
Pesantren.
"Panggil Kelvin sama Marsya kembali ke pesantren, umi." Perintah Kiai.
"Tapi, Abi. Mereka benar benar telah membuat kesalahan fatal." Sahut Umi.
"Justru itulah mereka harus tetap di pesantren. Jika mereka dibiarkan diluar, Abi makin khawatir mereka akan bertambah bebas melakukan hal hal lainnya." Dia menegaskan.
"Baiklah Abi. Akan Umi minta seseorang dari pesantren untuk menjemput mereka." Dia membantu suaminya untuk duduk di kursi ruang depan.
Sementara itu beberapa orang suruhan Kiai pun langsung bergegas menjemput Kelvin yang diketahui tinggal disalah satu rumah kontrakan yang tidak jauh dari pesantren.
Begitu mereka sampai dikediaman Kelvin, mereka mendapati Kelvin sedang membaca Qur'an.
"Assalamualaikum, ustadzah Marsya." Panggil salah satu dari mereka.
"Waalaikumsalam." Marsya yang sudah hamil besar itu pun tertatih melangkah menuju pintu.
"Ada perlu apa kalian kemari?" Tanya Marsya pada mereka.
"Kita diperintahkan pak Kiai menjemput ustadzah dan ustad untuk kembali ke pesantren." Jelas mereka.
Marsya hanya terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Beruntungnya, Kelvin yang sudah usai membaca Qur'an menghampiri mereka.
"Apa benar ini perintah Abi?" Tanya Kelvin.
"Benar Ustad. Beliau sudah kembali dari rumah sakit sejak tiga hari yang lalu. Dan beliau sendiri yang memerintahkan kami untuk menjemput Ustad." Jelas salah satu dari mereka.
__ADS_1
Sebentar Kelvin menatap pada Marsya. "Apa kamu setuju kita kembali, sayang?" Tanya Kelvin.
"Jika itu perintah Abi, maka tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya, mas." Jawab Marsya.
"Baiklah, kami akan ikut kalian. Tunggulah sebentar, kami harus berkemas."
Mereka hanya mengangguk setuju. Kelvin dan Marsya pun masuk kedalam rumah untuk mengemasi barang barang mereka.
Di tempat lain. Auri baru saja tiba di Solo. Dia dan rombongannya sedang makan siang yang sudah kesorean. Maklum, padatnya jadwal membuat mereka melewatkan jam makan siang.
"Kak. Adek mau kakak menikah lagi." Ucap Alista tiba tiba yang membuat Auri hampir tersedak.
"Kenapa adek tiba tiba ngomong gitu." Tanya Auri sambil merapikan kembali cadarnya setelah dia minum.
"Ya karena adek juga mau nikah kak."
"Adek mau nikah sama siapa?" Tanya Auri bingung.
Selama lebih dari satu bulan terakhir ini dia selalu bersama adiknya itu, tapi tidak pernah sekalipun dia tahu adiknya dekat dengan lelaki manapun.
"Adek mau nikah sama Al Fatih?" Tanya Auri ragu ragu.
Pertanyaan itu membuat Alista tertawa. Lalu dia mereguk minumnya dan mengatur napasnya.
"Adek justru mau kakak menikah dengan mas Al. Kalian pasangan yang serasih."
"Adek ngomong apaan sih. Jangan berkorban perasaan demi kakak. Kakak tidak akan pernah mau, Alista." Tegas Auri tidak suka dengan ide Alista yang memintanya menikah dengan Al Fatih.
__ADS_1
"Adek nggak berkorban perasaan kak. Adek benaran akan menikah." Mencuri pandang pada Rudi yang masih menikmati makanannya.
"Adek mau nikah sama siapa?" Tanya Auri.
"Eehhmm..." Rudi berdehem.
Semua mata menatap kearahnya. Lalu Rudi menunjuk wajahnya dengan telunjuknya sendiri.
"Adek mau nikah sama bang Rudi?" Teriak Auri merasa tidak percaya.
Melki dan Widia pun ikut kaget mendengar pengakuan Alista dan Rudi.
"Sejak kapan kalian ada hubungan?" Selidik Auri.
"Sejak Alista selalu bersama kamu, Ri. Abang jatuh hati dan mengutarakan perasaan untuk menikahinya. Itu dua minggu lalu." Jelas Rudi.
"Wah, aku tidak tahu harus mengatakan apa." Ucap Auri tidak percaya.
"kak... menikahlah dengan mas Al."
Alista mengatakan itu sambil merengek dan merebahkan kepalanya dibahu kakaknya itu.
"Kenapa adek meminta kakak menikahi dia?" Dia masih merasa heran dengan pernyataan adiknya yang tiba tiba.
"Karena adek tahu, mas Al dan kakak sama sama saling mencintai. Tapi, kalian mencoba menahan perasaan itu karena tidak ingin adek tersakiti. Iya kan?"
"Dek, menikah itu tidak cukup hanya dengan perasaan cinta. Lagian dari mana adek tahu, dia mencintai kakak dan mau menikahi kakak. Bisa saja kan, saat ini hatinya sudah berubah." Kilah Auri tidak ingin orang orang terdekatnya mengetahui apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap Al Fatih.
__ADS_1