Aresya

Aresya
Hampir Kehilangan Nyawah


__ADS_3

Menyembunyikan kehamilannya dari suaminya sangat berat pada Aresya.


Pak …


Aresya menampar Davino  tidak terima saat Davino merendahkanya lagi,


Kamu istri-“


“Kamu berengsek dengan  mulut berengsekmu”  potong Aresya mendorong tubuh Davino dengan kasar.


“Aaaaa! kamu yang meminta melakukan itu” Teriak Davino marah untung saat mereka tiba di Villa sudah sore lagit sudah gelap, jadi tidak ada yang menghiraukan pertengkaran mereka


“Aku akan menghabisimu jika menyebutku dengan  wanita bayaran lagi, kamu tidak tahu tentang hidupku dan berhenti mendikte kehidupanku, dasar lelaki iblis,” ucap Aresya   tidak kalah marah juga, ia menusap kasar bibirnya yang  di nikmati Davino tadi.


“Kamu hanya wanita yang munafik, kalau kamu wanita bayaran,  kenapa tidak mengaku saja dan kita melakukanya sekarang,  kamu dapat bayaran kamu juga mendapatkan kepuasaan dan  kita sama-sama menikmatinya,” ucap Davino dengan wajah yang sangat menghina.


“Kenapa kamu tidak  melakukanya  saja dengan istrimu” ucap Aresya


“Jangan membawa-bawa nama Kirana,  dia wanita baik-baik tidak seperti kamu,  wanita  mata duitan demi mendapatkan uang rela melakukan apa apaun termasuk seperti saat ini.”


Aresya mengepal tangannya dengan kuat, dengan kekuatanya yang ia miliki,  bisa saja ia melempar ranjang besar itu dengan  satu tangannya dan melemparkanya pada lelaki bermulut kejam itu,  tetapi ia menahan diri, tidak ingin ditemukan mahluk jahat yang menginginkan tubuhnya.


Tidak tahan dengan emosinya, aresya  ingin muntah lagi,  karena menahan  kemarahanya, tapi  bayangan adiknya menghentikanya untuk melakukan kekerasan pada Davino, jika ia melakukanya maka ia kehilangan kesempatan untuk mendaptakan kesembuhan pada adeknya,  ia juga akan di temukan musuhnya.


‘Bisakah aku bertahan?’ ucap Aresya, ia menahan gejolak dalam perut.


“Kamu terlalu sibuk menghina orang lain sehingga kamu lupa kamu juga punya keburukan”

__ADS_1


“Hina, saya hina? Ha… ha… tidak ada lelaki yang hina hanya seorang wanita yang rela menjual tubuhnya demi hanya uang dan bersikap pura-pura suci lagi, itu hal yang menjijikan”


“Yang menjijikkan itu jika seorang istri tidur dengan lelaki lain di belakang suaminya dan suaminya terlalu bodoh dan banci untuk mengetahuinya,  karena ia terlalu sibuk menghina orang lain,  tapi,  dia sendiri lebih hina, sangat menjijikan jika istrimu tidur dengan lelaki lain dan kamu memakainya lagi”  Ares terbawa emosi  ia mengungkapkan semua rahasia istrnya, tetapi  ia sesali akhirnya.


“Apaa maksudmu,” ucap Davino mendekat.


“Berhenti merendahkanku,  kamu pikir aku tidak tahu hubungan istrimu Kirana degan Alir?  saya mengetahuinya namun kamu tidak mengetahuinya karena kamu bodoh,” ucap Areshya marah.


 Puaaak …!


Davino menampar Aresya dengan sangat kuat sampai hidungnya berdarah.


“Jangan sesekali kamu menghina dan menuduh istriku karena kemarahanmu padaku,” ucap Davino.


Aresya merasakan pipinya berdegung,  karena Davino melakukanya dengan  menggunaka seluruh tenaganya karena sudah dibalut kemarahan


Namun saat ia dalam kemarahan, tiba-tiba ia melihat bayangan orang mengarahkan pistol pada Aresya, dengan ripleks,  ia menarik Aresya membalikkan tubuhnya dan menarik Aresya ke dadanya untuk melindunginya, hingga akhirnya ….


Satu tembakan mengenai pundak Davino , awalnya ia melihat ada bayangan di kaca dan benda itu  mengarah pada Aresya, saat Davino melihatnya  batin untuk  melidungi bangkit, ia menarik Aresya ke dadanya dan membalikkan tubuhnya  akhinya peluruh itu menembus  pundak Davino, Aresya masih panik dan bigung ia tidak tahu apa yang terjadi.


 Buaar…


Dengan bringas kedua penjahat itu memecahkan kaca jendela,  ingin menerjang masuk dengen keadaan terluka Davino menarik tangan Aresya membawanya keluar dan bersembunyi di bawah Villa,  tepatnya di samping kuburan Maminya.


“Cari sampai dapat habisi wanita itu,” perintah seorang.  Aresya mengintip dari semak-semak dari tempat mereka bersembunyi.


Lelaki itu tidak asing,  namun ia lupa-lupa ingat di mana ia pernah melihatnya.

__ADS_1


Davino sudah meringis kesakitan, kalau ia tetap bersembunyi di sana,  Aresya yakin  para penjahat itu akan mendapatkan  mereka berdua.


Aresya memapah Davino membawanya menjauh dari sana , di atas Villa keluarga Davino  ada bukit agar lebih aman Aresya membawanya kesana.


Saat tiba di atas bukit ternyata ada rumah kecil tempat pegurus pemakaman, Aresya membongkar gembok rumah permanen itu,  rumah yang   di gunakan para pekerja petugas pemakaman umum karena di depan rumah itu ada pemakaman umum, jadi rumah itu untuk beristirahat dan menyimpan barang-barang para pekerja makam karena sudah malam , Aresya berpikir tidak menemukan mereka di sana, selain tempatnya menyeramkan,  karena daerah pemakamannya, suasana di luar juga gelap.


Ia  masuk dan menghidupkan saklar lampu untung ada lampu, walau hanya bola lampu kecil, ia meletakkan Davino di atas tikar,  ia melihat peralatan yang bisa ia gunakan untuk mengeluarkan peluru dari pundak Davino,  menemukan tang dan diatas kaca ada pinset milik para pekerja, kebetulan ada satu botol minuman keras yang belum di buka mungkin milik para pekerja minumnya saat udara dingin.


Beruntung,  ini bisa, ucap Aresya dengan singap dan berani ia membakar  pisau kecil itu  dan pinset  membakarnya di atas lilin. Wajahnya penuh darah yang masih menetes dari hidung yang ditampar Davino, ia terus mengusap darah dengan telapak tangannya, darahnya  mengalir terus  dari hidung


“Ini gigit dan ini minum,  saya akan mengeluarkan pelurunya sebelum kamu mati kehabisan darah,” ucap Aresya.


“A-pa yang ingin kamu lakukan,” ucap Davino dengan lemah dan wajahnya sudah pucat karena banyak kehilangan darah, tetapi ia bisa melihat wajah Aresya yang penuh darah dari hidung.


 Aresya  memberikan kainnya untuk di gigit dengan usaha keras,  ia akhirnya mengeluarkan peluru itu dari pundak Davino,  untungnya tidak terlalu dalam karena terhalang di antara tulang pundaknya.


Aresyah punya banyak kealian, ia bisa mengeluarkanya dengan baik,  tidak ada rasa takut sedikitpun,  ia membongkar semua laci-laci dalam rumah itu,  akhirnya ia menemukan kotak obat,  ia membungkusnya dengan perban setelah ia bersihakn dengan alkohol Davino akhirnya selamat.


 Ia mengobati  bahkan menyelamatkan Davino, bukan, namun Davino sebenarnya yang menyelamatkanya, tidak tahu bagaimana jadinya,  kalau tadinya luka itu ada pada Aresya,  mungkin ia tidak selamat karena Davino tidak mungkin bisa melakukan pertolongan pertama dengan cepat seperti yang di lakukan Aresya.


Setelah Davino aman, Aresya mengangkat hidungnya ke atas untuk menghentikan pendarahan dari hidung.


 Ia keluar dan mengintip melihat ke arah bawah,  sudah hampir satu jam,  namun,  para bajingan  itu masih menyisir sekitar Villa menggunakan senter karena sudah malam.


Aresya yakin para penjahat itu,  akan menemukan mereka Karena jejak darah dari Davino, menetes banyak dari luka tembakan dan luka di tangan Davino luka di tangan,  karena kaca  ia pecahkan menggunakan tangannya,  memukul kaca bagian belakang untuk membawanya kabur.


Kalau Aresya dan  Davino  tidak menjauh,  ia yakin akan mengikuti jejak darah, melihat sinar senter itu semakin  mendekat Ares masuk kerumah dan membawa Davino,   menjauh dari rumah,  membawanya kearah  hutan menjauhkan dari para penjahat yang mengincar dirinya.

__ADS_1


‘Aku berharap bayi dalam kandunganku kuat’ ucap Aresya dalam hati.


Aresya,  mendudukkannya di  sebatang pohon Aresyah  menyalahkan api unggun, ia membawa beberapa peralatan dari rumah  penjaga makam itu, saat ia menyalahkan api ia baru ingat,  kalau lelaki yang  meningincarnya lelaki yang sama,  orang yang ingin mencelakai Ny. Marisa saat di pabrik  beberapa bulan yang lalu.


__ADS_2