
Devan masih mengobrol santai dengan Aresya di atas kapal Davino.
“Benarkah? Tapi kenapa ia memperlakukanmu sangat berbeda dengan yang lain, bahkan kamu juga dikawal empat orang bodyguard?” tanya Devan dengan tatapan mata menyelidiki.
“Itu karena aku yang kemarin yang mengumumkan penutupan gedung itu, aku juga yang menangkap para mafia dalam pabrik, jadi Bu Marisa berpikir kalau hidupku dalam bahaya,” ucap Aresya memberikan jawaban seadanya.
“Aresya sudah menikah?”
“Haaa?”
‘Kenapa jug lelaki ini bertanya seperti itu? apa hubungannya pekerjaanku dengan menikah’ucap Aresya dalam hati.
“Jangan salah paham Aresya, aku hanya diminta Nyonya Marisa menemani kamu”
“ Oh,Sudah pak, aku sudah menikah,” jawab Aresya, ia berharap Devan tidak bertanya lebih jauh lagi tentang dirinya.
“Woi… Devan! Apa yang kamu lakukan di situ?” teriak Riko meneriaki mereka berdua dari kapal sebelah.
Tidak lama kemudian Davino muncul dari dalam kapalnya, lelaki berwajah tampan itu baru selesai mandi.
“Kalian berdua lagi lagi ngapain?” tanya Davino kali ini matanya melihat baju yang dipakai Aresya.
‘Ini orang mau komentar apa lagi, aku yakin, dia mau mengomentari pakain yang aku pakai lagi’ ucap Aresya mulai memasang kuda-kuda persiapan mental.
Tidak berapa lama teman-teman Davino ikut berpindah tempat, datang ke kapal Davino lagi.
“Kamu pergi sana, aku mau duduk, kami mau ada acara,” ucap Davino mengusir Aresya, seolah-olah istrinya tidak ada artinys sedikitpun.
“Jangan, kita datang kesini ingin mengobrol dengan Aresya, hai kakak namaku Riko kita belum sempat berkenalan tadi,” ucap lelaki palayboy itu mengulurkan tangannya.
“ Aresya,” ucap Aresya dengan ramah, menyambut uluran tangan Riko.
“Sudah Sana! Majikan kamu menunggumu,” ucap Davino, melepaskan tanga Riko dan mengusir Aresya.
Aresya meninggalkan kapal Davino, namun, dalam hati ia merasa sangat kesal karena Davino selalu bersikap seenak sendiri dengannya.
‘Dasar manusia iblis, sombong, angkuh, dasar gila” ucap Aresya menahan kemarahan
“Kenapa?” tanya Lilis, menjatuhkan panggulnya di samping Aresya.
“Kenapa sih manusia-manusia sombong itu ikut bergabung dengan kita tadi, tidak ada mereka akan lebih seru”
“Tenang, mereka sudah pergi, aku punya cara agar malam minggu kita menyenangkan,” ucap Adi menyalahkan api unggun dalam tong yang sudah dipotong, membuka minuman yang mereka bawa tadi.
“Siapa yang bisa main gitar?” tanya Adi
“Aku bisa” jawab Aresya, setiap kali Adi ia akan mmerasa senang.
Saat Davino dan teman-temanya meninggalkan kapal, mereka mengadakan pesta, Ny. Marisa datang dibalut selimut tebal dan mengunakan jaket , ia ikut bergabung, padahal Davino baru saja ingin membawa kapalnya ke dermaga.
__ADS_1
“Tunggu, tunggu kok mereka seru-seruan lagi, mau ikut gabung mereka saja ada minuman juga ”
“Aku juga,” timpal Riko.
“Eh, kenapa jadi ikut orang-orang kampug itu, kita ke bar, gue yang bayaran,” ucap Davino.
“Tidak, ikut mereka saja, bosan ke bar, nanti aku di cegat di sana,” ucap Riko, mengincar Aresya
“Makanya jangan banyak-banyak, wanita kamu pelihara repot sendiri, kan lu,” ucap Davino.
“Tidak, aku mau kesana saja lebih seru dapat teman baru”
“Aku juga,” timpal Kiki dan Devan.
“Kami mau pulang saja ikut kalian membosankan,” ke empat wanita itu memilih pulang,
Mereka ikut gabung lagi ke kapal Ny. Marisa.
“Eh, kalian balik lagi, bukannya ingin pulang tadi?” tanya Omah Marisa.
“Tidak jadi omah, di sini lebih seru” Riko ia memilih tempat duduk yang lebih dekat dengan Aresya
Tapi Davino juga ikut kembali ke kapal, duduk di tengah di antara mereka berdua.
‘Kamu mau kabur lagi? Sono kabur ke laut ucap’ Davino dalam hati, melirik Aresya.
“ Ini, kakak saja yang petik gitarnya biar lebih bagus kita yang bernyanyi” Aresya menyodorkan gitarnya pada Kiki.
“Urus saja, urusanmu,” ucap Aresya kesal
Tapi tiba-tiba Davino membuka jaketnya meletakkan di atas pangkuan Aresya
Melihat itu, temana-teman Davino semakin curiga terutama Devan, lelaki itu meyakini kalau Aresya punya hubungan khusus dengan Davino.
“Terimakasi pak Davino,” ucap Aresya berpura-pura
Ny. Marisa hanya melihat sikap Davino yang tiba-tiba jadi perhatian.
‘Omah yakin suatu saat matamu akan terbuka pada Aresya , omah ingin kamu melihat kebenaran mana wanita yang pantas kamu perjuangkan Marisa’ dalam hatinya.
“Sama-sama,” balas Davino mengertak giginya.
Riko bangun.”Omah, boleh saya mengajak Aresya berdansa?”
“Oh silahkan, kalau Aresya mau,” ucap Marisa.
Mata Davino menatap omanya dengan tatapan sinis.
“Aresya, mau menari denganku?”
__ADS_1
“Haaa, aku tidak tahu menari, Rini pintar, dia ahlinya,” ucap Aresya.
“Saya akan mengajarimu Nona,” ucap Riko ia terlihat jadi manusia bebas karena wanita yang menemaninya dari siang sudah pulang.
“Dia tidak bisa menari orang kampung mana tahu,” ucap Davino.
Mendengar penghinaan itu sebenarnya Aresya malas menanggapinya, namun ia juga bisa menari, Aresya berdiri menerima uluran tangan Riko , ternyata Davino kepanasan juga.
‘Biar bagaimanapun, aku ini suamimu bodoh, apa kamu tidak bisa menghormatiku?’ Rutuk Davino.
Marisa tertawa kecil melihat wajah kesal Davino. “Saya mengantuk, ini acara anak muda, Oma mau tidur duluan,” ucap orang tua itu bergegas menuju kamar, tapi sebelum ia turun ia memanggil Adi.” Awasi Aresya kalau Davino marah-marah padanya jauhkan dia dari Davino,” pintah Ny Marisa.
“Baik Bu”
Riko dengan sabar menuntun Aresya, ia memegang pinggang Atesya, hanya melakukan tarian kecil dengan obrolan santai, sesekali tertawa.
Davivo kepanasan. ‘Aku saja sebagai suami belum menyentuh Aresya tapi Riko sudah berani menyentuhnya memegang pinggannya dan berbisik padanya’
“Aresya aku tidak tahu ada hubungan apa kamu dengan Davino, aku ingin membuat lelaki itu kepanasan dan marah” ucap Riko ia hanya ingin mengerjai Davino.
“Hanya hubungan antara atasan dan bawahan, apapun yang kita lakukan, tidak terpengaruh untuknya,” ucap Aresya.
“Kamu yakin?”
“Hmm”
“Saya minta izin boleh aku menyentuh punggung bagian belakangmu, kamu lihat bagaimana reaksinya,” ucap Riko,
Belum juga ia menyentuh.
Davino sudah menyeret Aresya membawanya pergi.
“Eh … mau di bawa kemana?” tanya Aresya dengan panik, ia memegang perutnya, pengawal Aresya ikut panik dan mengikuti Davino.
Davino menyeretnya sampai ke bawah. Ia berhenti di samping kamar Ny. Marisa, ia bahkan tidak menyadari kalau ada Ny Marisa mendengar dan melihat apa yang ia lakukan. “ Tidak seharusnya kamu melakukan itu, karena kamu sudah wanita bersuami,” ucap Davino marah.
“Pak Davino yang seharusnya tidak melakukan itu, mereka akan bigung dan bertanya tentang apa yang yang bapak lakukan ini”
“Terus, aku akan diam kalau kamu disentuh lelaki?”
“Kami hanya menari biasa, sebagai seorang teman bapak seharusnya diam saja, kalau tidak, bapak pergi, tidak usah melihat”
“Oh begitu iya, apa kamu pikir kamu lebih cantik setelah melepaskan penutup kepalamu dan bisa memerkan auratmu, apa kamu bangga dengan dirimu yang sekarang?”
“Lagi, lagi kamu hanya bisa menuduh dan memfitnah tanpa tahu permasalahanya , dasar,” ucap Aresya ia meninggalkan Davino.
“Kamu mau kemana, aku belum selesai bicara” bentak Davino.
“Setiap kata-kata yang keluar dari mulut bapak, pasti mengandung racun membuat orang sakit hati, jangan bicara denganku lagi” ucap Aresya pergi.
__ADS_1
Bersambung...