
"Mbak, sebaiknya kita antarkan saja Rizki ke pesantren. Aku khawatir nanti malah jadi masalah loh mbak." Bujuk Adit.
Auri hanya diam membelai lembut wajah Rizki yang terlelap dikasurnya. Auri tersenyum menatap wajah lembut itu sambil bersholawat dalam hatinya.
"Mungkin, kalau anakku lahir dulu, dia akan semanis ini." Ujar Auri yang membuat mereka semua terdiam merasa iba.
"Saat ini dia sudah berusia tiga bulan, atau lima bulan. Ah aku lupa. Tapi, aku yakin jika dia ada, dia akan menggenggam erat jari telunjukku seperti ini." Menatap tangan mungil Rizki yang memang menggenggam erat jari telunjuk tangan kiri Auri.
Air matanya mengalir begitu saja mengingat buah hatinya yang masih berbentuk gumpalan daging saat itu. Auri terisak dan langsung mengambil telunjuknya secara paksa dari genggaman Rizki, hingga membuat Rizki terbangun.
"Mbak, jangan sedih." Widia memeluk erat tubuh Auri yang masih terisak.
"Aku tidak bisa menjaga bayiku dengan baik, Wid. Aku kehilangan bayiku. Aku kehilangan separuh nyawaku." Tangisnya pecah. Membuat seluruh ruangan terasa sedih.
Mereka semua ikut bersedih melihat Auri bersedih. Endah bahkan langsung ikut memeluk Auri bersama Widia. Dan Rizki, mata beningnya itu menatap kearah Auri. Matanya juga berair tapi dia tidak mengeluarkan suara.
"Aku tidak pantas hidup dengan segala kemewahan yang aku dapatkan saat ini. Aku seharusnya tidak sebahagia ini menjalani hidupku. Bayiku sudah tidak ada. Aku bahkan tidak bisa menggenggam tangannya. Aku bahkan tidak tau seperti apa rupanya." Auri memaki dirinya sendiri. Dia menyalahkan dirinya atas kepergian buah hatinya.
Selama ini Auri tidak pernah menangis. Dia hanya memilih diam dan menyendiri untuk menenangkan hatinya. Namun, ternyata seperti inilah luka yang dialaminya. Masih sangat dalam dan berdarah.
__ADS_1
Sementara itu Marsya mengamuk saat tahu Rizki tidak diketahui keberadaannya.
"Kalian yang mengasuhnya. Kenapa kalian sampai tidak tahu Rizki dibawa oleh siapa?" Bentaknya pada Memei dan kedua wanita yang juga pengasuh santri di pesantren.
"Maafkan kami ustadzah." Berlutut meminta maaf dihadapan Marsya.
'Ternyata seperti ini aslinya neng Marsya.' Batin Memei saat dirinya juga terpaksa harus berlutut dan menerima pukulan dikeningnya oleh Marsya.
"Temukan Rizki. Sebelum kalian berhasil menemukannya jangan pernah coba coba kembali kesini." Ucapnya sambil memalingkan wajahnya dari mereka bertiga.
"Baik ustadzah." Ucap mereka serentak. Dan merekapun kembali keluar pesantren secara diam diam untuk menjemput Rizki pada Auri.
Ya, sejak hari Auri bertemu Umi di Jakarta, Memei sudah mendapat cerita dari Umi bahwa Auri tidak seperti yang diceritakan Kelvin pada mereka. Dan saat itu juga, Memei ingin Auri selalu bahagia dengan kehidupan barunya dan tampa harus menghadapi masalah masalah lagi.
"Kalian mengerti?" Ulang Memei.
"Iya Ukhty kami akan menjaga rahasia ini selamanya." Jawab mereka kompak.
Di jakarta saat ini, Al baru saja selesai syuting part dirinya dalam satu episode. Dia beristirahat sejenak sambil mengobrol bersama Gio dan juga aktor lainnya.
__ADS_1
"Sejak kapan loe nggak ketemu Rizki?" Tanya Gio saat mereka tinggal berdua di ruang istirahat itu.
"Hampir dua bulan terakhir." Jawabnya sambil memeriksa hpnya.
"Apa Marsya membatasi pertemuan kalian?" Tanya Gio sudah seperti wartawan.
Sebentar Al tersenyum. "Pasti loe disuruh Mia, kan?" Tebak Al yang sudah terbiasa dengan Gio yang mulai mewawancarainya saat dapat perintah dari kekasihnya itu.
"Binggo." Jawab Gio jujur.
"Tepatnya Marsya memutus komunikasi gue sama Rizki." Ujarnya sambil mengetik sesuatu dilayar hpnya.
"Segitunya? Loe ngapain sampai Marsya melakukan itu?" Tanya Gio yang murni benar benar penasaran.
"Nggak tau juga gue. Mungkin suaminya cemburu kali saat Rizki ketemu sama gue, pastinya dia akan menceritakan tentang gue sepanjang hari. Nah mungkin Kelvin nggak suka itu. Makanya gue jadi susah ketemu anak gue." Tuturnya.
Mendengar penuturan Al membuat Gio heran. Biasanya Al tidak pernah mau membahas tentang apapun yang menyangkut urusan pribadinya. Tapi, saat ini dia malah menjelaskan dengan sedetail mungkin tentang kegundahan hatinya.
"Gue benar benar merindukan anak gue, bro. Rasanya seperti separuh jiwa gue pergi. Dia segalanya. Gue nggak butuh kemewahan ini. Yang gue butuh adalah anak gue berada dipelukan gue. Rasanya semua kemewahan ini tidak berarti tampa anak gue, Muhammad Rizki." Ungkapnya yang membuat hati Gio terenyuh haru dan juga tersentuh.
__ADS_1