Aresya

Aresya
Akibat Salah Kamar


__ADS_3

Aresya dan Davino, mendatangi rumah sakit yang ditunjuk Ny, Marisa, mereka berdua datang, untuk melakukan pemeriksaan.


“Apa kita sudah bisa mulai hari ini, aku tidak ingin bolak balik ke rumah sakit, itu melelahkan,” ucap Davino,  ia sudah tahu dan berpengalaman,  karena sudah pernah melakukanya dengan Kirana istrinya , namun tidak berhasil.


“Boleh asal pak Davino sudah siap”


“Saya siap Dok , lalukan sekarang,” ucap Davino.


Aresya masih di ruangan dokte kandungan, dibawah pengawasan ketat para pengawal yang mengikutinya, ia  mengikutisemua  anjuran dokter, sementara Davino masuk ke satu ruangan, ia akan kembali  melakukan pemeriksaan,  di mulai dari darah.


Setelah selesai bertemu dokter kandungan Aresya menemui Davino di ruangan dokter lagi, mereka akan berpura-pura melakukan program bayi tabung ulang.


Davino mulai merasa gelisah, saat Davino melihat jarum suntik, saat Davino ketakutan melihat jarum kecil itu, tetapi tidak untuk Aresya


“Bisa saya yang menyuntiknya sus, saya lebih merasa nyaman kalau melakukan sendiri,”  ucap Aresya ia melakukanya sendiri.


“Ibu sangat berani,  kalau biasanya pasien  kebanyakan ketakutan saat melihat jarum,  ibu malah melakukan sendiri”


 Setelah meunggu beberapa lama untuk  hasil cek darah,  semua baik. Sekarang saatnya untuk pemeriksaan  yang paling penting,  Davino mengeluarkan cairan miliknya,  hal yang paling ia benci,  karena ia harus bekerja keras untuk melakukan itu.


“Silahkan pak Davino masuk ke ruangan Men’s room  dan ini tempat penampungnya, apa bapak melakukannya sendiri,  apa perlu bantuan istri bapak untuk membantu bapak mengeluarkanya?”


Davino menatap sinis kearah Aresya, sayang aresya awalnya tidak tahu Davino disuruh untuk apa.


“Saya lakukan sendiri sus,” ucap Davino masuk keruangan khusus, ruangan yang akan membuatnya berpeluh keringat untuk mengeluarkan cairan benih miliknya.


“Suami saya  mau kemana sus?” tanya Aresya, ia penasaran dengan ekpresi wajah Davino yang terlihat sangat kesal saat masuk ke dalam ruangan itu.


“Ibu penasaran?” tanya perawat yang terlihat sudah mulai tua.


“Tidak, saya hanya penasaran dengan sikap suami saya tadi,” ucap Aresyah .


“Karena itu …  mungkin suami anda butuh bantuanmu, biasanya ikut istri akan lebih cepat, karena biasanya para pasangan juga melakukan bersama, mari ikut saya,  bantu suami ibu  agar cepat selesai”


Aresya  menurut,  karena ia tidak tahu apa yang dilakukan Davino, ia masih polos. “Masuk lah ini kamarnya,” ucap seorang perawat.


Dengan sikap baik dan penurut Aresya mau, ia berpikir demi kebaikan.


‘ Men’s room’


Tok … Tok …

__ADS_1


Aresya masuk,  tapi apa yang ia lakukan malah  sebuah malah petaka.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Davino dengan wajah memerah antara marah malu dan prustasi.


Aresya  mematung menyaksikan  yang terjadi, Davino duduk dengan celana tergeletak di lantai tangannya memegang botol kecil  yang ia tampung dari pusakanya dan di depan,  dalam layar ada flim dewasa untuk membantunya mengeluarkan cairanya.


Aresya tidak tahu sama sekali kalau Davino sedang melakukan hal itu, Aresya mematung dengan mata melotot, Ia melihat Davino  setengah terbuka dari kaki sampai pinggang, melihat dengan jelas benda besar milik Davino.


Wajah Davino  pucat dan berantakan,  ia sangat kesusahan mengeluarkan miliknya,  hampir satu jam bahkan ia sudah menonton hingga tiga kaset dan satu majalah dewasa  baru berhasil menampung sedikit, namun saat ini,  Aresya berdiri di depanya, degan wajah pucat.


“Maafkan aku,  tadi suster menyuruhku masuk,” ucap Aresya panik dengan wajah memerah, ternyata ia masuk ke tempat yang salah.


Davino merasa sangat kesal, ia menyerahkan cairan yang sudah ditampung tadi dan meninggalkan rumah sakit dengan langkah buru-buru, ia menunggu Aresya dalam mobil.


Membiarkan Aresya mengobrol dengan dokter, seteleh dokter melakukan


“ Bu, Bu Marisa memintaku memberikan vitamin penguat kandungan, jangn sampi suami melihat, semoga sukses”


“Baik Dok” ucap Aresya dengan wajah masih pucat.


“Datanglah lagi nanti untuk pemeriksaan bayinya ”


“Baik Dokter,” ucap Aresya masih setengah sadar.


 “Kemana? Apakah ia masih marah? Aduh mataku jadi ternodai, aku juga tidak tahu kalau itu ruangan yang seperti itu,”  ucap Aresya ia memilih duduk sebentar untuk menenangkan pikiranya.


Berjalan keluar dari rumah sakit, ia menuju parkiran, saat melihat mobil Davino ia menarik napas panjang sebelum ia masuk ke dalam mobil.


Lelaki itu  menyadarkan kepalanya di jok mobil, ia menutup  wajahnya dengan lengannya, terlihat putus  asa dan marah.


“Apa kamu sengaja datang ke ruangan itu menertawakanku?” kata Davino saat ia masuk.


“A-a-aku sungguh tidak tahu,” ucap Aresya terbata-bata.


“Puas kamu,  tertawalah sekarang” ucap Davino dengan suara meninggi.


“Saya tidak tahu,  kalau itu ruang  untuk melakukan hal yang seperti itu, perawat menyuruhku masuk,  untuk membantumu agar cepat, aku mau saja,   saya pikir bisa membantu,” ucap Aresya dengan suara pelan, ia juga merasa sangat malu ….


“Bodoh, dasar wanita bodoh, masa kamu tidak  tahu hal seperti itu”


“Saya belum pernah menikah, saya juga belum pernah melakukan bayi tabung dari mana aku tahu, wajar kalau aku melakukan kesalahan, terus apa salahnya kalau aku masuk, aku kan hanya ingin membantu”

__ADS_1


“Membantu kepalamu … kamu hanya membuatku malu,” ucap Davino.


“Apa salah,   saya masuk saya’kan istrimu”


“Oh …  begitu, baiklah kamu yang mengatakanya”


Davino menghidupkan mesin mobilnya dan  memutar balik kendaraanya, membawanya  ke Villa yang satunya lagi, villa yang dekat dengan makam Ibunya.


“Apa yang kamu lakukan” tanya Aresya  bigung.


Davino membuka pintu mobil di sebelah Aresya menyeretnya tangannya.


“Apa kamu lakukan?”


“Berteriak,  kalau kamu  tidak tahu malu”


“Semua orang melihatmu, lepaskan tanganmu” ucap Aresya mencoba melepaskan gengaman tangan Davino.


Davino membawanya Villa keluarga,  tempat ia bersinggah setiap kali datang ziarah ke makam maminya.


Menyeretnya masuk, Davino melepaskan pakainya. “Kamu bilang ingin membantuku tadi,  sekarang lakukanlah”


Mata Davino menatapnya dengan tajam,  Aresya duduk dengan tenang.


“Maafkan saya tadi,” ucap Aresya melihat kemarahan Davino.


“Terlambat untuk kamu meminta maaf, kamu bilang tidak apa-apa karena kamu istriku, sekarang juga aku katakan tidak apa-apa karena aku juga suamimu. Ia mendekat dan meraih bibir aresya dengan kasar tadinya Aresya bersikap tenang,  karena ia melihat Davino dalam kedaan marah, namun ucapan Davino membuatnya murka, Davino bilang. “Saya akan bayar untuk malam ini jika perlu”


“Apaaa?”


Pak …


Aresya menamparnya tidak terima saat Davino merendahkanya lagi.


“Kamu istriku”


“Kamu berengsek dengan  mulut berengsekmu” Aresya mendorong tubuh Davino.


‘Aku sedang hamil jangan lakukan itu, jangan menyakitinya’ ucap Aresya dalam hati, wajah Aresya panik saat Davino mengunci kedua tangannya lalu  meraih bibir Aresya menikmatinya dengan kasar.


Apakah kandungan Aresya akan selamat?’

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2