
Al tidak fokus mendengarkan penjelasan Erna dan bang Adin. Dia masih memikirkan ibunya yang tidak bisa dihubungi. Hingga akhirnya, Haris mengabarkan bahwa ibunya baik baik saja. Tadi ibunya ke pasar dan lupa membawa Hp. Haris juga mengabarkan bahwa dia dan ibu akan langsung ke Pesantren untuk menjemput Rizki.
"Jadi gimana Al, kamu suka dengan projek ini?" Tanya Erna.
Al diam saja. Dia bahkan tidak mengetahui kalau Erna bicara padanya. Suasana itu membuat Adin, Erna dan Alista saling menatap.
"Mas Al?" Panggil Adin yang membuat Al terbata bata dan agak bingung.
"Apa tadi, bang?" Tanya Al lagi.
Bang Adin dan Erna pun kembali menjelaskan apa yang barusan mereka bahas. Barulah kemudian Al paham dan menyetujui setelah membaca sinopsis naskah dari Erna. Begitu juga dengan Alista, dia juga setuju. Meski kurang masuk akal baginya saat pemeran utama pria dan wanita hanya mencintai tanpa ada sedikitpun kontak fisik. Tapi, meski begitu dia tetap setuju, karena bagaimanapun syuting bersama Al saja sudah membuatnya bahagia.
"Jadi, apa bisa kita mulai pertemuan semua pemain akhir pekan ini?" Tanya bang Adin lagi.
Sebentar Al mencoba mengingat jadwalnya. "Akhir pekan, sore mungkin saya bisa bang. Tapi, kalau pagi sampai siang saya ada janji mau membawa Rizki liburan." Jelasnya.
"Bagaimana, Alista?" Tanya bang Adin pada Alista setelah mendengar penuturan Al.
__ADS_1
"Saya setuju, bang. Karena akhir pekan ini saya benar benar free." Jawabnya.
"Erna?" Bang Adin menatap kearah Erna.
"Saya ok. Tapi, bagaimana dengan pemain lain, bang. Kita belum tahu apakah mereka bisa atau tidak?" Ucap Erna.
Bang Adin menghela napas. Kemudian dia menelpon seseorang. Dia mengatakan agar segera mengabarkan pada semua pemain yang sudah deal dengan sinetron barunya itu untuk melakukan pembacaan naskah pertama mereka.
"Nah sekarang kita tinggal menunggu laporan dari Meri. Jika banyak yang tidak bisa hadir, maka saya akan mengabari kalian secepatnya dan kita atur jadwal baru." Jelasnya.
"Saya tidak ingin kosong terlalu lama setelah sinetron kita tamat. Khawatirnya penonton akan tertarik dengan sinetron baru dan akan melupakan sinetron terbaru kita." Sambungnya.
Sementara itu, di bengkel. Auri sedang menunggu perbaikan mobilnya. Bagian belakang mobilnya ada goresan dan juga ada bagian yang retak akibat tertabrak oleh mobil Al tadi. Dia sendirian menunggu sambil membaca Qur'an menggunakan hp nya. Lalu, tiba tiba dia teringat untuk mengabarkan pada Endah, tentang dirinya yang kini di bengkel.
"Assalamualaikum, ndah?" Berbicara melalui telpon.
"Bilang sama yang lain, aku lagi dibengkel. Jadi, kalau kalian mau mulai syutingnya silahkan. Sepertinya aku masih lama." Jelasnya pada Endah.
__ADS_1
"Nanti aku jelaskan kalau sudah sampai rumah... nggak usah khawarir. Aku baik baik aja, kok. Cuma mobilnya aja yang terluka." Jelasnya sedikit bercanda pada Endah yang jelas jelas mengkhawatirkannya.
Panggilan pun berakhir setelah Auri menutupnya dengan salam. Dan dia tersenyum mengingat bagaimana cara Endah menggerutu karena khawatir padanya.
"Alhamdulillah ya Allah. Engkau titipkan orang orang yang begitu baik padaku." Gumamnya terharu.
Auri pun kembali melanjutkan bacaannya. Menghayati dan memaknai setiap arti dari ayat ayat indah itu. Tidak terasa matanya sudah berkaca kaca dan hampir saja tumpah.
"Astaghfirullah…" Ucapnya beristighfar sambil mengedipkan matanya agar air mata kesedihan, dan haru itu tidak tumpah.
Disaat Auri tengah sibuk dengan matanya, seorang pengendara mobil lain memarkir mobilnya di depan bengkel.
"Ada yang bisa saya bantu, mas." Sambut pemilik bengkel.
"Biasa, mas. Ini mobil saya kadang tiba tiba mogok setelah kemarin sempat ganti aki di sini." Jelasnya.
Bacaan Auri terganggu mendengar suara itu. Dia merasa sangat kenal dengan suara itu, hingga akhirnya dia melirik pada pria tinggi berbadan atletik itu. Matanya terbelalak kaget, dan sontak saja Auri langsung memalingkan wajahnya membelakangi pria itu.
__ADS_1
"O gitu, saya coba cek dulu mobilnya, mas." Mendekati mobil pria itu. Dan pria itu menoleh pada Auri yang duduk membelakanginya.