Aresya

Aresya
Hanya Ingin Seoang Anak


__ADS_3

Tiba-tiba wajah Rini terlihat panik ia baru menyadari kesalahannya. “Oh. Saya lupa, Bu maafkan saya itu karena  buru-buru tadi,” ucap Rini merasa bersalah.


“Kamu tahu, karena kelupaan kamu itu seisi rumah saya,  jadi panik,”


“Maafkan saya, Bu,” ucap Rini wajah benar-benar sangat menyesal, karena ulahnya Aresya mendapat satu tamparan dari Davino”


‘Dasar lelaki gila aku semakin membencimu’ ucap Aresya menatap Davino dengan sinis.


Davino juga membalas tatapannya dengan tatapan  tidak mau kalah, ia merasa tindakannya, tidak salah ia  beralasan kalau tindakan spontan karena ia sangat khawatir.


“Sudah kalian boleh bubar, tapi ingat lain kali,  jangan ada kejadian seperti ini, karena semua salah, saya masih bisa memaklumi, tapi kedepan tidak ada lagi kejadian Aresya   pergi, namun,  tidak  ada yang melihat”


“Baik Bu,” jawab mereka serentak


Semua bubar, hanya tinggal Ny. Marisa dan Aresya yang duduk  masih mengobrol.


“Maafkan Davino iya Nak, dia hanya panik, bagaimana dengan kandunganmu,” bisik Marisa.


“Baik  omah, itu tidak ada apa-apanya, tapi Omah…” Aresya, ragu untuk meneruskan  kalimatnya.


“Ada apa, Nak?” tanya Ny. Marisa dengan mata menatap Aresya dengan wajah serius.


“Aku sangat merindukan  adekku boleh aku bertemu mereka, hanya satu malam saja, Maaf jika aku melanggar aturan, tetapi, aku tidak bisa menahannya lagi”


Wajah Aresya  terlihat sendu  ia  berharap  agar Ny. Marisa mengijinkannya.


“Tapi Nak,  kamu’kan dalam bahaya”


“Saya akan membawa  dua orang pengawal , itu sudah cukup dan aku akan hati-hati agar tidak ada yang melihatku,  hanya melihat dari jauh saja,  habis itu  akan pulang aku tidak menunjukkan wajahku padanya kalau aku Aresya”


Hati Ny, Marisa sangat keberatan, Ia sudah melakukan penjagaan ketat pada Aresya, tetapi  bagaimana mungkin ia pergi untuk menemui adiknya.


“Adikmu baik-baik saja Nak,  saya menempatkan mereka di rumah sakit yang nyaman sesuai permintaan kamu, perkembangan adek juga  bagus, empat hari lagi ia akan di pindahkan ke Indonseia setelah  operasi  hatinya sukses, percayalah dia baik-baik saja,” ucap Ny Marisa . Ia menolak,  kalau Aresya akan menemui adiknya.


“Baiklah, Omah,” ucap Aresya terlihat sangat lesu.


Ny. Marisa tidak ingin melihat Aresya merasa sedih, akhirnya, ia menyetujui kalau Aresya boleh pergi  menemui adeknya ke Singapura,  tetapi harus di temanin seorang yang ia percaya.


“Baiklah sebagai ganti permintaan maaf saya pada kamu. Baiklah kamu boleh pergi, tetapi kamu pergi dengan  diam-diam, saya merasa ada musuh dalam selimut di rumah saya”


“Baik Omah, terimakasih anda sangat baik” ucap Aresya memeluk  wanita itu dengan erat.


“Aku tidak ingin kamu sedih, aku berharap bayi dalam rahim kamu selamat,” bisik wanita itu dengan lembut.

__ADS_1


“Baik, baik Omah jawab Aresya dengan wajah berseri, ia akan bertemu dengan adek kembarannya di salah satu rumah sakit Singapura.


“Pergilah sekarang,  saya sudah menyuruh seseorang menunggumu di Bandara,  kamu  pergi dengan Iwan saja, aku takut jika kamu di jaga banyak orang, mereka akan menimbulkan kecurigaan”


“Saya pergi sekarang? Apa saya tidak turun dulu, maksudku apa aku tidak  ganti pakaian dulu?”


“Tidak usah,  semua   yang kamu butuhkan ada di sana”


“Baik Omah”


Tidak perlu membawa barang banyak ataupun hanya sekedar koper Aresya diantar saat itu juga, suara helikopter menderu  dan terbang meninggalkan rumah besar itu, Aresya akhirnya terbang, hanya di temenin Iwan.


Ny. Marisa turun sendiri, padahal semua orang sudah duduk  menunggu di ruangan, Rini, masih menunduk  merasa bersalah, Lilis baik Davino menatap Ny. Marisa dengan bingung,  karena ia turun sendiri.


‘Bos ini yang baru saja melarang untuk tidak  meninggalkannya , namun kenapa malah ia sendiri yang mengingkarinya’ ucap Lilis dalam hatinya


Davino bangun dari sofa,  matanya masih belum percaya kalau hanya Omahnya yang turun.


“Omah, Mana Aresya?” tanya Davino penasaran.


“Ia pergi, saya mau tidur dulu, saya capek”


“Pergi bagaimana,  Omah?”  Davino  mengekor dari belakang.


Bukanya hanya Davino yang terkejut dengan keputusan Ny. Marisa, bahkan Lilis ikut panik dibuatnya.


Ny.Marisa berbalik badan,  menatap mereka dengan tatapan serius dan ia berkata;


“Biarkan ia menyenangkan pikirannya dan melakukan apa yang dia mau”


“Tapi Bu-“


“Lilis saya tahu mana yang baik dan mana yang tidak jadi kamu hanya menerima perintah saya”


“Baik Bu” Lilis hanya diam saat  Ny. Marisa menegurnya.


“Oma, katakan sesuatu Aresya, di suruh kemana?”Davino masih mengikutinya sampai masuk ke ruang kerja.


“Davino  berhentilah mengikuti karena kamu sangat menganggu,” ujar Ny.Marisa.


“iya tapi-“


“Davino kamu tidak perlu lagi  mengurusi Aresya, kamu tidak perlu  lagi marah-marah padanya”

__ADS_1


“Apa maksudnya? Apa oma mengusirnya beneran apa Oma sudah memutuskan rencana itu”


“ Davino… omah berharap kamu tidak menemuinya  sementara ini, biarkan dia menenangkan pikirannya”


“Sebenarnya saya ini apa untuk Aresya,  Oma? Kenapa aku tidak pernah di libatkan tentang apapun mengenai dia”


“Davino apa yang bisa aku harapkan darinya saat aku berusaha agar dia tidak marah dan tidak stres, kamu  selalu datang membawa masalah, Davino, kamu tahu,  ia bukan wanita biasa seperti wanita pada umunya di luar sana, dia wanita yang spesial ia tidak bisa marah dan tidak boleh stres”


“Apa maksud Omah, aku tidak mengerti?”


‘Davino Aresya saat ini sedang hamil anakmu’ ucap Lilis dalam hati.


“Davino, hanya ia wanita di dunia yang bisa memberikan anak untuk kamu, jadi tidak bisakah kamu  bersikap baik  padanya, setidaknya tidak bisa kamu berpura-pura baik, setidaknya setelah dia melahirkan anak”


“Apa maksud oma, aku harus baik-baik padanya sampai dia melahirkan anakku,  habis itu apa?” Mengusirnya dari rumah ini?” tanya Davino melihat sisi gelap dari Omanya.


“Iya, saya hanya ingin anak dari dia, Davino, aku akan  melakukan apapun agar  rencana  berhasil”


“Davino terdiam,  matanya menatap kosong kearah jendela kamar Omahnya”


“Apa benar aku tidak bisa punya anak dari orang lain, Oma?”


“Iya itu benar, kita punya gen yang sama dengan Aresya maka dia bisa melahirkan anak untuk kamu Davino,  wanita yang biasa tidak akan bisa memberikan anak untukmu”


Tiba-tiba ada sesuatu yang membuat Davino marah, ingatannya pada Kirana.


‘Ada apa denganmu? Davino apa matamu sudah mulai terbuka?’ Bisik Ny. Marisa dalam hatinya.


“Omah aku mau ke kemarku dulu,” ucap Davino ia melangkahkan kakinya keluar menuju kamarnya.


“Davino,” panggil Ny. Marisa.


“Iya Omah.”  ia membalikkan tubuhnya.


“Jangan terlalu banyak pikiran, aku ingin kamu sehat”


“Iya Omah”


Dalam kamar, ia  duduk di sisi ranjang dengan  raut wajah yang kecewa,


Ucapan Aresya tentang istrinya hari membuatnya marah,


Tidak mungkin Aresya mengatakan seperti itu,  kalau ia tidak  mengetahui sesuatu,  bisik  Davino mencoba membuka lemari pakaian istrinya  namun dikunci, tapi hal itu membuatnya semakin penasaran, ia membawa peralatan  dan membongkar lemari berwarna putih itu, ia terpaksa membongkar dan ingin melihat sesuatu yang bisa meyakinkan pikirannya.

__ADS_1


Tapi saat ia membongkar tidak apa-apapun di sana.


Bersambung...


__ADS_2