
Aresya hanya diam mendengarkan kemarahan suaminya, bagaimana usahanya menjelaskan alasannya, lelaki itu tetap menganggapnya sampah, lebih baik diam, sebenarnya ia serba salah menghadapi sikap keras Davino, ia menjawab akan semakin marah, ia diam seperti ini, akan bertambah marah juga,ia tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi suami arogannya.
“Kenapa diam, kamu tidak punya mulut? Walau kamu mempoles dirimu seperti apapun, kamu itu tetap saja sampah, jadi berhent bernampilan seperti itu, lebih baik aku di suruh bersama setan sekalian, dari pada bersama mahluk jadi-jadian sepertimu.”
Resya hanya diam karena tidak ingin membuat keributan bertamba besar lagi, ia tahu kalau Ny. Marisa pasti sudah memarahi Davino tadi, kali ini lelaki itu melampiakanya padanya juga. Davino menganggap Aresya sebagai lelaki yang menyamar jadi perempuan, karena tubuhnya dipenuhi tato, ia tidak tahu Aresa melukis tubuhnya agar tanda di tubuhnya tersamarkan, ia juga memotong pendek rambutnya dan memakai kerudung, saat Davino melihat tubuhnya malam itu ia merasa sangat jijik dan berpikir kalau istrinya wanita yang dipilih omahnya jadi istrinya adalah manusia setengah jadi, ia berpikir kalau Aresya banci.
“Saya sangat mengantuk pak, saya ingin tidur,” ucap Aresya merebahkan mencoba memejamkan matanya. Hingga suara adzan subuh berkumandang ia tidak bisa memejamkan mata, kepalanya terasa semakin pusing karena tidak bisa tidur, hidupnya berat menghadapi lelaki yang saat ini sudah status menjadi suaminya, belum lagi masalah berat yang ia pikul tentang adeknya.
Arsya satu-stunya tumpuan keluarganya, menjadi tulang punggung untuk keluarganya, bebannya menjadi anak pertama sangat berat, harus mengantikan sosok Ayah yang pergi meninggalkan mereka saat mereka masih kecil.
Ayahnya pergi meninggalkan mereka, demi mendapatkan uang, Aresya mengubah penampilannya seperti laki-laki dan memilik tato, dengan cara itulahia terima bekerja di kapal jadi kuli angkat barang, punya kekuatan super, tidak masalah baginya jika harus melakukan pekerjaan pria, tetapi belakangan, ia diterima bekerja di pabrik tekxtil, kemudian ia mengubah penampilannya dengan menggunakan penutup kepala, saat ia bangun dan merapikan hijapnya di depan kaca, Davino bangun dan melihatnya.
“Tidak ada artinya kamu melakukan itu, kamu pikir Tuhan mau menerima doa orang munafik seperti kamu,” ujar lelaki itu, menarik penutup kelapanya.
Dengan cept Aresya memakai kerudung abu-abu itu lagi.
“Apa yang kamu lakukan? Bapak itu bukan Tuhan yang bisa memutuskan apa saya layak apa tidak, semua orang pernah melakukan kebohongan, tapi bukan berarti , bapak bisa menilaiku seperti itu, aku melakukan semua ini demi melindungi diriku dan keluargaku” ucap Resya dengan suara pelan, ia sengaja memelankan suaranya agar Ny, Marisa tidak mendengarnya.
“Dimana-mana banci tidak di terima , jadi berhenti memakai ini, lebih baik kamu tunjukkan wujud aslimu, kalau kamu ingin banci setidaknya cantik dan mempesona, seperti artis yang tenar karena dia banci, jangan jadi munafik pakai kerudung seperti ini, kamu melukai hati wanita baik-baik yang memakai kerudung di luar sana,” ucap Davino kembali menarik kerudung itu dari kepalanya.
Hatinya begitu terluka, Davino selalu melakukan itu padanya, ia selalu menarik kerudung itu dari kepalanya, tidak membiarkannya tampil layaknya wanita.
Aresya tidak ingin menangis, ia tidak mau bersuara dan ia juga tidak melawan, ia tidak mau NyMarisa bangun dan marah besar , ia tidak mau ada keributan lagi.
__ADS_1
Tubuhnya Aresya menegang telapak tangannya bergetar membentuk cakar, ia ingin mencabik-cabik tubuh Davino dengan kekuatan super yang ia miliki, tetapi, ia kembali menatik napas panjng .
‘Tidak, aku harus bertahan adik dan ibuku harus tetap hidup’ ia membatin menyembunyikan kembali kekuatannya.
Aresya bangun dan ikut membantu bu Darma mempersiapkan serapan pagi untuk Davino dan Ny Marisa.
“Eh, Non sudah bangun tidak usah, biar Ibu saja yang mempersiapkan serapan, Non siap-siap saja mandi dan turun ke sini lagi,” ucap Bu Darma.
“Tidak usah bu, aku ikut bantuin biar cepat, Oma juga sebentar lagi pasti minta serapan,” kilah Aresya padahal dalam hati, ia berharap Davino keluar dari kamarnya agar ia bisa mandi dengan tenang kalau lelaki itu dalam kamarnya saat ia mandi segala hinaan dan seluruh penghuni kebun binatang akan keluar dari mulut lelaki itu.
“Baiklah mari potong-potong sayuranya, kita buatkan serapan untuk Nyonya besar,” ucap Bu Darma. Tapi tidak di sadari Ny.Marisa sudah berdiri di cabinet dapur, menatap kearah Aresya yang ikut memotong sayur, sebenarnya hal yang biasa yang Resya lakukan di rumah itu, ia selalu membantu Bu Darma masak baik untuk mereka berdua baik untuk suaminya kalau kebetulan pulang ke rumah.
“Apa yang kamu lakukan pada Aresya, BI?” tanya Wanita itu menatap asisten rumah tangga itu dengan tegas.
“Hentikan itu, jangan pernah sekali-kali kamu suruh ia melakukan itu, dia adalah Nyonya di rumah ini, hentikan itu…” pintah Ny.Marisa.
“Ba-baik Nya,” ucap Bu Darma dengan takut.
Aresya hanya menurut apa yang di katakan nyonya besar itu, ia duduk di meja makan dan membiarkan Bu Darma yang mengerjakanya.
“Suruh turun Davino, ini sudah jam berapa, kenapa anak itu belum juga bangun dasar pemalas,” ucap Ny. Marisa dengan nada kesa.
Di suruh bangun atas perintah Ny.Marisa, Davino segera bergegas masuk kekamar mandi dan turun, sebelum turun ia menarik napas panjang, ia tahu ia akan mendapat ceramah panjang lebar dari Omahnya.
__ADS_1
Duduk di meja makan dengan diam, menikmati serapan pagi sampai selesai baru bisa bicara, salah satu tradisi di keluarga Erlangga, mereka tidak bisa membahas topik lain selain dari makanan yang mereka makan.
Setelah selesai serapan pagi baru membuka topik lain, Ny.Marisa duduk di kursi tamu mengajak Davino dan Aresya ikut duduk.
“Dengar… baik-baik Davino, Aresya akan kita bawa tinggal dengan kita pindah ke rumah utama di Jakarta,” ucap NY. Marisa.
“Jangan Omah, biarkan Aresya tetap tinggal di sini, aku janji akan berbuat baik dengannya,” ucap Davino berjanji.
“Kamu, sudah aku beri waktu beberapa lama Davino, aku tidak suka menunggu apalagi di ingkari janji, aku paling tidak suka lagi kalau kamu bertidak kasar padanya” ucap Wanita itu menatap cucunya dengan tatapan tegas.
“Baik Omah aku akan mengingatnya.”
“Aresya lakukan tuga kamu sebagai istri layani suami dengan baik kabari aku kalau ida maca-macam, kalian berdua dengarkan aku baik-baik, aku hanya ingi suara bayi ada di rumah ini”
“Baik Oma” Marisa
“Kalian berdua harus berikan aku cucu aku rindu mendengar tangisan bayi,” ucap
‘Bayi kucing? Banci kaleng ini tidak akan memberikan omah seorang cucu’ ucap Davino dalam hati ia menatap sinis kearah Aresya.
Apa Davino mau menyentuh Aresya dan memberikan omanya cucu?”
Bersambung ….
__ADS_1
Bantu vote like dan vote kakak.