Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Lelaki penggoda


__ADS_3

Suasana terasa aneh. Dibilang sejuk, tapi ada gerahnya. Dibilang gerah, tapi jari jemari tangan terasa sangat sejuk. Auri menatap keluar jendela mobilnya. Sedangkan Al fokus menatap jalanan, karena saat ini dia yang mengendalikan setir mobil itu.


"Kenapa kamu tiba tiba mengatakan akan menikahiku?" Tanya Al pada akhirnya.


"Kenapa bertanya? Apa mungkin hatimu sudah berpindah pada hati yang lain?" Ujar Auri.


"Ya, bukan seperti itu. Tapi, bukankah harusnya pria yang melamar lebih dulu?"


"Tapi aku mencontoh Ibunda Khodijah yang lebih dulu melamar baginda Muhammad SAW."


"Tapi aku bukanlah Rasulullah. Aku hanya seorang lelaki yang memiliki begitu banyak kesalahan dan kekurangan."


"Apa itu artinya mas Al menolak lamaranku?" Tanya Auri dengan nada suara yang terdengar sedih.


"Bukan begitu, Auri. Aku hanya takut belum siap untuk menjadi imam yang baik buat kamu dan anak anak kita nanti." Jelas Al dengan hati hati.

__ADS_1


"Sudahlah. Aku tahu, aku ditolak kali ini. Dulu aku di talak, sekarang aku ditolak." Ucapnya pelan.


Mendengar itu membuat Al tersenyum. Entah mengapa, saat seperti itu Auri malah terlihat menggemaskan menurutnya. Bahkan tangannya yang fokus memegang stir mobil, seakan tidak sabar ingin mencubit pipi Auri yang tersembunyi dibalik cadarnya.


"Aku akan melamarmu dengan cara baik baik. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu. Lalu, aku akan menemui Papamu untuk memintamu padanya." Ucap Al.


Auri tersenyum senang. Tapi dia menyembunyikan senyum bahagia itu dari Al, dengan cara memalingkan wajahnya dari tatapan Al Fatih.


"Aku belum pernah bertemu dengan Papa kamu. Aku hanya melihat wajahnya dari unggahan sosial mediamu. Aku benar benar khawatir, mungkin papamu tidak akan memberiku izin untuk menikahi putrinya yang sangat cantik ini." Ungkap Al Fatih yang semakin membuat hati Auri berbunga bunga.


'Ternyata benar, Cinta itu menggembirakan, bukan menyedihkan.' Ujarnya dalam hati.


"Auri! Apa kamu baik baik saja?" Tanya Al saat menyadari sejak tadi Auri hanya diam.


"Aku baik baik saja. Hanya saja, bisakah kita berhenti di Masjid. Aku belum sholat 'Asar." Pintanya.

__ADS_1


Bibir Al tersenyum. "Tentu, aku juga harus memberitahu Haris, untuk tidak menjemputku ke pesantren. Karena aku akan pulang bersama calon istriku." Mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Auri.


"Jangan sok kegantengan wahai Al Fatih." Ujar Auri sambil melepas sitbelt saat mobil sudah parkir di depan Masjid yang memang hanya berjarak beberapa meter saja dari mobil mereka saat Auri meminta singgah di Masjid.


"Hello, Al Fatih memang ganteng, tau. Lihatlah, bahkan seorang Auristela si mualaf cantik saja tergila gila padaku."


Al mulai membiasakan diri untuk lebih akrab dan dekat dengan Auri.


"Aku kok menyesal ya, pernah mengajak Al Fatih untuk menikah. Ternyata dia hanya laki laki penggoda." Celoteh Auri yang sudah memasuki Masjid.


"Penggoda bidadari secantik kamu, sayang."


Al mengatakan itu sambil menatap tubuh Auri yang sudah menghilang di balik pintu Masjid.


"Betapa bodohnya Kelvin meninggalkan bidadari sepertimu hanya untuk bisa bersama nenek sihir seperti Marsya." Sambungnya.

__ADS_1


Lalu, Al pun menelpon Haris dan memberitahukan keberadaannya saat ini. Dan Al meminta Haris untuk mengabarkan juga pada Alista dan teman temannya, bahwa dia akan mengantarkan Auri pulang. Sementara, Auri sendiri tadinya mengatakan pada Alista untuk menunggunya, karena Auri tetap berencana pulang bersama adiknya dan rekan rekannya.


__ADS_2