
Tiba-tiba wajah Rini terlihat panik ia baru menyadari kesalahannya. “Oh. Saya lupa, Bu maafkan saya itu karena buru-buru tadi,” ucap Rini merasa bersalah.
“Kamu tahu, karena kelupaan kamu itu seisi rumah saya, jadi panik,”
“Maafkan saya, Bu,” ucap Rini wajah benar-benar sangat menyesal, karena ulahnya Aresya mendapat satu tamparan dari Davino”
‘Dasar lelaki gila aku semakin membencimu’ ucap Aresya menatap Davino dengan sinis.
Davino juga membalas tatapannya dengan tatapan tidak mau kalah, ia merasa tindakannya, tidak salah ia beralasan kalau tindakan spontan karena ia sangat khawatir.
“Sudah kalian boleh bubar, tapi ingat lain kali, jangan ada kejadian seperti ini, karena semua salah, saya masih bisa memaklumi, tapi kedepan tidak ada lagi kejadian Aresya pergi, namun, tidak ada yang melihat”
“Baik Bu,” jawab mereka serentak
Semua bubar, hanya tinggal Ny. Marisa dan Aresya yang duduk masih mengobrol.
“Maafkan Davino iya Nak, dia hanya panik, bagaimana dengan kandunganmu,” bisik Marisa.
“Baik omah, itu tidak ada apa-apanya, tapi Omah…” Aresya, ragu untuk meneruskan kalimatnya.
“Ada apa, Nak?” tanya Ny. Marisa dengan mata menatap Aresya dengan wajah serius.
“Aku sangat merindukan adekku boleh aku bertemu mereka, hanya satu malam saja, Maaf jika aku melanggar aturan, tetapi, aku tidak bisa menahannya lagi”
Wajah Aresya terlihat sendu ia berharap agar Ny. Marisa mengijinkannya.
“Tapi Nak, kamu’kan dalam bahaya”
“Saya akan membawa dua orang pengawal , itu sudah cukup dan aku akan hati-hati agar tidak ada yang melihatku, hanya melihat dari jauh saja, habis itu akan pulang aku tidak menunjukkan wajahku padanya kalau aku Aresya”
Hati Ny, Marisa sangat keberatan, Ia sudah melakukan penjagaan ketat pada Aresya, tetapi bagaimana mungkin ia pergi untuk menemui adiknya.
“Adikmu baik-baik saja Nak, saya menempatkan mereka di rumah sakit yang nyaman sesuai permintaan kamu, perkembangan adek juga bagus, empat hari lagi ia akan di pindahkan ke Indonseia setelah operasi hatinya sukses, percayalah dia baik-baik saja,” ucap Ny Marisa . Ia menolak, kalau Aresya akan menemui adiknya.
“Baiklah, Omah,” ucap Aresya terlihat sangat lesu.
Ny. Marisa tidak ingin melihat Aresya merasa sedih, akhirnya, ia menyetujui kalau Aresya boleh pergi menemui adeknya ke Singapura, tetapi harus di temanin seorang yang ia percaya.
“Baiklah sebagai ganti permintaan maaf saya pada kamu. Baiklah kamu boleh pergi, tetapi kamu pergi dengan diam-diam, saya merasa ada musuh dalam selimut di rumah saya”
“Baik Omah, terimakasih anda sangat baik” ucap Aresya memeluk wanita itu dengan erat.
“Aku tidak ingin kamu sedih, aku berharap bayi dalam rahim kamu selamat,” bisik wanita itu dengan lembut.
__ADS_1
“Baik, baik Omah jawab Aresya dengan wajah berseri, ia akan bertemu dengan adek kembarannya di salah satu rumah sakit Singapura.
“Pergilah sekarang, saya sudah menyuruh seseorang menunggumu di Bandara, kamu pergi dengan Iwan saja, aku takut jika kamu di jaga banyak orang, mereka akan menimbulkan kecurigaan”
“Saya pergi sekarang? Apa saya tidak turun dulu, maksudku apa aku tidak ganti pakaian dulu?”
“Tidak usah, semua yang kamu butuhkan ada di sana”
“Baik Omah”
Tidak perlu membawa barang banyak ataupun hanya sekedar koper Aresya diantar saat itu juga, suara helikopter menderu dan terbang meninggalkan rumah besar itu, Aresya akhirnya terbang, hanya di temenin Iwan.
Ny. Marisa turun sendiri, padahal semua orang sudah duduk menunggu di ruangan, Rini, masih menunduk merasa bersalah, Lilis baik Davino menatap Ny. Marisa dengan bingung, karena ia turun sendiri.
‘Bos ini yang baru saja melarang untuk tidak meninggalkannya , namun kenapa malah ia sendiri yang mengingkarinya’ ucap Lilis dalam hatinya
Davino bangun dari sofa, matanya masih belum percaya kalau hanya Omahnya yang turun.
“Omah, Mana Aresya?” tanya Davino penasaran.
“Ia pergi, saya mau tidur dulu, saya capek”
“Pergi bagaimana, Omah?” Davino mengekor dari belakang.
Bukanya hanya Davino yang terkejut dengan keputusan Ny. Marisa, bahkan Lilis ikut panik dibuatnya.
Ny.Marisa berbalik badan, menatap mereka dengan tatapan serius dan ia berkata;
“Biarkan ia menyenangkan pikirannya dan melakukan apa yang dia mau”
“Tapi Bu-“
“Lilis saya tahu mana yang baik dan mana yang tidak jadi kamu hanya menerima perintah saya”
“Baik Bu” Lilis hanya diam saat Ny. Marisa menegurnya.
“Oma, katakan sesuatu Aresya, di suruh kemana?”Davino masih mengikutinya sampai masuk ke ruang kerja.
“Davino berhentilah mengikuti karena kamu sangat menganggu,” ujar Ny.Marisa.
“iya tapi-“
“Davino kamu tidak perlu lagi mengurusi Aresya, kamu tidak perlu lagi marah-marah padanya”
__ADS_1
“Apa maksudnya? Apa oma mengusirnya beneran apa Oma sudah memutuskan rencana itu”
“ Davino… omah berharap kamu tidak menemuinya sementara ini, biarkan dia menenangkan pikirannya”
“Sebenarnya saya ini apa untuk Aresya, Oma? Kenapa aku tidak pernah di libatkan tentang apapun mengenai dia”
“Davino apa yang bisa aku harapkan darinya saat aku berusaha agar dia tidak marah dan tidak stres, kamu selalu datang membawa masalah, Davino, kamu tahu, ia bukan wanita biasa seperti wanita pada umunya di luar sana, dia wanita yang spesial ia tidak bisa marah dan tidak boleh stres”
“Apa maksud Omah, aku tidak mengerti?”
‘Davino Aresya saat ini sedang hamil anakmu’ ucap Lilis dalam hati.
“Davino, hanya ia wanita di dunia yang bisa memberikan anak untuk kamu, jadi tidak bisakah kamu bersikap baik padanya, setidaknya tidak bisa kamu berpura-pura baik, setidaknya setelah dia melahirkan anak”
“Apa maksud oma, aku harus baik-baik padanya sampai dia melahirkan anakku, habis itu apa?” Mengusirnya dari rumah ini?” tanya Davino melihat sisi gelap dari Omanya.
“Iya, saya hanya ingin anak dari dia, Davino, aku akan melakukan apapun agar rencana berhasil”
“Davino terdiam, matanya menatap kosong kearah jendela kamar Omahnya”
“Apa benar aku tidak bisa punya anak dari orang lain, Oma?”
“Iya itu benar, kita punya gen yang sama dengan Aresya maka dia bisa melahirkan anak untuk kamu Davino, wanita yang biasa tidak akan bisa memberikan anak untukmu”
Tiba-tiba ada sesuatu yang membuat Davino marah, ingatannya pada Kirana.
‘Ada apa denganmu? Davino apa matamu sudah mulai terbuka?’ Bisik Ny. Marisa dalam hatinya.
“Omah aku mau ke kemarku dulu,” ucap Davino ia melangkahkan kakinya keluar menuju kamarnya.
“Davino,” panggil Ny. Marisa.
“Iya Omah.” ia membalikkan tubuhnya.
“Jangan terlalu banyak pikiran, aku ingin kamu sehat”
“Iya Omah”
Dalam kamar, ia duduk di sisi ranjang dengan raut wajah yang kecewa,
Ucapan Aresya tentang istrinya hari membuatnya marah,
Tidak mungkin Aresya mengatakan seperti itu, kalau ia tidak mengetahui sesuatu, bisik Davino mencoba membuka lemari pakaian istrinya namun dikunci, tapi hal itu membuatnya semakin penasaran, ia membawa peralatan dan membongkar lemari berwarna putih itu, ia terpaksa membongkar dan ingin melihat sesuatu yang bisa meyakinkan pikirannya.
__ADS_1
Tapi saat ia membongkar tidak apa-apapun di sana.
Bersambung...