Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Konferensi pers dadakan


__ADS_3

Malam ini Al Fatih menghadiri acara puncak penghargaan insan music Indonesia. Dia di undang sebagai pembaca nominasinya. Dia diundang bersama Alista juga. Tapi, saat ini Al yang baru saja selesai membacakan nominasi, berada diruang tunggu. Sementara Alista sudah pulang terlebih dahulu, karena ada syuting iklan.


Saat ini Al sedang duduk dengan dikelilingi oleh para wartawan. Mereka berlomba lomba ingin berbincang dengan Al. Karena, sejak Al bercerai dan saat Marsya menikah lagi pun Al tidak pernah mau diwawancai.


"Mas Al, boleh dong kita bincang bincang sebentar malam ini." Ujar salah satu wartawan.


"Iyo dong mas Al. Bentar aja bincang bincangnya." Seru yang lainnya ikut membujuk Al.


Sebentar Al tersenyum, lalu dia meminta Haris untuk ikut duduk disampingnya. Kemudian dia merapikan pakaiannya dan berbisik pada Haris untuk tetap berada didekatnya selama wawancara.


"Baiklah. Boleh kitai mulai!" Seru Al dengan senyum manisnya yang membuat cewek cewek tergila gila pada duda keren satu anak itu.


"Mas Al, bagaimana perasaannya bisa hadir di acara penghargaan insan music malam ini?" Seorang wartawan mulai mengajukan pertanyaan.


"Senang. Perasaan saya sangat senang hadir dalam acara sebesar ini. Terlebih, karena bisa bertemu dengan teman teman penyanyi." Jawabnya.


"Sinetron mas Al sukses besar meski baru memasuki episode 50. Bagaimana perasaan mas Al?" Pertanyaan berlanjut.


"Alhamdulillah senang. Sinetron ini menurut saya sangat banyak pesan pesan positifnya yang disampaikan pada anak anak muda zaman ini." Jawabnya dengan selalu tersenyum.


"Rencananya sinetron mas Al akan tayang berapa episode?"


"Masih belum dibicarakan sama mbak Erna. Yang pasti masih akan sangat panjang kisah Munir dan Jia." Menyebutkan namanya dan Alista didalam sinetron yang mereka bintangi.


"Rencana mas Al kedepannya mau bagimana?"


"Rencana kedepannya, ya masih tetap harus syuting sinetron. Intinya rencana kedepannya adalah kerja. Dan yang pasti, masa depan Rizki yang terutama bagi saya."


"Kemarin sempat viral di sosmed, tentang mas Al yang sudah dibatasi oleh mbak Marsya untuk bertemu Rizki, apa itu benar?"

__ADS_1


Al tidak langsung menjawab, dia tersenyum, lalu mengatur duduknya yang terasa kurang nyaman. "Dibatasi sih, enggak. Cuma memang karena saya sibuk syuting juga. Terus Ibu juga lagi sibuk di Bogor." Jelasnya agak terbata dan terlihat bingung.


"Hubungan mas Al sama mbak Marsya sejauh ini tetap baik, atau gimana?" Pertanyaan kali ini membuat Al merasa kurang nyaman. Bahkan bukan hanya Al yang merasakan hal itu, wartawan lain pun agak heran dengan pertanyaan sensitif tersebut.


"Semuanya baik baik saja." Jawab Al singkat dan tetap tersenyum.


"Baru baru ini beredar photo kedekatan mas Al sama mas Kelvin. Apa benar kalian berteman dekat?" Pertanyaan mulai menjurus pada masa lalu. Tapi Al masih tetap tersenyum. Haris yang hendak mencoba mengakhiri perbincangan itu, malah diminta Al untuk tetap tenang dan membiarkan wawancara ini diteruskan.


"Saya kenal Kelvin diawal tahun kelima pernikahan, kalau nggak salah dua bulan apa satu bulan sebelum Rizki lahir." Jawab Al dengan tenang.


Mendengar jawaban Al, membuat wartawan wartawan itu kembali melontarkan banyak pertanyaan yang selama ini mereka simpan sejak hari perceraian dan pernikahan Marsya, serta isu perselingkuhan yang pernah dituduhkan Marsya pada Al saat Marsya merasa prustasi hingga melepas jilbabnya.


"Bagaimana Mas Al bisa mengenal mas Kelvin?"


"Melalui Abinya Marsya. Kebetulan Kiai Ahmad Habib adalah sahabat Abi juga. Nah saat itu saya di ajak Abi main ke pesantren. Disanalah saya kenal dengan Kelvin. Sejak hari itu juga kita sering bertemu, karena kan Kelvin juga di Jakarta sendirian menimba Ilmu, gitu." Tutur Al santai menceritakan awal pertemuannya dengan Kelvin.


"Iya. Saya datang ke pernikahan Kelvin bersama Uminya Rizki juga."


"Berarti mas Al kenal dong sama mbak Auristela Azzahra?" Pertanyaan semakin menyelidik. Dan Al masih tetap tenang dengan senyum manisnya itu.


"Saat itu saya belum kenal. Karena, pada saat harusnya pengantin wanita datang ke hadapan pengantin pria, saya sudah harus kembali ke Jakarta. Karena ada syuting sinetron sorenya. Jadi hanya Rizki dan Uminya saja yang menghadiri hari bahagia itu sampai selesai."


Mendengar penuturan Al membuat beberapa wartawan saling bertatapan. Mereka seakan dapat menerka sebuah misteri besar yang selama ini masih menjadi tanda tanya besar di kepala mereka.


"Apa mbak Marsya sudah mengenal mas Kelvin sejak lama?" Pertanyaan ini membuat Haris tersenyum. Dia sepertinya mulai paham maksud para wartawan itu bertanya seperti itu.


"Sudah. Mereka sudah mengenal sejak lama. Karena Abi Abdullah kan bersahabat baik dengan Kiai Ahmad." Al menunduk sesaat menyembunyikan wajah kecewanya.


"Maaf, mas, mbak. Kalau bisa pertanyaan jangan menjurus pada hal seperti ini. Sepertinya…" Al menyentuh bahu Haris memberi isyarat bahwa dia baik baik saja dengan pertanyaan pertanyaan itu. Harispun kembali diam dan tetap duduk tenang disamping Al.

__ADS_1


"Apa mas Al belum kepikiran untuk menikah lagi?"


Pertanyaan menggelitik yang membuat Al hampir tertawa. Pertanyaan ini selalu ditanyakan oleh para fansnya melalui sosial medianya.


"Menikah! Saya sangat ingin menikah. Tapi, untuk saat ini sepertinya belum."


"Kenapa belum, mas? Apa mungkin mas Al masih trauma?"


Lagi dan lagi Al merasa tergelitik. "Trauma itu hanya untuk orang yang miskin akan rasa cinta dan rasa syukur pada Penciptanya. Dan saya termasuk orang orang itu untuk sesaat saja. Tapi, Alhamdulillah qadarrullah, saya lepas dari rasa trauma itu dalam waktu yang singkat." Sebentar Al menghela napas. "Saya belum mau menikah, karena jodohnya belum ketemu saat ini." Dijawab sambil bercanda oleh Al.


"Laki laki sesempurna mas Al masak belum bertemu jodohnya. Mas Al lucu deh." Salah seorang wartawan tertawa menanggapi candaan Al.


"Sama mbak Alista saja, mas Al." Mereka mulai memilihkan jodoh untuk Al. Sedangkan Al hanya tersenyum.


"Wah, kalau Alistanya mau sama duda satu anak seperti saya, ya saya sih jelas mau sama Alista." Ujarnya hanya bercanda namun dianggap serius oleh wartawan.


"Mas Al berarti senang dong beradu acting dengan mbak Alista. Dan saya lihat, dalam sinetronnya kemisteri kalian berdua benar benar dapat loh, mas Al."


"Alhamdulillah dong kalau begitu. Berarti saya sama Alista berhasil memerankan karakter didalam sinetron dengan baik."


"Tentunya mas Al tau dong kalau fansnya mas Al sering menjodoh jodohkan mas Al sama mbak Alista. Gimana nih tanggapan mas Al?"


"Saya tau tentang itu. Bagi saya, apapun yang diinginkan fans bagi idolanya itu adalah hal wajar dan merupakan hak mereka. Jadi selama tidak menyangkut hal yang merugikan saya atau Alista, ya terserah mereka saja."


"Lalu, bagaimana tanggapan mas Al dengan fans yang juga mulai menjodoh jodohkan mas Al dengan mbak Auristela?"


Kali ini Al terdiam agak lama. Dia hanya tersenyum dan terlihat agak bingung. Namun, dia berusaha untuk terlihat tenang.


"Waduh, kalau yang itu saya kurang tau ya. Yang saya tau, Auristela adalah wanita hebat, kuat dan istiqomah." Tiga kata itu yang terlontar dari mulutnya hingga menimbulkan pemahaman lain dari para fans nantinya.

__ADS_1


__ADS_2