Aresya

Aresya
Rencana mencetak anak gagal


__ADS_3

Dalam kamar itu Davino masih mengintimidasi istrinya, ia sangat benci yang namanya pernikahan dan benci wanita yang ia anggap munapik


Kenapa kamu tidak mau melawanku, ayolah tunjukkan wajud aslimu  jangan pakai itu lagi , tidak cocok untukmu, ia menangis kamu pakai, kalau pakaian itu bisa bicara pasti  ia berteriak tidak mau kamu pakai,” ucap Davino. Ia bersikap merendahkan dan bersikap sangat Bar-Bar pada Resya.


Aresyah hanya diam, apapun yang dikatakan Davino padanya ia hanya akan bertahan  dan  bertahan, sekuat tenaga, selagi raga masih bernyawa,  ia akan memilih bertahan dengan sikap  kasar Davino, sikap kasar, sombong,  dan tidak mau menerimanya sebagai istri,


“Baiklah, aku tidak perduli lagi kita lakukan saja nanti malam,” ujar Davino.


“Saya ingin bekerja Pak”


“Tidak usah, sebaiknya kamu mandi kembang tujuh rupa agar tubuh tidak membuatku jijik dan muntah  nanti malam,” ujar Davino.


Tidak tahan dengan kata-kata penghinaan itu, Aresya tidak tahan lagi ingin rasanya ia menggunakan kekuatan supernya untuk menerbangkan tubuh Davino  kelaut. Tetapi ia menahanya, jika ia menggunakannya keberadaanya akan di ketahui Kadas mahluk jahat yang mengincar kekuatan supernya.


“Aku yakin tubuhmu, banya  korengnya dan  kudisan dan milikmu pasti bau terasi busuk membayangkannya saja sudah membuatmu jijik dan mual,” ujar Davino. Lelaki ini  memang sangat sombong.


“Iya sebenarnya iya Pak,  mis v bau amis dan suka gatal,” ujar Aresya dengan kesal.


‘Biarkan gila sekalian’ Aresya membatin.


“APA?” Wajah Davino memerah menahan mual.


“Iya lebih baik aku terus terang saja,” ujar Aresya lagi.


“Wanita sialan ….! Kenapa kamu mau  setuju melahirkan anakku untukku kalau kamu sadar milikmu busuk!”


“Bisa diobati Pak,” ujar Aresya dengan wajah tenang.


“Kepalamu bisa di obati! Kamu pikir, aku mau menanam benihku di tubuhmu yang menjijikkan itu!”


“Kalau begitu katakan saja sama oma kamu”


Davino sangat kaget mendengar penuturan Aresya yang mengaku  Miss V bau busuk dan suka gatal, sebagai lelaki  ia merasa ilfil  dan jijik mendengarnya.


“Kamu yang harus mengatakannya Bodoh! Karena kamu yang setuju menikah denganku, tapi bagaimana aku menanam benihku di tubuh busukmu, aku yakin dia tidak akan mau tumbuh,” ujar Davino.


“Bapak, tinggal tutup mata dan hidung saja”


“Sialan kamu,” ujar Davino mendorong dada Aresya dengan kasar.

__ADS_1


Tidak tahan diperlakukan seperti binatang Aresya  menaatap tajam  dengan kekuatan supernya box diatas lemari,  jatuh dan menimpah kepala Davino.


Puaak ….!


“Auuuh” Lelaki arogan itu  memegang kepalanya, ia keluar dari kamar Aresya.


                       *


Keluarga Besar  Davino tinggal di Jakarta Selatan,  mempunyai  beberapa rumah di beberapa tempat, salah satunya di daerah Bekasi yang ditempati Aresyah saat ini, saat Aresyah menerima tawaran Nyonya besar Marisa untuk menjadi istri dari Davino Erlangga pewaris tunggal dari keluarga Erlangga, ia akhirnya tinggal di rumah besar itu, karena dekat juga dengan pabrik tempat ia bekerja.


Keluarga Erlangga memiliki bisnis yang  mengurita,  Perusahaan Texstil , perusahaan Pembuata kapal, bahkan bisnis kuliner , restaurantnya ada di setiap kota.


Davino anak satu-satunya di kelurga Erlangga,  ia juga yang akan  mewarisi semua kekayaan keluarganya, kaya , tampan itulah membuat dirinya sangat arogan dan sombong.


Hal itu juga yang  mendorong  nyonya besar Marisa yang mencarikan seorang istri untuk Davino,  yang bisa memberinya keturunan, bukan tanpa alasan Nyonya Marisa memilih Aresya, tapi keluarga Besar Erlangga punya rahasia turun temurun.


Kakek moyang Davino memiliki  genetik langkah yang mengharuskan  mereka akan memiliki keturunan  dengan orang yang memiliki golongan yang sama,  baru bisa melahirkan anak, rahasia turun temurun itu menjadi rahasia keluarga yang di simpan Nyoya Marisa sampai turun temurun. Alasan  Nyonya Marisa memilih Aresya karena ia memiliki hal yang sama dengan  mereka miliki, tapi Marisa menyembunyikannya dari semua kelurga  termasuk dari Davino.


Tiga bulan yang lalu di pabrik  Langgatex, suasana hujan gerimis  di daerah pabrik , Aresya sengaja datang lebih cepat dari biasa saat itu,


Daerah pabrik belum terlalu ramai karena ia datang terlalu pagi, tempat kosan Aresya juga tidak terlalu jauh dari pabrik , hanya di tempu dengan  berjalan kaki ke pabrik, Marta sahabatnya saat itu belum datang maka ia menunggu.


“Permisi, apa kantor pabrik belum buka?” tanya seorang wanita yang  sudah lumayan  berumur,  terlihat dari beberapa kerutan di bagian lehernya, tapi  dari segi wajah wanita itu terlihat masih mudah,  kulit wajahnya masih terlihat kencang karena factor perawatan mahal, tapi  kerutan bagian leher tidak mudah dihilangkan menandakan  kalau wanita yang menyapanya seorang wanita sudah tua. Ia adalah Nyonya besar dari  keluarga Erlangga,  Nyoya Marisa.


“Belum Bu,” jawab Aresya dengan sopan, tapi saat wanita itu  ingin kembali ke mobilnya, sebuah motor besar yang di kenderai dua orang lelaki yang memakai helem yang menutupi wajah keduanya,  membawa balok kayu memukul bagian  belakang wanita tua itu dan menarik tas tangannya,  membawanya kabur, Nyonya Marisa tersungkur di jalanan di genangan air di aspal,  suana Pabrik  masih sangat sepi,   tapi anehnya,  supir wanita tua itu mengaku tidak melihat kejadiannya.


Kejadianya sangat singakat,  Aresya berlari dan mengangkat tubunya ke dalam mobil, meminta supir Marisa membawa keruma sakit terdekat dan ia ikut memangku di jok belakang,  wanita itu sudah sangat lemah,  karena pendarahan   hebat, di bagian kepala.


                              *


“Tolong tanda tangan di sini mbak,” ucap seorang perawat yang masih mudah pada Aresya.


“Aduh sus, saya hanya menolong ibu ini, supirnya ada di luar, sebentar saya panggilkan, iya”


“Maaf mbak, kami  butuh wali dari pasien sebelum di lakukan tindakan lebih lanjut”


“Sus jangan  takut, ibu ini tidak akan  melarikan diri  dari rumah sakit , ia punya supir, supirlah yang membawanya ke sini, saya harus pergi sus,  saya harus bekerja,” ucap Aresya terlihat resah,  karena jam waktu kerja sudah masuk.


Perawat itu terlihat menarik napas panjang  melihat Aresya menolak bertanggung jawab.

__ADS_1


“Mbak’kan yang membawa kerumah sakit, jadi mbak yang harus bertanggung jawab”


“Aduh sus, saya ini hanya orang miskin tidak punya uang untuk menanggung pengobatan beliau, saya  hanya menolongnya sus, kenapa jadi di bebankan ke saya, kenapa saya yang  jadi  bertanggung jawab, lagian kenapa supirnya tidak bertanggun jawab sih, melihat majikanya sekarat,  bukanya ikut membantu,  malah menghilang,” ucap Aresya, terlihat makin gelisah.


Perawat itu tersenyum ramah.  “Tidak akan di tagih apa-apa mbak, hanya penanggung jawab sementara kok mbak, kasihan ibunya luka parah tidak akan penanganan lanjut kalau tidak ada keluarga yang menjamin, identitas diri pasien tidak ada, terpaksa kami meminta Mbak yang bertanggung jawab sampai keluarga datang, karena kita ingin menghubungi keluarga,  tapi tidak ada identitas diri pasien”


Tapi saat  mengobrol dengan perawat, kedua lelaki yang memukul Nyonya Marisa datang kerumah sakit dan menanyakkan pada  bagian admistrasi.


Kenapa meraka tahu kalau wanita ini kesini? Apakah  mereka menginginkan kematian wanita ini? Bukan menginginkan hartanya, ada yang tidak beres di sini,


Otak Aresya lansung menyala bagai  bola lampu, kalau mereka bukan hanya ingin merampok tasnya,  melainkan ingin melukai wanita  itu.


“Baiklah, saya mau,  tapi bisa tolong percaya pada saya, kedua lelaki itulah yang tadi memukulnya  dan sepertinya mereka mengincarnya,  bisa tolong lakukan sesuatu?”


Perawat melirik kedua lelaki itu, walau Resyah tidak melihat wajah mereka tadi saat membawa motor,  tapi jaket hitam  dan sepatu yang kedua lelaki gunakan ia bisa lihat dengan jelas,,


“Baiklah, ikut dengan saya, Resya besembunyi di balik  badan perawat , perawat itu melapor pada Dokter  dan sepertinya menyadari bahaya yang sedang mengincar pasien.


Dua orang perawat membantu  wanita itu untuk bersembunyi, Aresya akhirnya menanda tangani  pormulir penanggung jawab, dan menyamarkan identitas, Nyoya Marisa, untungnya perawat dan Dokter membantu Aresya, membantu melindungi wa Nyonya Marisa,  tidak cukup hanya di situ, ternyata wanita itu membutuhkan pasokan darah dan darah yang ia miliki sangat langkah dan jarang ada orang memilikinya.


“Ada apa sus, kenapa terlihat semua orang panik?” tanya Aresya penasaran melihat beberapa orang perawat silih berganti masuk keruang operasi wanita itu,


“Ini sangat kritis dan darurat mbak, pasien   memiliki golongan darah yang sangat langkah, kita tidak punya stok di rumah sakit.”


“Golongan darah jenis apa sus? Sampai rumah sakit tidak punya”


“Golongan darah yang sangat langka, ini lihat…,” suster meninggalkan satu kertas di tangan Aresya, mata Aresya menatap dengan ragu, itu golongan darah yang ia miliki yang sama dengannya juga.


Ia lama berpikir, ia tidak ingin menunjukkan, bahkan tidak ingin memberitahukan siapapun, tapi… wanita itu, akan mati jika ia tidak menolongnya, hanya ia yang bisa menyelamatkanya. Setelah berpikir dengan keras akhirnya ia memutuskan membantu.


“Sus, saya bisa bantu golongan darah saya sama dengan pasien.”


Perawat   berkulit putih itu menatapnya dengan tatapan penyelidikan seakan tidak percaya.


“Baiklah ikut saya.”


Bukan hanya perawat yang menatap dengan tatapan tidak percaya, Dokter juga menatap dengan mata ragu.


“Baiklah lakukan,” pintah Dokter, perawat membawa Resya ke satu ruangan, setelah dicek, hasilnya benar, barulah  ia boleh menyumbang, Aresya memberi dua kantong cairan berwarna merah itu untuk Nyonya Marisa.

__ADS_1


              ~ Bersambung~


__ADS_2