Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Hari Pernikahan


__ADS_3

Pernikahan Al Fatih dan Auristela Azzahra.


Akad nikah sudah selesai diikrarkan oleh Al Fatih. Saat mengucapkan akad, dia didampingi langsung oleh Papa mertuanya, William Mark. Sementara yang menjadi wali Nikah diwakilkan, karena memang William Mark seorang non islam.


Meski berbeda, William Mark tampak meneteskan air mata haru, tepat setelah Al Fatih mengucapkan akad nikah dan dinyatakan sah oleh para saksi nikah. Dia pun langsung memeluk Al Fatih setelah doa selesai dilantunkan untuk pengantin baru itu.


Bukan hanya William saja yang menangis terharu, Maryam dan Jeni juga merasakan hal yang sama. Sehingga mereka juga saling berpelukan. Begitu juga dengan para sahabat dan kerabat dekat mereka, serta tamu undangan yang juga ikut merasakan kebahagiaan dan rasa haru itu.


Auri yang menyaksikan Al Fatih mengucapkan akad dari balik layar pun ikut meneteskan air mata.


"Dek, kakak sudah menikah lagi." Ucap Auri pada Alista.


"Barakallah ya, kak. Semoga pernikahan kakak kali ini sampai kalian menua bersama dan bahkan hingga akhiratpun bersama di syurganya Allah."


Alista mendoakan dan memberikan pelukan hangat pada kakaknya itu.


"Mbak Auri jangan menangis terlalu banyak, nantik make up nya rusak." Ujar penata rias khusus yang dipercayai Auri untuk merias wajahnya.


"Biarkan saja rusak, mbak. Toh kak Auri juga kan pakai cadar, jadi nggak akan terlihat juga make up nya rusak atau tidak." Jawab Alista sambil menghapus pelan air mata di pipi kakaknya.


"Eh iya ya, saya lupa. Habisnya, mbak Auri belum memakai cadarnya, jadi saya kira nanti tidak akan dipakai cadarnya." Ucapnya sambil tersenyum.


Tok, tok…

__ADS_1


"Mbak Auri sudah siap? Tim kamera akan segera masuk!" Seru seorang kru di luar ruang hias pengantin.


"Sebentar, mas." Sahut penata rias.


Sedangkan Alista langsung memakaikan cadar di wajah kakaknya. Dia merapikan cadar putih itu sehingga menampakkan kedua bola mata kakaknya yang kecoklatan itu.


"Perfect, kakak sangat cantik." Pujinya.


Mendengar itu, mbak penata riaspun langsung membuka pintu dan mengizinkan kameramen merakam Auri dan Alista.


Alista dan Auri kini terlihat oleh para tamu melalui layar besar yang sudah disiapkan. Mereka terpesona dengan kecantikan gaun Auri dan juga binar matanya yang tampak sejuk.


"Auristela si Mu'alaf cantik. Benar benar cantik dan berhasil terpilih menjadi ratu dikerajaan Al Fatih." Komentar seorang tamu. Dia berbincang dengan teman disebelahnya.


"Lihatlah, istrimu sudah berdandan yang cantik untuk menemui kamu, nak." William menggoda menantunya itu.


Kini, sorot kamera menyorot langkah Al Fatih untuk berdiri di antara pelaminan dan jalan yang akan dilalui Auri nantinya. Dia melangkah kesana bersama dengan Papa mertuanya. Kemudian, setelah tiba dititik yang sudah diatur oleh sutradara, Al berhenti melangkah. Sementara William terus melangkah untuk menjemput putrinya yang sudah berdiri di ujung jalan sana.


Kamera terus menyoroti langkah William. Dan sesekali kamera juga menyorot wajah grogi Al yang menunggu istrinya. Tidak lupa, kamera juga menyorot wajah Auri yang tersembunyi di balik kain cadarnya.


Akhirnya William tiba di dekat Auri. Dia mengulurkan tangan untuk membawa putrinya kepada suaminya. Dengan yakin, Auri menyambut uluran tangan Papanya. Kemudian, dengan langkah perlahan, mereka melangkah menuju Al Fatih.


Sungguh pemandangan yang mendebarkan dan mengharukan. Tamu undangan yang hadir, benar benar merasa terkesima dan bahkan ada yang sampai meneteskan air mata. Mereka terharu melihat betapa bahagianya Auri yang diantar langsung oleh papanya kepada suaminya. Sementara, mereka tahu, Auri dan papanya saat ini berbeda keyakinan akan Tuhan mereka.

__ADS_1


"Nanti, kakak harus terus bahagia dan bersama dengan Al Fatih disituasi sesulit apapun. Tapi, kakak harus segera kembali pada papa, jika sampai Al menyakiti kakak meski hanya seujung kuku." Bisik William pada putrinya itu.


Mendengar bisikan itu membuat Auri mengeratkan lingkaran tangannya di lengan papanya. Dia bahkan sedikit menyenderkan kepalanya di bahu papanya sambil terus melangkah perlahan.


Sekali lagi, pemandangan itu sukses membuat hampir seluruh rakyat Indonesia yang menyaksikan itu ikut menangis terharu.


Tap tap tap…


Langkah Auri dan papanya semakin mendekat pada Al Fatih. Dan akhirnya mereka berhenti tepat di depan Al Fatih yang tersenyum menatap mata Auri dengan berkaca kaca.


"Al, papa titipkan putri papa yang bernama Auristela Azzahra kepadamu. Sayangi dia seperti papa menyayanginya. Bahkan jika kamu sanggup, buatlah dia bahagia lebih dari yang papa bisa lakukan untuk membahagiakannya." Ucapa William.


Ucapan itu terdengar jelas oleh semua tamu undangan yang hadir dan juga bisa didengar oleh pemirsa yang menonton dirumah mereka.


"Insya Allah, Al akan menjaga, menyayangi dan membuat Auri bahagia, Pa." Jawab Al dengan tegas dan yakin.


Lalu, William membawa tangan Auri untuk disatukan dengan tangan Al Fatih.


"Hari ini, saat ini, papa satukan tangan kalian. Dan papa berharap, agar kalian tidak akan pernah melepaskan ikatan suci cinta kalian sampai maut yang memisahkan."


William memegang erat kedua tangan yang telah disatukan itu. Lalu dia melepaskan secara perlahan, sehingga terlihatlah betapa eratnya Al Fatih menggenggam tangan Auri.


Baik Al maupun Auri, keduanya tersenyum malu malu seperti pengantin baru pada umumnya. Bahkan, untuk sesaat, penonton dan para tamu undangan melupakan bahwa pernikahan ini adalah pernikahan kedua bagi Auri dan Al Fatih. Sungguh, penyatuan hati dalam ikatan yang halal, membuat semua orang terharu dan ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh pasangan pengantin itu.

__ADS_1


__ADS_2