
Lilis yang sempat sudah turun ia naik lagi menghajar ketiga penjahat brutal itu, lilis tidak perlu menunggu lama, ia melumpuhkana dengan senjata yang paling mematikan dari seorang ninja, saat itu juga ia mengunakan Fukedake alat panah yang di tiupkan dari jarak jauh yang ujung anak panahnya sudah di beri racun, dalam hitungan menit target di pastikan kejang dan mati.
Lilis biasa mengunakan itu di saat sudah genting dan saat ia marah, lilis berpikir yang terkena tembakan itu adalah Aresya.
Karena itu ia menyelapkan ketiga penjahat itu setelah terkapar dan tak bernyawa lagi, lilis tidak mau maninggalkan jejak yang membahayakan kliennya, ia mengambil anak panah beracun itu mengunakan sarung tangan khusus dan menyimpanya lagi pada tempatnya, ia turun dari bangunan bertingkat tinggi itu, ia terlihat seperti kucing .
Ia berlari menghampiri Aresya, ia akhirnya benapas legah, ternyata bukan Aresya yang terluka, Lilis memapah Adi ingin membawanya turun, namun, ia berhenti ia tahu di gedung bawah mereka pasti sudah dikepung.
Tapi tidak berapa lama tiga mobil polisi mengepung Hotel, para penjahat itu akhirnya melarikan diri, namun Lilis tidak ingin Aresya dan Davino terlihat media maupun polisi belum lagi Adi terluka.
Lilis bigung bagaimana cara ia mengeluarkan ketiga orang itu, tenaga Aresya sudah pulih walau tidak sekuat biasanya, karena ada bayi dalam perut Aresya menguras tenaganya. Ia juga tidak mau menggunakan kekuatannya agar bayi dalamnya tetap aman.
"Bagaimana kita keluar dari sini?" tanya Lilis bigung ia menatap perut Aresya, ada harta berharga yang akan mereka lindungi di sana.
“Serahkan Adi padaku lis, kamu amankan Davino dia juga terluka,”ujar Aresya
“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Lilis.
“Aku akan mengendong Adi membawanya turun”
“Jangan kamu yang paling berharga di sini, kita harus menyembunyikan hal itu dari orang-orang. Begini saja, kita tunggu sebentar lagi, tunggu polisi menyelesaikan kekacauwaan itu”
“Ada korban yang meninggal akan butuh waktu lama melakukan penyelidikan,” ucap Davino.
“Aku berharap kita semua baik-baik” ucap Lilis.
NY. Marisa melakukan apapun untuk bisa melindungi Aresya.
Lilis mengawasi sekitar, bersama anak buah Ny. Marisa. Aresya dan Davino akan semakin berbahaya jika masih tetap berada di Surabaya, karena Aresya dalam incaran utama, belum tahu siapa pelakuknya.
__ADS_1
Jadi membawa Aresya pakaia helikoper kembali ke Jakarta keputusan yang tepat, sesuai perinta Ny. Marisa helikopter mendarat di rumah yang di Jakarta. Davino terlihat sangat lemah, Adi terlihat tidak sadarkan diri karena ia banyak kehilangan darah.
Davino masih bisa bangun, walau masih terlihat lemah, matanya sangat sinis, melihat Aresya yang merangkul tubuh Adi yang pingsan.
'Kenapa lelaki lain bisa kamu pangku seperti itu, giliran aku, kamu bilang bukan tipemu’ Davino bermonolog dalam hati, ia melirik wajah Aresya wanita itu benar-benar cantik saat itu.
Hubungan Aresya dan Adi memang sangat dekat Aresya merasa Nyaman dengan lelaki bertato itu. Ia menyukai Adi dari pertama mereka kenal, jika disuruh memilih saat itu juga antara suami dan Adi, ia akan memilih Adi.
“Kak Adi, tidak boleh tutup mata herus tetap sadar,” ucap Aresyah pada Adi, sebelum pingsan, namun, ia tidak menghiraukan suaminya yang terluka juga yang duduk di sebelahnya.
“Tidak apa-apa Non , biarkan aku tidur"
“Dengar, jika kamu tutup mata, aliran darah kamu, akan mengumpal dan menyumbat paru-paru maka, kamu tidak selamat,"ucap Aresya.
Awalnya dalam perjalanan ia menurut apa yang dikatakan Aresya, namun, semakin banyak darah yang terbuang dari lukanya semakin ia melemah dan akhirnya pingsan.
Dalam helikopter, Aresya hanya diam tidak memperdulikan tatapan Davino padanya, laki-laki bertubuh tinggi itu terus saja melihat wajah Aresya, akhinya ia paham kalau wajah istrinya berubah sangat cantik.
‘Kenapa dia jadi cantik seperti itu?’
Tidak lama kemudian.
Davino dibantu beberapa orang anak buanya turun dari helicopter dan disusul Aresya dan Adi saat mereka diturunkan helikopter terbang lagi untuk menjemput nyonya besar Ny. Marisa.
Davino lansung mendapat penanganan dokter baik Adi juga di dalam ruangan penanganan, kamar yang di sulap seperti sebuah rumah sakit mini, karena semua alat kesehatan dalam rumah sakit tersedia dalam ruangan.
Aresya juga mendapat penangan dokter kandungan di ruangan khusus yang sangat tersembunyi dari Davino , memberinya nutrisi lewat suntikan, tidak makan dari kemarin hingga menjelang pagi membuat sangat lemah.
Setelah mendapat penanganan dari dokter kandungan ia keluar lagi dan istirahat di ruang perawatan.
__ADS_1
Kini mereka bertiga berbaring menjadi pasien, jika Davino terluka di punggung dan Adi terluka di pinggang, maka Aresya terluka dalam hatinya, apa yang di lakukan Davino padanya malam itu, sangat merendahkanya, sekaligus melegahkannya.
“Silahkan istirahat Non, saya akan memasang infus juga,” ucap suster.
Davino sedang menutup mata, tidurnya terpaksa miring menghadap Aresya karena luka di pundaknya.
Saat ia berbalik arah, Adi juga melakukan hal yang sama, tidur menghadapnya kearah Aresya.
Tanpa disadari ada dua lelaki yang sedang mangadap ke arahnya, dua orang memiliki krakter yang sangat jauh berbeda . Satu suaminya, tampan, kaya, tapi hatinya sangat sombong angkuh dan Aresya sangat membenci di sebelahnya seorang lelaki pengawalnya, wajah bertato, terlihat menyeramkan, namun, hatinya sangat baik jiwa melindungi dan mengharagainya membuat Aresya nyaman dan suka padanya.
Ia membalikkan tubuhnya tidur menghadap Adi lelaki tidur dengan sangat tenang, walau tato di wajah itu membuatnya terlihat garang dan seram, tetapi perhatian yang baik itu membuat Aresya jatuh cinta pada asisten suaminya , tapi saat ia berbalik badan membelakangi Davino, lelaki itu membuka mata, ternyata ia tidak benar-benar tidur, saat Aresya mengeser tubuhnya melihatnya, ia pura-pura tidur, saat Aresya membalikkan tubuhnya memilih kearah Adi ia mendengus kesal.
‘Apa selera hanya sebatas brandalan seperti, itu? Apa seleramu kelas seperti, dia?’ Ucap Davino dalam hatinya.
Tidak tidur satu malam membuat Aresya sangat mengantuk, dengan tubuh memungungi suaminya Aresya ternyata tertidur, tetapi, menghadap pada Adi dari pada melihat suaminya.
Sebagai seorang lelaki dan bos besar dan sebagai seorang suami, ia merasa marah karena harga dirinya terluka, karena ia kalah dari anak buanya sendiri, apa lagi Aresya yang sekarang wanita yang sangat cantik.
‘Kenapa Aresya sekarang tiba-tiba b berubah sangat cantik? Apa benar karena malam itu?’ Davino menatap punggung istrinya.
Karena Aresya masih menghadap kearah Adi ia berpikir Aresya masih menatap Adi, Davino turun dari Ranjang nya dan mendorong ranjang Aresya ia memepet kearah lelaki bertato itu.
“Kamu mau dengannya? Ok aku bantu ….” Ucap Davino jengkel, dengan kakinya ia mendorong ranjang Aresya kearah Adi hingga ranjang keduanya sangat dekat Aresya tidak menyadari apa yang di lakukan Davino, ia tertidur nyenyak, ia tidak tahu kalau jarak tubuhnya dengan Adi saat ini hanya beberapa jengkal dan posisi saling berhadapan.
Siapapun yang melihatnya pasti akan salah paham. “Udah, makan itu lelaki, biar kamu puas, ajak tidur bila perlu,” ucap Davino geram saat Aresya tidak membalikkan tubuhnya, ia tidak tahu wanita itu sudah mendengkur halus.
Davino juga tidur membalikkan tubunya, ia juga tertidur dengn posisi membelakangi Aresya. Kini, ia merasakan bagaimana diacungkan.
Bersambung ...
__ADS_1