulah yang menghandle semuanya


             *


Davino menempati janji, ia tidak menganggu Aresya, sesuai permintaan Aresya agar tidak bertemu Davino.

__ADS_1


Sudah dua bulan Aresya di rumah itu, tidak sekalipun ia bertemu dengan Davino, walau lelaki itu penasaran ingin melihat, karena Omanya bisa bolak- balik ke sana, tapi tidak untuknya, Aresya tidak ingin melihatnya,  Aresya juga  tidak pernah terlihat baik di balkon, ia bagai putri tidur yang  menghabiskan banyak waktu untuk tidur, setiap kali Davino ingin melihatnya, ia menolak,  bahkan hanya ingin sekedar  menyapa ia tidak mau. Intinya ia tidak mau bertemu dengan Davino.


Hingga malam tiba, malam itu Davino tidak bisa tidur, ia gelisah  karena banyak  beban dalam pikiranya, ia keluar dari kamarnya,  menuju balkon, tapi ia tidak melihat pergerakan dalam rumah Aresya. Davino masih sangat membenci Aresya, ia berpikir karena wanita itulah hidupnya di rendahkan beberapa dokter dan perawat. Harusnya Davino mersa bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang bapak, tetapi entah kenapa ia tidak bahagia.


“Lebih Baik tidak punya anak, kalau harus di perlakukan rendah untuk memiliki mereka, tidak punya anak tidak mengapa bagiku, aku tidak akan berterimakasih sama wanita kampung itu,” ujar Davino, menatap rumah Aresya.


‘Apa wanita kampung itu sudah tidur?’ Tanya  Davino dalam hati, ia melihat kearah kamar Aresya tapi lampunya masih menyala.


Tapi tiba-tiba matanya melihat dua orang berpakain hitam-hitam melompati pagar rumah itu.


“Ah, siapa itu apa mereka perampok? Ia menyambar teleponya menghubungi bagian sekuriti rumahnya tapi tidak diangkat, ia  berlari kerumah Aresya, melihat Davino berlari keluar dan ada kehebohan dua sekuriti itu ikut berlari kerumah Aresya.


“Ada apa sih?” tanya Ny. Marisa keluar dari kamarnya.


“Itu-an-anu Nyonya-“


“Apa sih?”


“Rumah  Nona Aresya ada perampokan,” ucap asisten rumah tangga bertubuh tambun itu dengan nafpas ter engah-engah.


“Apa? Aresyah…” Ny. Marisa ikut berlari ke rumah Aresya. “Lilis mana dia?”


Ternyata bukan hanya dua orang yang menyatroni rumah itu ada Empat orang, ke empat bodyguard Aresya memberi perlawanan  Lilis ikut berlari dan membantu, Davino juga ada di sana.


Dugaan Marisa benar, para penghianat berkumpul di rumahnya, saat ia mengumumkan kalau Aresya hamil, seseorang ingin melenyapkannya.


Lalu siapa yang ingin membunuh Aresya dengan bayi dalam kandungannya. Apakah Difi Ibu Tiri Davino? Atau Kirana istri pertamanya?

__ADS_1


 Bersambung


Bantu Vote dan like ya kakak kasi komentar juga terimakasih..


__ADS_2