
Dokter yang masih muda itu dengan cepat datang ke kamar Davino, Aresya masih meringis menahan nyeri di bagian perutnya.
Saat Davino panik, ia jauh lebih takut, takut sesuatu terjadi pada calon anak yang di kandung.
Hanya sekitar sepuluh menit dokter muda itu memeriksa Aresya.
“Apa yang terjadi, Dok?” tanya Davino menatap dokter dengan tatapan mata memburu.
“Apa Non Aresya tidak makan tadi pagi?” Davino menyengingat alisnya menatap kearah Aresya.
“Iyaa-a-aku kelupaan,” ucap Aresya gugup matanya melihat Davino.
“Kamu … kenapa tidak makan?”
“Iya aku lupa aku ketiduran, karena kamu yang biasa yang membangunkanku, tetapi tadi pagi kamu pergi begitu saja”
“Haaa!” Davino menghembuskan napas kesal, saat diberi perhatian ia menolak, giliran tidak memberi perhatian seperti itu, ia langsung sakit.
“Baiklah Non Aresya jangan terlambat makan, lagi aku sudah bilang, Non Aresya ada mag jadi tidak bisa terlambat makan”
‘Tampan juga dokternya’ Aresya berucap dalam hati.
“Baik Dok, aku akan mengingatnya,” ucap Aresya tersenyum kecil, saat memandang dokter berwajah tampan itu, hal yang hampir tidak pernah ia lakukan untuk Davino suaminya.
“Sudah… tidak usah senyum-seyum,” ucap Davino menatapnya dengan tatapan sinis.
Aresya ingin bangun dari ranjang.”Dok, tolong bantu aku untuk berdiri,” ucap Aresya meminta dokter berwajah tampan itu yang menolongnya, saat Davino mendekat ia malah menolaknya.
“Tidak usah, dokter tampan saja,” ucap Aresya menatap dokter.
Lelaki yang memakai jubah berwarna putih itu mendekat dengan senyuman kecil, kemudian, mengulurkan tangannya membantu Aresya bangun.
“Bawa saja Dok ke kamarmu barang kali ia menginginkan kamu lagi”
Dokter menutup mulut mengunakan pungung tangannya, tertawa kecil, ia merasa lucu melihat kecemburuan Davino pada istrinya yang sedang hamil.
“Aku akan membuat resep dokter untuk No Aresya, nanti sehabis makan boleh memakanya.
__ADS_1
Saat dokter keluar, pun, Aresya masih melihat, Davino hanya bisa mengeleng.
“Kenapa belum makan dari tadi pagi, kamu cari masalah?” tanya Davino masih melirik Aresya.
“Kenapa dokter itu begitu tampan iya,” Aresya mengelus perutnya masih melihat ke arah pintu.
“Aku jauh lebih tampan dari dia, dia hanya menang di kulit yang putih saja” ucap Davino berdiri di depan Aresya.
“Ckkk .… awas jangan menghalangi pandanganku, aku ingin pendampingku seperti dia nanti,” ucap Aresya, ia duduk di sisi ranjang.
“Ok baiklah, sekarang dokternya sudah pergi sudah bisa aku bicara? Apa kamu masih sakit?”
“Tidak lagi”
“Masih mau nasih goreng gak? biar aku belikan.”
“Tidak lagi, aku mau tidur saja”
“Tidak, kamu makan nasi sedikit dulu baru biar minum obat baru tidur”
“Baiklah”
“Baiklah, aku akan melakukan demi kebaikan anak ini.
Karena kejadian hari itu, hubungan keduan sedikit melentur Aresya demi anak dalam kandungannya ia mau membuka diri untuk bicara dengan Davino, perlahan tapi pasti, berkat kerja keras lelaki berwajah tamapn itu, akhirnya bisa lebih dekat dengan Aresya, tidak mudah mendapat hati dari seorang Aresya, terlalu sering mendapat penghinaan dan kekerasaan Davino, ia membangun satu tembok tinggi pada lawan jenisnya, Davino yang punya tekat akan menjaga buah hatinya, ia bekerja keras sesuai janjinya pada omanya, ia berjanji mampu menjaga Aresya dan mampu berubah demi calon si buah hati.
*
Aresya juga menepati janji demi anak ia akan berbaikan dengan Davino ….
“Aku mau makan rambutan kira-kira ada yang musim ga ya?” Tanya Aresya menurunkan celana yang ia pakai, alhasil perut besarnya terlihat.
Ny. Marisa sangat gembira pada Davino karena ia bisa menjaga Aresya hingga sampai saat itu.
“Lah, bukannya kamu tadi minta buah apel, kan’ aku sudah beli”
“Sudah habis,” ucapAresya dengan santai.
__ADS_1
“Itu kamu makan semua?”
“Bukan dia yang makan” Aresya menunjuk perut bucitnya.
“Iya ampun Sya, aku takut perutmu meledak kalau kamu memasukkan semua ke dalam perutmu, kamu ngidam aneh-ane, makan sangat banyak, tubuhmu bengkak”
“Tidak apa-apa yang penting dia sehat,” kilah Aresya kini di atas ranjang ia suda memegang cemilan di tangan setelah sebelumnya sudah memakan buah apel.
“Jangan makan di tempat tidur! Nanti saat tidur banyak semut,” ucap Davino protes.
Bukannya menurut, ia malah cuek bebek dengan mata terfokus ke layar televisi. Walau kadang masih adah sikap dingin itu. Namun, Davino tidak lagi menghiraukan , bisa mengobrol dan ia mau menerima perhatain darinya, itu udah lebih dari cukup, walau masih ada, terkadang tatapan acuh, sinis, tidak perduli masih sering ia terima dari Aresya. Namun, ia tetap berusaha memberikan perhatian pada istri dan anaknya. Apa yang dilakukan Davino pad Aresya dulu, hukuman yang ia terima jauh lebih berat ia terima dari Aresya.
“Hei, apa kamu dengar aku?” tanya Davino memegang kedua pipi Aresya.
Tiba-tiba mata bermanik hitam itu menatap Davino, Aresya memajukan kepalanya dan bibirnya mendarat di bibir Davino, mata Davino memutar karena terkejut bagai mimpi.
Aresya mengercap bibirnya dengan lembut dan menutup matanya.
Tidak mau mengabaikan kesempatan baik, tangan Davino mengelus perut bucit Aresya dengan lembut, pikiranya sudah melayang dengan segala jenis gaya akan ia lakukan, ia berpikir Aresya sudah menginginkannya, karena semester sulit atau hamil muda sudah terlewatkan, justu saat ini dalam usia kehamilan seperti ia membutuhkan kehangatan dan kebutuhan aktivitas ranjang.
Davino mengelus perutnya dengan lembut, ia sudah membayangkan gaya yang akan mereka gunakan.
Namun, saat ia membuka kancing tiba-tiba Aresya menarik dirinya.
“Selamat malam, mari kita tidur aku sangat mengantuk”
“Apa ini…! kamu mengejaiku. Kamu yang membangunkanya akan susah untuk menyuruhnya tidur lagi Aresya… kamu tanggung jawap.”
“Aku hanya igidam kiss, anakmu yang minta”
“Kamu selalu menjadikanya alasan, tolong jangan seperti ini”
Aresya merebahkan tubuhnya, Davino masih mendumal kesal atas perlakuan Aresya yang tidak bertanggung jawab , juniornya tidak mau di suruh tidur lagi, ia akan merasakan sakit kepala jika tidak menuntaskannya.
“Tidurlah, besok kamu akan bekerja,” ucap Aresya menatap Davino sekilas.
“Tidak… tidak boleh seperti ini, kamu mengerjaiku”
__ADS_1
Davino membalikkan tubuh Aresya dengan perlahan, mendaratkan bibirnya lagi di bibir, ia menunstaskan apa yang sudah di mulai Aresya padanya. Walau dengan gaya yang sulit namun Davino dapat mendapatkan kehangatan malam itu, ia merasa sangat senang karena Aresya menerima sentuhan tanpa ada penolakan lagi, malam panas antara keduanya terjadi begitu saja.
Bersambung