Aresya

Aresya
Ingin Memanjakan Istrinya Yang Hamil.


__ADS_3

"Anakku” ucap Davino dengan bahagia, untuk pertama kalinya Aresya menginjinkan mengusap  perutnya.


Davino merasa terharu, saat bayi dalam perut Aresya menendang tangannya, akhirnya apa yang di inginkan bisa terwujud juga, tetapi, ia merasa ada  bahaya yang mengintai mereka, jika kehamilan Aresya semakin besar.


“Bertahanlah Sya, kita akan pulang"


“Apa kamu yakin bisa menyetir, aku takut kamu tiba-tiba pusing  nanti”


“Tidak percayalah, aku akan menyetir dengan hati-hati”


Menarik napas panjang dengan hati-hati Davino menyetir  sendiri, walau lambat asal selamat hal itu yang  dipikirkan Davino saat menyetir, ia menyadari kesalahannya yang berbuat kasar pada Aresya yang sedang hamil tadi.


Saat Davino  membuat keributan di rumah yang ditinggali Aresya.


Apa yang di lakukan Davino  ternyata sampai juga ke keteliga Ny. Marisa, saat Adi menelepon kalau Davino  melakukan kerusuhan di rumah, yang Aresya tinggali. Ia tidak ingin di salahkan dengan apa yang terjadi.


“Ada apa maksud Davino melakukan itu!” suara Ny Marisa meninggi di ujung telepon saat itu,  ia  lagi di pabrik Langtex tidak jauh dari rumah Aresya.


Kehamilan Aresya sudah jadi prioritasnya yang paling utama baginya, ia akan membelanjakan  kebutuhan kebutuhan Aresya selama hamil. Ny Marisa yang paling bahagia, untuk kehamilan Aresya. Namun, ia juga merasa ketakutan, takut akan jadi incaran orang yang tidak senangkehamilannya.


“Pak Davino marah-marah di depan rumah Aresya, dia juga melempari kaca jendela rumah, Bu.”


“Ada apa dengan anak itu,  apa ia sudah gila apa,” ucap Ny. Marisa  di ujung telepon, ia memerintahkan supirnya membawanya ke rumah Aresya.


“Apa yang saya lakukan, Bu?” tanya Adi.


“Biarkan dia melakukan apa yang membuatnya puas, awasi saja Aresya jangan sampai dia terluka”


“Bai Bu”


‘Davino bagaimana sih, apa yang dia lakukan sebenarnya. Apa hanya marah-marah  yang ia tahu, dasar anak nakal, baiklah jaga  Aresya, nanti  saya datang kesana.”Wanita tua itu menutup sambungan komunikasi mereka.


Marisa tidak tahu kalau Davino sudah meminta maaf pada Aresya


Mobil Davino berhenti juga di depan rumah, dengan cepat ia membuka pintu membantu Aresya turun.


“Jangan memengangiku, aku bisa jalan”


“Kamu diam Sa,  Aku lagi gugup ini” ucap Davino melakukanya dengan hati.


Baru juga  ia membawa Aresya ke dalam rumah dan menunjukkan perhatianya  sebagai suami sekaligus calon Ayah.


“Davino! Apa yang terjadi!” teriak Ny. Marisa saat ia tiba, menatap Davino dengan tajam.


“Marah-marahnya nanti saja oma,  biarkan aku  bernapas dulu”


Davino menunjukkan perhatian pada Aresya, wanita cantik itu membiarkan Davino melakukan apa yang ingin ia lakukan, ia berpikir, biar bagaimanapun, ia ayah dari anak yang dia kandung .

__ADS_1


“Aku sudah tidak apa-apa, sudah hentikan saja,” ucap Aresya merasa malu karena ada Ny. Marisa di sana.


“Kamu diam saja, kalau kamu  mau aku ajak tidak akan seperti ini, semua ini tidak akan terjadi,” ucap Davino.


Ny. Marisa tadinya ingin marah  pada Davino. Namun, melihat perhatianya pada Aresya ia mengurungkan niatnya untuk marah, ia keluar dari kamar Aresya, memberi Davino kesempatan melakukan tugasnya sebagai suami.


“Buka pakaianmu, tadi bukankah itu terkena muntahhanmu?”


Tanpa membantah, Aresya menurut,  tidak ada sikap keras kesikap keras kepala yang  selalu melekat pada dirinya . Namun saat ini ia menurut apa yang di katakan Davino, tanpa ada bantahan ia membiarkan Davino membantu melepaskan pakaian yang di kenakan, mengantinya dengan pakaian yang  baru.


“Aku mau istirahat, kepalaku masih pusing.


Davino masih  merasa bersalah, karena bersikap kasar tadi pada Aresya, matanya selalu menatap kearah bagian perut Aresya. Ia menarik kursi dan  duduk di samping.


“Kenapa tidak saat aku ajak tadi,  jantungku masih belum normal berdetak,  tidak terbayang bagaiamana perasaanku? bagaimana sendainya kamu terjadi apa-apa tadi aku akn menyesal seumur hidup”


“Kamu sudah tahu aku hamil, harusnya kamu mengerti pak Davino”


“Aku selalu hilang kendali saat marah”


“Aku sudah tidak apa-apa, kamu boleh


pulang”


“Apaa? Kamu mengusirku lagi setelah  merasa bersalah? Kamu tidak tahu  apa yang aku rasakan hari ini, aku berpikir kalau aku harus di sini”


“Adi, Adi lagi apa hebatnya  dia, suamimu itu aku bukan lelaki  menyeramkan itu


“Tapi aku lebih nyaman  bersama dengannya dari pada kamu,” ucap Aresya berkata jujur.


Ungkapan jujur dari Aresya membuat Davino terbakar api cemburu, mengepal tangannya dengan  kuat menahan perasaan yang bergejolak. Tetapi, ia tidak menunjukkan kemarahan pada Aresya, ia tidak   ingin menjadikan kedaan  semakin sulit.


‘Terserah dengan perasaanmu Aresya, aku melakukan kewajibanku sebagai suami… , aku akan  menjaga anakku’


Davino keluar dari kamar Aresya, dengan tubuh masih terkejut, karena marah ia sampai lupa kalau Aresya sedang hamil, padahal dari sebelum ia datang ke rumah, keinginan utamanya ingin melihat keadaan Aresya dan calon anaknya.


                     *


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Ny. Marisa berdiri.


“Sudah”


“Ada apa kenapa wajahmu tidak senang seperti itu?”


“Oma sudah tahu kalau Aresya  hamil, tapi, kenapa oma meminta Adi yang menjaga dia, apa aku tidak tidak penting juga di mata Oma?” tanya Davino.


“Oma bukannya tidak mau Vin, tapi oma memilih mana yang terbaik, Aresya tidak ingin merasa terbebani,  demi kebaikan Arsya dan bayinya, Oma melakukannya”

__ADS_1


“Oma, aku punya hak untuk menjaga anakku aku suami, aku bukan sekedar pajangan, sekarang omah tunjukkan juga padaku perjanjian yang di tandatangani Aresya aku ingin melihat aku ingin terlihat juga, aku tidak mau  hanya penonton saja”


“Untuk apa jangan menambah masalah,” ujar Marisa


“Aku yang berhak untuk tahu Oma”


Wanita  berpenamilan modis itu menghela napas panjang, ia hanya ingin kedaan aman untuk semua, Ny. Marisa tidak ingin mengundang perhatian. Ia yakin kalau kehamilan Aresya sampai pada  musuh-musuh ia yakin nyawah dan bayinya dalam bahaya.


“Aku akan menjaganya dengan baik oma,  berikan aku kesempatan, kali ini aku tidak akan mengecewakan oma,” ucap Davino denga tatapan meomohon.


“Baiklah aku percaya padamu kali ini”


Omanya memberikan kertas perjanjian itu untuk di baca Davino tidak ada  lagi yang disembunyikan lagi darinya.


“Baiklah, Oma  sudah bisa pulang sekarang selebihnya biar aku yang ngurus”


“Eh,  apa yang kita kamu lakukan jangan  macam-macam “


“Tidak akan macam-macam Oma, aku hanya ingin dekat dengannya saja”


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)

__ADS_1


__ADS_2