
Sore itu Al mampir ke Pesantren. Karena memang kebetulan dia sedang ada pemotretan untuk majalah. Dia datang ke Pesantren bersama Haris. Tapi, Haris hanya mengantar saja. Kemudian dia kembali ke hotel.
"Assalamualaikum, pak. Saya Al Fatih." Sapa Al pada penjaga gerbang.
"Waalaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu, mas?" Sambut pria itu ramah.
"Saya datang untuk menjenguk pak Kiai. Saya dengar beliau sudah kembali dari rumah sakit." Jelas Al.
"Oh, iya benar, mas. Mari saya antarkan ke rumah Kiai." Mengajak Al mengikuti langkahnya.
Sementara Al sedang menuju rumah pak Kiai. Kelvin dan Marsya sudah hampir tiba di pesantren. Begitu juga dengan Auri yang sedikit terlambat di belakang mobil yang membawa Kelvin dan Marsya.
Auri menyetir sendiri. Dia sengaja datang sendirian ke pesantren, karena hanya mampir sebentar saja. Sementara Alista, Rudi, Melki dan Widia menunggunya di rumah kenalan mereka. Untuk sekedar istirahat melepas penat sebelum kembali ke Jakarta.
Kembali pada Al Fatih yang kini sudah tiba di depan rumah Kiai. Dia langsung disambut baik oleh Umi.
"Nak Al, mari masuk." Ajaknya.
"Terimakasih, bu Nyai."
Al ikut melangkah masuk bersama Umi. Mereka tiba di ruang depan tempat Kiai sedang duduk santai menikmati secangkir teh panas di sore hari.
"Assalamualaiku, Kiai." Sapa Al yang langsung sungkeman.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, anakku." Sambut Kiai.
Dia mengelus punggung Al yang sungkem padanya. Air matanya terasa akan menetes karena akhirnya bisa bertemu langsung dengan Al Fatih yang menurutnya pria hebat dan tetap berhati bersih meski Kelvin merebut istrinya.
"Maafkan Abi, anakku. Abi gagal menjadi seorang ayah. Abi gagal mendidik anak Abi." Ucapnya sambil menangis malu.
Al ikut merasakan kepedihan yang dirasakan Kiai. Tapi, dia hanya memilih diam dan tidak mengatakan apapun. Sedangkan Umi memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan tangisnya.
"Maafkan Kelvin. Maafkan Marsya, anakku. Abi tahu, sulit bagimu untuk memaafkan perbuatan dzalim mereka terhadap kamu. Tapi, Abi tetap ingin meminta maaf darimu anakku." Sambungnya.
"Kiai, tidak ada manusia yang tidak membuat kesalahan, kecuali Muhammad SAW. Saya tidak pantas memaafkan siapapun Kiai. Sementara saya sendiripun ikut andil dalam kedzaliman itu. Saya bahkan lebih dzalim karena membuka aib saudara saya sendiri demi membersihkan nama baik saya yang sebenarnya malah tidak baik sama sekali. Maafkan saya Kiai." Ujar Al.
Dia menyesal mengungkapkan kebenaran tentang perselingkuhan Kelvin dan Marsya didepan umum. Dia bahkan malu pada dirinya sendiri dan juga pada Auri yang sudah dari awal memilih untuk tetap diam. Dan ternyata benar, diam adalah emas, bicaramu adalah pedang yang dihinuskan pada jantungmu sendiri.
Saat sedang saling meminta maaf itulah, Kelvin dan Marsya tiba.
"Assalamualaikum, Abi, Umi." Sapa Kelvin dan Marsya.
Mendengar suara itu Al langsung berdiri dan melangkah menjauhi Kiai. Dia memberikan ruang pada Kelvin dan Marsya untuk sungkeman pada Kiai.
"Abi ampuni saya, saya mau bertaubat Abi." Isaknya dalam tangisan
Sedangkan Marsya memeluk erat tubuh Umi. "Ampuni saya Umi. Saya sungguh menyesal. Saya sungguh ingin bertaubat." Ucapnya dengan terisak.
__ADS_1
Perlahan Al menghapus air matanya. Dia memalingkan wajahnya dari Kelvin dan Marsya yang mulai menatap padanya.
"Minta maaflah kalian pada nak Al Fatih. Sesungguhnya dialah yang kalian dzalimi." Perintah Abi pada Kelvin dan Marsya.
Mereka pun melangkah mendekat pada Al yang masih enggan menatap pada mereka. Sungguh hati Al berdegup sangat kencang. Kakinya terasa lemah, perutnya seakan ingin mengeluarkan segala yang ada didalamnya. Tapi, Al mencoba menahannya dan dia mencoba terlihat baik baik saja.
"Al maafkan aku Al. Maafkan atas kekhilafan yang telah aku perbuat." Kelvin berlutut dan memegang kaki Al.
Dia menangis meminta maaf pada Al Fatih. Marsyapun demikian, dia ikut berlutut. Dia menangis dan hendak mencium kaki Al Fatih untuk meminta ampun atas perbuatan dzalimnya saat masih menjadi istri dari Al Fatih. Namun, selum itu terjadi dengan cepat Al menjauhkan kakinya dan meraih tubuh Kelvin untuk segera berdiri.
"Aku mungkin sudah memaafkan kalian, Vin. Tapi ingatlah apa yang telah aku saksikan sendiri dengan mata kepalaku, sungguh susah dilupakan dan itu membuatku merasakan trauma yang sangat berat." Ungkap Al.
"Maafkan aku, Al. Sungguh aku ingin bertaubat. Jika kamu tidak memaafkan aku dan Marsya, bagaimana taubat kami diterima oleh Allah." Ucap Kelvin merasa prustasi.
"Aku terus dan terus berusaha melupakan semuanya, Vin. Tapi, bayangan itu, ingatan kejadian itu tidak bisa hilang dari kepalaku. Aku sudah memaafkan kalian, tapi aku belum bisa melupakan kejadian itu."
Al menjauhkan dirinya dari mereka berdua. Lalu, Al pun berpamitan pada Kiai dan bu Nyai.
"Jagalah istrimu dengan baik, Vin. Dan kamu Marsya, jadilah istri yang setia dan patuh pada suamimu. Jangan mudah dibutakan oleh cinta harammu dan mudah dirayu syetan." Dia berpesan kepada Kelvin dan Marsya.
"Saya permisi Kiai, bu Nyai. Assalamualaikum." Ucap Al.
Lalu dia pun melangkah keluar dari rumah itu meninggalkan Marsya dan Kelvin yang masih menangis menyesali kesalahan mereka. Begitu juga dengan Kiai dan Umi yang juga menatap iba dan kagum pada Al Fatih yang dengan rendah hati datang untuk meminta maaf atas kesalahan yang tidak diperbuatnya.
__ADS_1