Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Hati Auri


__ADS_3

Minggu ini Auri dan teman temannya berangkat ke Bogor. Mereka akan syuting di Bogor dengan segala keindahan alamnya. Mama juga ikut serta bersama ke Bogor. Auri tidak ingin berjauhan dengan mama meski hanya sebentar. Dia khawatir akan terjadi hal buruk terhadap mamanya.


Mereka bersenang senang di Bogor. Auri juga mengunggah beberapa foto dirinya dengan teman temannya di Instagramnya.


"Tuan putri." Panggil Melki yang mengarahkan kamera pada Auri. "Senyum." Saran Melki.


Auri pun tersenyum. Melki berhasil mengabadikan satu foto hasil jepretannya. Foto Auri yang biasa tanpa ada embel embel untuk keperluan pekerjaan.


"Bagus nggak hasilnya, Mel?" Tanya Auri.


Melki mengacungkan jempol pada Auri. Dia pun tersenyum senang dan kembali melanjutkan tugasnya untuk mengambil rekaman kegiatan Auri untuk di posting di media sosial milik Auri.


Sementara itu, Al Fatih sedang duduk santai di teras belakang rumah. Dia sedang mengunjungi dunia maya menggunakan akun pribadinya. Dan saat bersamaan, foto Auri muncul dilayar HP miliknya. Di foto itu tertulis alamat Auri saat ini.


"Auri sedang di Bogor." Mengotak atik HP nya hingga akhirnya dia menemukan nomor Auri yang sudah ada sejak lama tersimpan.


"Semoga Auri menjawab panggilan ini." Mulai tersambung pada HP Auri.

__ADS_1


"Auri ada yang menelpon!" Seru Endah sambil membawa Hp Auri kearahnya.


"Siapa, Ndah?" Tanya Auri.


"Nggka tahu. Dia menggunakan private number." Jawab Endah sambil mengulur HP pada Auri.


Auri pun segera menjawab panggila itu.


"Assalamualaikum. Ini siapa?" Tanya Auri.


'Waalaikunsalam. Aku Al Fatih. Apa benar ini Auri?" Tanya pria itu yang ternyata adalah artis hebat yang memilki banyak piala penghargaan dan hari ini dia menelpon Auri.


"Iya saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Auri dengan nada suara yang tenang.


"Kamu benaran sedang di Bogor?" Tanya Al mencoba lebih akrab.


Alis Auri naik saat mendengar Al berbicara santai padanya. "Iya." Jawab Auri singkat.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang ingin aku bahas denganmu. Lebih tepatnya aku ingin meminta bantuanmu." Jelas Al.


"Tidak bisa dibahas melalui telepon?" Tanya Auri penasaran.


"Bisa, tapi aku ingin bertemu dan membahasnya secaa langsung." Sambungnya.


"Tapi aku tidak bisa datang ke sana. Aku sedang bekerja bersama teman teman." Jawab Auri yang sebenarnya berharap agar Al mengurungkan niatnya untuk bertemu.


"Aku yang datang ke sana. Hanya sebentar kok. Aku janji tidak akan mengganggu waktu kerjamu." Ucap Al semakin santai bicara aku kamu pada Auri.


Hanya senyum tipis dibibir Auri yang terlihat. Sementara perbincangan tersebut masih terus berlanjut. Auri bukannya tidak mau bertemu dengan Al. Dia bahkan sangat mau. Tapi, Auri hanya takut, semakin sering bertemu Al akan membuatnya semakin susah mengendalikan perasaan yang mulai tumbuh didalam hatinya untuk Al Fatih yang merupakan duda dari istri mantan suaminya.


"Auri, bagaimana?" Tanya Al serius.


Sebentar Auri melirik kearah mamanya, lalu pada teman temannya. "Boleh, tapi maaf ya mas Al, aku tidak punya banyak waktu luang." Jawab Auri agak menyesal.


"Iya, tidak apa. Aku hanya mampir sebentar saja, kok. Janji." Mencoba meyakinkan Auri.

__ADS_1


Panggilanpun berakhir setelah mengucapkan salam. Dan Al Fatih pun langsung bergegas menuju tempat Auri berada saat ini. Tidak lupa dia pamit pada ibunya. Sedangkan Auri, masih terdiam mematung disana. Dia benar benar tidak tahu harus melakukan apa. Dia rasanya ingin segera bersembunyi saja.


'Ya Allah, jika ini hanya perasaan semata untuk menguji kekuatan hamba, maka bantu hamba untuk tetap menahan perasaan ini. Namun, jika perasaan ini engkau hadirkan atas Ridhomu, maka jagalah kami dan tunjukkan jalan terbaik menurutmu yang paling engkau Ridhoi. Aamiin.' Auri berdoa dalam hatinya.


__ADS_2