
Kirana masih bertahan tidak mau menandatangani surat cerai, ia percaya diri tidak mau melakukanya, setelah diperiksa, Davino melakukan satu kesalahan di masa lalu yang merugikan dirinya sendiri. Ternyata sebelum pernikahan Davino menandatangani satu perjanjian. Janji pernikahan yang isinya, bila mana Davino mengugat Kirana dan menuntut bercerai, maka ia akan memberikan semua setengah saham yang ia miliki untuk Kirana. Bukan hanya itu ia juga harus memberikan rumah yang di Surabaya dan di Bekasi untuk Kirana.
Saat itu, Davino dibutakan cinta, ia tidak tahu kalau Papinya Kirana ingin memanfaatkanya, ia terlalu percaya dan dan terlalu cinta pada Kirana dan keluarganya, ia menandatangi kertasnya tanpa membaca apa isi dalam surat yang ia tandatangani. Satu kebodohan yang patal…. Sekarang ia baru menyadari kalau di balik pernikahannya yang di setujui ada keinginan yang sangat besar yang ingin ia miliki dengan keluarganya. Ingin mengusai harta milik keluarga Erlangga dengan memanfaatkan kepercayaan Davino yang terlalu mencintai Kirana.
“Kenapa bisa terjadi seperti itu, apa kamu tidak tahu saat itu?” tanya Ny. Marisa merasa janggal melihat surat perjanjian pranikah itu.
“Aku juga tidak begitu ingat oma, saat pernikahan kalau tidak salah aku minum banyak saat itu, namun aku disuruh menandatangani surat namun tidak membaca semua isinya,’ ucap Davino ia baru menyadarai kalau ia sudah melakukan perjanjian yang tidak masuk akal dengan keluarga Kirana.
“Aku Sudah mencurigai ini dari awal, bahkan dulu, sebelum kalian menikah. Maka itu oma tidak menyutui pernikahan kalian, ia hanya ingin harta ia menikahkanmu dengan putrinya ada tujuan lain. Biarkan saja jangan ceraikan Kirana, jangan mau tunduk dengan lelaki itu, kita harus membatalka suratcerai itu. Biarkan ia jadi istri pajanganmu, Aresya akan jadi nomor satu dirumah ini.”
Davino tidak lagi menuntut Kirana untuk bercerai, karena perjanjian pernikahan yang mereka seperkati, kalau Davino menceraikan Kirana, jika dihitung semua ***** –begek yang diminta keluarga Kirana hampir setengah dari hartanya akan jatuh pada wanita itu.
Ny. Marisa tidak menyetujuinya, ia meminta Davino untuk bertahan, tetap sebagai status suami.
“Tapia artinya kalau hanya status istri namun dipakai kita lihat saja sampai di mana nanti wanita rendah itu bisa bertahan, dia wanita memang tidak punya malu, dengan apa yang sudah ia lakukan padamu harusnya ia pergi, namun, ia masih punya muka untuk bertemu denganm” Ny. Marisa terlihat sangat marah atas penghinaan yang di lakukan Kirana pada Davino. “Menghina kamu saja menghina keluarga besar kita,” ucap wanita itu mengertak gigi menahan kesal.
Davino hanya menunduk diam, sebenarnya ia merasa sangat malu pada seluruh keluarganya dan rekan-rekannya karena biar bagaimanapun kegagalan istri pasti kegagalan suami juga. Tetapi, ia tidak tahu kenapa Kirana sampai berpaling pada lelaki lain saat ia memenuhi semua kebutuhan wanita itu, baik nafkah batin maupun financial, walau gaya ranjang Davino memang ektrim, tetapi Kirana mengatakan tidak masalah, ternyata Kirana mencari gaya ranjang yang lebih gila lagi dari lelaki selingkuhannya.
Davino dan Marisa menyerahkan sepenuhnya pada Pengacaranya, menyesaikan masalah
Ny. Marisa dan Davino berangkat ke Puncak di mana Aresya masih dalam pengawasan dokter.
**
Saat tiba Ny.Marisa menghampiri Aresya yang sedang di beri kegiatan mengambar alam, dokter memberinya kegiatan untuk mengisi memori dalam otaknya, karena saat ia siuman Aresya hanya banyak diam dengan tatapan mata seakan dalam otaknya tidak memori.
“Aresya! Apa kamu tidak mengenal oma?” tanya wanita itu menatap Aresya.
__ADS_1
Ia hanya menatap Ny. Marisa sementara, lalu ia menggeleng pelan, lalu matanya berpaling lagi kearah lukisan.
Lukisan yang indah, melukis pemandangan di depan matanya, pohon pinus yang tumbuh dan satu rumah permanen. Semua yang dilihat matanya maka itulah yang ia tuangkan dalam lukisan, menunjukkan kalau otaknya belum berpungsi.
Davino berdiri di sampingnya Aresya, menatap istrinya dengan tatapan iba, iba melihat istrinya yang saat ini sedang hamil , namun, kehilangan ingatan bahkan kehilangan suaranya. Davino menarik napas panjang, rasanya sangat berat saat melihat Aresya melupakan dirimya.
Padahal sudah lama ia menanti ingin bertemu dengan Aresya, ingin mengobrol dan bertanya tentang banyak hal, tetapi, sepertinya ia harus menunggu.
“Kita akan membawanya pulang, ia tidak boleh di sini sendirian”
“Tapi bagai mana dengan masalah-“
“Jangan pikir wanita itu yang terpenting saat ini adalah Aresya dan bayinya,” ucap Ny. Marisa.
Setelah memikirkan masalah dengan matang dan segala resiko. Resya akhir dibawa pulang ke Jakarta. Ia akan tinggal di rumah utama keluarga Erlangga.
*
Berjalan di atas rumput pagi ini, di samping rumah Davino, membiarkan kakinya menyetuh rumput, ia tidak mengunakan alas kaki, ia juga berjalan di atas batu-baru kecil untuk memberikan terapi untuk kakinya, semua yang dikatakan dokter dituruti.
Kerena kehilagan ingatanya, ia belum mempercayai orang yang ingin dekat dengannya, bahkan Davino tidak ia biarkan membantunya , Aresya hanya percaya pada dokter dan suster yang selama ini merawatnya.
“Apa kamu ingin aku menemanimu di sini?” tanya Davino berdiri di samping Aresya.
Aresya memberikan penolakan bahkan meninggalkan Davino yang masih berdiri menatapnya.
‘Aresya please jangan mengabaikanku seperti ini, kamu harus mengingatku, aku ingin memulai hal baru dengan kamu’ Davino masih menatapnya, berharap Aresya pulih untuk mengobati luka di hatinya akibat penghianatan Kirana.
__ADS_1
Aresya tinggal di salah satu ruangan besar di lantai satu, ia menolak tinggal dengan Davino.
“Sya, aku ini suamimu, kamu harus percaya padaku” Davino memegang tangn Aresya mencoba mendekatkan dirinya pada istrinya, Aresya melepaskan tangannya dengan tatapan tidak suka dengan sikap Davino.
“Baiklah kalau kamu belum bisa mengingatku, aku akan tidur di kamarku”
Melihat Aresya dibawah kerumah, membuat Difi merasa tidak senang, tatapan matanya sinis saat melihat Aresya dapat perhatian khusus dari Ny. Marisa dan semua orang di rumah itu, bahkan suaminya membela Aresya namun mengabaikan anaknya, Bimo.
‘Tidak boleh seperti ini, orang kampung ini tidak pantas jadi nyonya besar di rumah ini, walau aku tidak menyukai Kirana namu aku merindukanya’ dia jauh lebi baik dari ini’ ucap Difi menatap Aresya, menatap dengan tatapan tajam.
Saat di tengah malam satu kejadian terjadi lagi di rumah itu, padahal orang yang mengawasi kamar Aresya ada empat orang, belum lagi orang yang berjaga di luar di gerbang, namun malam itu mereka semua bisa kecolongan lagi.
Tepat jam dua pagi, suara ribut terdengar dari bawah saat semua orang terlelap dalam tidur, empat orang datng meyantroni rumah mereka.
Padahal penjagaan di rumah itu sudah sangat ketat dan berlapis namun keempat orang itu bisa melumpuhkan penjaga gerbang.
Saat ingin masuk kerumah teriakan seorang asisten rumah tangga membangunkan seisi rumah, seiring terdengarnya suara …
Dor….
Wanita paru baya terjatuh dengan cairan merah mengenang di lantai, sebuah peluru menerobos kepalanya.
Lilis yang sudah terlanjur tidur lansung melompat dari ranjang, ia menghampiri ternyata Adi dan Hendro sedang bertarung dengan ke empat orang yang menutup kepala itu.
Tidak mau ada bertambah korban jiwa, Lilis mengunakan senjata rahasia miliknya, keempat orang itu terkapar setelah besi berbentuk bintang itu melukai leher keempatnya, berjalan gontai hingga akhirnya terjatuh. Saat salah seorang masih nekat melarikan diri Adi mengarahkan pisau kecil miliiknya tepat mengenai betis, ia terseok-seok menyeret kaki masih berusaha kabur.
Saat ia ingin melakukan cara menghilangkan jejak Lilis sudah mengantivasinya, ia lansung menangkap tangan dan membuang botol kecil yang berisi racaun itu.
__ADS_1
Ia mengikat tanganya dan mengikat mulutnya, agar ia tidak bisa melenyapkan dirinya sendiri, mereka tidak ingin informasi tentang orang yang menyuruh mereka terungkap. Lalu siapa yang menyuruh mereka kali ini?
Bersambung