Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Rencana


__ADS_3

Di pesantren, Marsya juga menonton acara konferensi persnya Al Fatih. Dia benar benar marah dengan semua jawaban yang keluar dari mulut Al tentang dirinya dan Kelvin.


"Apa yang harus kita lakukan, Mas? Kita juga harus melakukan konferensi pers untuk membuat media lebih percaya lagi pada kita. Aku tidak suka dibuat seperti ini." Ucapnya menahan emosi.


"Sabar, sayang. Tidak akan ada orang yang berani menfitnah pimpinan pesantren. Jika saja sampai semua itu terjadi, kita buat saja Al membungkam mulutnya." Menatap kearah Rizki yang saat ini masih terlelap. Kelvin melangkah mendekati Rizki, dibelainya wajah lelap Rizki sambil tersenyum.


"Mas, sejauh ini Abi dan Umi sangat menyayangiku. Bahkan kata Memei aku adalah menantu terbaik dan yang paling pantas mendampingi kamu. Aku tidak ingin dibanding bandingkan seperti ini dengan Auri." Memperlihatkan photo dirinya yang disandingkan dengan Auri lengkap dengan caption yang memojokkan dirinya.


"Jangan pedulikan tentang itu, sayang. Auri tidak begitu penting untuk kita. Aku akan mengurus itu secepatnya. Yang terpenting saat ini adalah, aku mau Al diundang dalam acara peringatan hari santri. Kita akan mulai pertunjukan."


"Apa maksudmu, mas? Mengundang Al ke pesantren sama saja dengan membongkar semuanya."


"Tidak akan. Kita lihat saja nanti. Al sudah mengakui kalau dirinya punya hubungan baik dengan kita. Jadi, untuk membungkamnya, bawa dia kesini. Pertemukan dia dengan Rizki. Lalu, selebihnya biar aku yang menyelesaikan semuanya." Tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Marsya bingung, dia belum begitu paham dengan rencana Kelvin. Meski begitu, dia akan mempersiapkan diri untuk bertemu Al untuk pertamakalinya setelah mereka bercerai. 'Sayang, kamu harus kuat. Umi janji akan melindungi kamu.' Ucapnya dalam hati sambil terus mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit itu.


Sementara itu, saat ini Auri sedang berada di Solo. Dia menghadiri acara pengajian ibu ibu bersama beberapa ustadzah kondang lainnya. Tidak ada hal yang aneh ataupun mencurigakan. Semuanya berjalan dengan lancar sampai acara pengajian selesai.


"Ustadzah Auri, boleh berphoto?" Tanya seorang wanita separuh baya yang merupakan salah satu anggota pengajian itu.


"Boleh, buk." Auri tersenyum sambil merangkul lembut bahu wanita itu. Lalu merekapun berphoto bersama.


"Ini kartu nama saya, Ustadzah. Saya akan mengundang ustadzah saat hari ulang tahun putra saya." Auri mengambil kartu nama itu dan menyimpannya kedalam tas kecil yang disandangnya.


"Kebetulan, putra saya sedang mencari jodoh. Dia pintar, lulusan S2 Hukum. Sekarang dia bekerja sebagai penasehat hukum." Tuturnya.


"Inshaa Allah jika berjodoh, kita akan bertemu lagi, buk. Dan maaf sekali, buk. Jangan panggil saya ustadzah, rasanya gelar itu belum cukup pantas untuk saya." Menjelaskan dengan tutur kata yang sangat lembut dan sopan.

__ADS_1


"Jangan merendah seperti itu, ustadzah." Memegang tangan Auri seperti seorang ibu memegangi tangan anaknya. Auri tersentuh dengan hal itu, hingga membuatnya semakin merindukan Mamanya.


Dan disinilah wanita yang dirindukan Auri. Dia terkurung dalam sangkar emas. Tidak bisa mendengar dan melihat keberadaan putri sulungnya sama sekali.


"Nyonya, ada non Alista." Suara itu berasal dari luar kamar tempatnya dikurung.


"Ma, boleh Alis masuk?" Bertanya dari balik pintu yang terkunci.


Tidak ada jawaban dari Jeny sama sekali. Dia hanya menatap jauh menembus dinding kaca. Air mata perlahan menetes dari pelupuk matanya. Tangan menggenggam erat photo anak yang sangat dirindukannya dan berharap bisa melihatnya meski hanya sebentar saja.


"Non, sepertinya Nyonya sedang tidur. Tadi, nyonya baru saja selesai minum obat." Tutur Pina asisten pribadi Jeny sebagai persyaratan dirinya mau di kurung disangkar emas ini asalkan Pina tetap bersamanya.


"Tolong berikan ini sama Mama." Memberikan paperbag bewarna pink pada Pina.

__ADS_1


"Baik Non. Nanti akan saya berikan pada nyonya saat beliau bangun." Jawabnya meyakinkan Alista.


__ADS_2