
Mencoba Merayu.
Kirana masih bertingkah seolah-olah tidak ada yang terjadi, ia berpikir perselingkuhannya dengan Alir tidak diketahui Davino, jadi saat datang menemui Davino ia masih bersikap manja
“Sayang, kok melamun sih, aku datang menjemputmu loh, ayo kita makan di tempat biasa habis itu kita bar yang biasa bagaimana?”
“Aku tidak bisa Ki, oma memberiku tugas berat hari ini, harus menyelesaikannya malam ini juga dan besok akan aku serahkan laporan, aku harus lembur,” ucap Davino membuat alasan agar tidak bersama Kirana.
“Kok tumben mau lembur ,biasanya , ogah, ada apa?”
“Aku hanya ngin membuktikan pada oma, kalau aku bisa,” ucap Davino. Ia membuka laptopnya kembali, padahal ia sudah sempat menutupnya untuk pulang, karena ada Kirana ia pura-pura sibuk, padahal ia hanya memeriksa dokumen yang sudah ia periksa tadi.
Davino berharap Kirana merasa bosan dan meninggalkanya, namun perkiraannya salah, entah apa yang dipikirkan Kirana ia menunggu Davino dalam ruang kerjanya malam itu. Maka dua konflik batin terjadi saat itu, saat Davino ingin bertahan agar Kirana meninggalkannya, namun Kirana bertahan menunggunya. Hal yang tidak biasa dari perempuan itu, sebelumnya ia tidak pernah menunggu, hal yang paling tidak disukai adalah menunggu, namun, kali ini kebiasaan itu ia tinggalkan. Setelah hampir satu jam dalam ketidak pastian , akhirnya Davino membuat keputusan.
“Baiklah kita pulang, aku mengerjakan di rumah saja,” ucap Davino melihat Kirana yang masih bertahan.
“Jangan kerja lagi sayang, kita ke klup aja, ayo,” ucap Aresya dengan nada manja.
Akan tetapi, segala rayuan dan bujuk manis tidak berlaku lagi untuk Davino, baginya Kirana seorang wanita yang kotor yang tidak bisa menjaga kehormatanya, karena ia sudah berbagi kehangatan dengan lelaki lain, itu kesalahan yang tidak bisa ia maafkan.
“Aku tidak bisa Ki, kalau kamu mau pergi, pergilah sendirian, aku mau mengerjakan ini dulu”
Kirana diam, wajahnya terlihat menimang antara mau pergi atau bersama Davino, sebenarnya ia ingin klup namun ia tidak ingin meninggalkan ia ingin tidur dengan Davino untuk menutupi kebodohannya, dan keputusan yang salah malam itu.
“Tidak usah, aku mau sama kamu saja”
“Tidak masalah, kita akan pulang dan aku mengerjakan ini” ucap Davino.
Karena Kirana membawa mobil menjemput Davino, jadi Davino memutuskan mengendarai mobil Kirana, pak Darma membawa mobilnya Davino pulang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Davino tidak bisa berpura-pura seakan semua baik-baik saja, semua yang di lakukan membuat dirinya banyak berubah, ia merasa jijik melihat Kirana, tetapi ia mencoba bertahan.
“Kok diam aja sih sayang,” ucap Kirana menyentuh pipi Davino.
‘Singkirkan tangan kotormu dariku’
“Tidak apa-apa hanya lelah saja,” ucap Davino mengarahkan wajahnya ke arah samping, seakan ia melihat kaca spion,padahal ia tidak ingin tangan Kirana menempel di wajahnya.
*
Setelah beberapa perjalanan, akhinya mobil berwarna merah milik Kirana berhenti juga di depan rumah besar keluarga Erlangga, saat Davino yang datang tanpa di tekan Bel, saat ia keluar dari mobil Kirana, gerbang sudah terbuka.
Ia berjalan mendahui Kirana, wajah Davino terlihat tidak bersemangat, meletakkan laptop dan berkasnya dia atas meja, menuangkan segelas air melepaskan dahaga yang mencekak sepanjangn perjalanan, meneguknya hanya beberapa tegukan.
Saat ia berdiri, tangan Kirana melekat di pinggannya memeluknya dengan manja dari belakang, hal yang biasa yang di lakuk Kirana saat mereka lagi akur dulu.
“Aku belum mandi Ki, kamu duluan saja,” ucap Davino menolak.
Tetapi sikap Kirana , membuat Davino kesal, ia memaksa dengan sikap manja.
“Ayolah sayang, aku akan mengosok tubuhmu” Kirana melepaskan kancing kemeja Davino.
“Tolong Ki, jangan memaksa aku tidak suka dipaksa, aku belum ingin mandi duluan saja”
“Baiklah aku duluan,” ucap Kirana ia mendesah manja di kuping Davino, sengaja ia melakukan itu agar lelaki itu teransang, namun bukanya terasang Davino malah merasa jijik ia membayangkan ia melakukan itu pada Kenzo juga.
‘Wanita tidak tahu malu’ maki Davino dalam hatinya
Di depan Davino Kirana menggalkan pakaianya, satu persatu, namun Davino menghiraukanya, ia membuka laptopnya dan memeriksa beberapa berkas menatap dengan serius, ia menghiraukan Kirana yang sudah bertelanjang di depanya menatap manja padanya.
__ADS_1
“Ki, kalau kamu mau mandi, mandilah,” ucap Davino
“Baiklah.” Kirana berlenggok lenggak menuju kamar mandi namuan Davino tida merasa tertarik sedikitpun, ia sudah terlanjur kecewa melihat Kirana, apapun yang ia lakukan saat ini, semua tidak berarti baginya.
Saat Kirana mandi Davino memutuskan turun dan ia ingin makan malam sendiri, ia tidak ingin nanti Kirana punya alasaan memintnya minta di temanin makan malam. Kalau ia ingin makan, ia harus makan sendiri, Davino baru turun, kebetulan papinya juga baru pulang .
“Vin, tumben cepat pulang, mana Kirana ,” tanya Sutomo belum tahu apa yag sudah terjadi.
“Dia lagi mandi Pi, Papi udah makan belum? makan denganku, Pi”
“Boleh, boleh kebetulan Papi belum makan malam”
Sutom meletakkan jasnya di belakang kursi, makan dengan putranya hal yang sangat jarang ia lakukan. Apalagi belakangan ini karena kesibukan masing-masing yang semakin padat.
Hanya makan berdua dengan papinya , namum Davino sudah terlihat angat senang, ia tidak butuh Kirana menemaninya, ia hanya butuh orang yang tulus mencintainya.
Tidak ada obrolan selama makan, itu sudah tradisi, tetapi setelah selesai makan, anak bapak duduk di ruang tamu, membicarakan banyak hal, tetawa dan kadang terlihat sangat serius itulah yang terjadi antara bapak dan anak saat itu.
Dalam kamar, Kirana keluar dari kamar mandi hanya mengunakan handuk, ia tadinya ingin merayu Davino, padahal ia sudah melumuri tubuh dengan minyak wangi kesukaan Davino, wangi Vanila, Davino sangat menyukai wangi Vanila saat Kirana menggunakanya.
Namun ia sangat membnci bau itu, saat Kirana datang malam itu, ia menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya terlalu banyak, untuk menyamarkan bauh parfum Kenzo, namu Davino tahu, ada bau lain yang melekat di tubuh Kirana malam itu, bukan miliknya namun ia tahu milik Kenzo, karena ia beberapa kali serinng duduk bersama di bar.
Kirana kesal karena Davino tak kunjung datang padahal ia sudah duduk dengan pose cantik di tepi ranjang. Hanya mengunakan handuk yang melilit di tubuhnya.
Namu sudah hampir satu jam, ia menunggu Davino dalam pose seperti itu, sampai kakinya terasa kram namun lelaki yang dinanti yang ditunggu, tak kunjung datang.
Ia kesal, dengan wajah terlihat kecewa, dan mulut mendumal kesal, ia memakai piyama. Niat ingin merayu Davino gagal lagi.
Bersambung.
__ADS_1