Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Tidak lebih penting


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Mia terlihat murung. Dia merasa tidak enak hati pada Al.


"Beb, Al pasti sangat marah sama aku!" Ucap Mia dengan perasaan bersalah.


"Lagian kamu juga kenapa malah nanya gitu sama Alista." Ujar Gio santai, terlihat senyum dibibirnya.


"Iihh kok kamu malah senyum." Mia kesal melihat senyuman Gio yang sama sekali tidak dibutuhkan saat ini.


"Sayangku jagan khawatir. Al itu orang yang paling baik dan tidak bisa marah untuk waktu yang lama." Mengelus kepala Mia dengan penuh kasih.


Karena perlakuan Gio yang memanjakannya seperti itu, membuat hati Mia tersentuh. Dia pun tidak jadi marah dan malah menyenderkan kepalanya dibahu kekasihnya itu.


Sementara itu, Auri saat ini sedang berjalan jelan di halaman rumahnya bersama mama. Dengan sangat hati hati, Auri membantu mama untuk berjalan tanpa bantuan kruk. Awalnya memang sangat susah. Mama juga sering terjatuh, tapi Auri dengan sigap menyambut mama agar tidak jatuh ke tanah.

__ADS_1


"Ayo ma, pelan pelan… raih tangan Auri." Teriak Auri yang berdiri agak jauh dari mamanya sambil mengulurkan tangan agar diraih oleh mama.


"Ayo ma, bentar lagi tangan Auri bisa mama raih." Teman teman Auri pun memberikan dukungan pada mama.


Dengan agak kesusahan, Jeni mengangkat kaki kanan kedepan, lalu kaki kiri menyusul. Hingga akhirnya empat langkah kedepan tanpa bantuan kruk pun berhasil dilakukannya.


"Ayo, ma semangat. Empat langkah lagi, mama akan meraih tangan Auri." Teriak mereka memberi semangat.


Sedangkan Auri, tersenyum haru menatap mama yang berusaha melangkah untuk meraih tangannya. 'Mama pasti bisa. Mama harus sembuh. Aku sangat menyayangi mama.' Ucap Auri dalam hatinya.


Jeni sudah merasa sangat lelah dan kesakitan. Tapi dia tidak mau menyerah, sehingga dengan segenap tenaga yang masih tersisa, dia mengangkat lagi kaki kanannya kedepan, kemudian diikuti kaki kirinya. Langkah pertama berhasil, lalu dia berusaha untuk melanjutkan langkahnya.


Teman teman Auri menatap serius pada Jeni, sedangkan Auri sudah meneteskan air mata melihat mamanya yang kesakitan. Auri sudah tidak bisa membiarkan mamanya berusaha melangkah lagi. Dia pun langsung berlari dan memeluk tubuh wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


"Maafkan Auri, ma. Maafkan Auri." Peluk Auri sambil menangis dan langsung membawa mamanya duduk di tanah.


Adegan itu sangat mengharukan, sehingga membuat teman teman Auri ikut menangis haru.


Dan disinilah William Mark. Dia sedang berada di Singapura. Meski sudah mendengar kabar, bahwa Jeni kabur dari rumah, dia tetap fokus pada pekerjaannya. Dia bahkan tidak peduli sama sekali.


"Pa, kapan papa akan pulang. Mama masih belum ditemukan." Teriak Alista melalui sambungan telepon.


"Palingan mama kamu itu menemui Auri. Biarkan saja mereka. Papa tidak peduli. Mereka tidak lebih penting dari pekerjaan papa. Kalau kamu juga mau meninggalkan papa, silahkan. Papa tidak peduli." Ucap William dan langsung mengakhiri pembicaraan itu tanpa persetujuan Alista.


"Aaakkkkggghhh. Kenapa kalian semua selalu menggangguku. Kenapa kalian mengacaukan semuanya. Dasar wanita wanita bodoh." Teriaknya kesal.


Dia benar benar kesal, dia merasa ketiga wanita itu tidak mau patuh padanya. Terutama Auri dan istrinya Jeni. Kini, Alista bahkan sudah mulai mengganggunya juga.

__ADS_1


"Harusnya aku tidak memberikan mereka kehidupan yang layak sejak dulu. Semuanya menjadi sia sia, karena wanita wanita bodoh itu. Sangat menyebalkan." Rutuknya, sementara mata dan tangannya tetap masih pokus pada komputer didepannya.


__ADS_2