
Sore ini Auri sengaja berjalan santai menikmati keindahan kota Solo. Dia melangkah bersama teman temannya. Banyak orang yang juga berjalan di sore itu dan mereka mengenali Auri. Namun, tidak satupun dari mereka yang memberanikan diri untuk menyapa Auri. Mereka hanya saling berbisik dan mengambil photo diam diam.
Adit yang mengetahui itu hendak menghampiri mereka yang merekam dan mengambil photo Auri secara diam diam. Tapi, sebelum itu terjadi, Auri sudah lebih dulu menghentikan Adit dengan isyarat tangan.
"Abi…" Didepan sana terdengar suara rengekan anak kecil memanggil abinya.
"Abi, abi…" Anak kecil itu berlari menjauh dari kedua wanita muda yang juga ikut berlari mengejarnya.
"Cepat kejar Rizki, nanti dia jatuh." Teriak wanita yang satunya memerintahkan temannya untuk mengejar anak kecil yang ternyata Rizki itu.
Auri yang tadinya tidak memperdulikan suara suara itu sampai matanya melihat anak kecil yang berlari ditengah jalan sendirian. Tampa melihat kanan kiri Auri berlari mengejar anak kecil itu dan langsung menggendongnya kembali ke pinggir jalan.
Melihat apa yang dilakukan Auri membuat teman temannya terkejut dan juga khawatir. Tapi, berbeda dengan mereka, orang orang lain malah mengambil video dan gambar dari kejadian itu. Untungnya sebelum mereka sempat merekam wajah anak kecil itu, Adit, Melki, Digo dan Rudi sudah menghentikan mereka semua.
"Terimakasih, kak. Terimakasih sudah membawa Rizki." Kedua wanita tadi menghampiri Auri dengan terengah engah.
Sedangkan anak kecil bernama Rizki itu terdiam dalam gendongan Auri. Dia menggenggam erat jilbab bagian belakang Auri. Sedangkan wajahnya dibenamkannya dibahu Auri.
__ADS_1
"Dek, kita pulang ya. Nanti Abi sama umi marah loh." Bujuk mereka berusaha mengambil Rizki dari gendongan Auri. Tapi, Rizki malah semakin memeluk Auri erat. Dia mengalungkan tangannya dileher Auri dengan sangat erat, bahkan membuat Auri merasa pengap.
"Sepertinya dia tidak ingin ikut kalian." Ucap Auri sambil mengelus lembut kepala Rizki.
"Tapi kak, kita harus segera membawa dek Rizki pulang. Kalau tidak kita akan kena hukuman." Jelas mereka.
Auri memeluk lembut tubuh Rizki. Pelukannya terasa sangat nyaman bagi Rizki, sehingga dia melepas kedua tangan mungilnya yang tadi melingkar di leher Auri.
"Adek harus pulang, ya. Umi dan Abi akan khawatir kalau adek tidak pulang." Bujuk Auri menggunakan bahasa bayi yang berhasil membuat teman temannya heran dan juga merasa Auri luar biasa.
"Aku mau abi. Aku mau abi." Kembali merengek. Dan Auri bingung, kenapa dia mengatakan ingin abi, padahal dia memang diajak pulang untuk bertemu dengan abinya.
"Abi Kiki di Jakarta. Di sana bukan abinya kiki." Teriaknya marah menatap kedua wanita muda dihadapannya.
Auripun ikut menatap kedua wanita muda itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. 'Mereka tidak mungkin penculik bayi, kan?' Batinnya curiga.
"Mana Rizki. Kenapa kalian bermain terlalu jauh dari pesantr…" Celoteh seorang wanita lainnya yang lebih tua dari mereka berdua. Wanita itu menghentikan celotehnya dan juga langkahnya. Matanya dan mata Auri saling bertemu.
__ADS_1
"Mbak Mei." Sapa Auri yang mulai paham dengan situasi ini. Sejenak Auri menatap lagi Rizki yang masih dalam gendongannya, lalu dia tersenyum getir.
Kini giliran Adit, Rudi, Melki, Digo, Endah dan Widia yang tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Mereka saling menatap untuk mendapatkan jawaban yang kini berputar dikepala mereka.
"Neng Auri." Memei melangkah mendekati Auri dan berusaha mengambil alih Rizki. Tapi yang terjadi, Rizki malah mengamuk dan memberontak tidak mau diambil oleh Memei. Tangan mungilnya sangat erat melingkar dileher Auri.
"Mbak Mei, jangan di paksa. Sepertinya dia tidak ingin pulang." Ucap Auri sambil berusaha melepas tangan mungil itu dilehernya.
"Pulang ya dek. Umi sama Abi khawatir loh." Bujuk Memei juga ikut berusaha melepas tangan Rizki dari Auri.
Rizki menangis, berteriak dan mencoba menendang Memei yang berusaha melepasnya dari Auri. Sedangkan Auri yang sudah merasa pengap dengan keadaan yang dihadapinya serta sudah mengetahui siapa anak kecil yang saat ini ada dalam gendongannya membuatnya melepas tangannya dari tubuh Rizki hingga akhirnya Memei lebih mudah merebut paksa Rizki darinya.
Memei pun melangkah membawa Rizki yang terus berontak dalam gendongannya. Endah dan Widia merasa khawatir melihat teriakan suara tangisan Rizki yang semakin keras. Sedangkan Auri hanya diam menatap kosong pada Rizki yang mengulurkan tangan mungilnya meminta Auri membantunya lepas dari Memei.
"Mbak Mei tunggu." Teriak Auri sambil berlari kearah Memei dan langsung merebut lagi Rizki dari Memei.
"Neng Auri, apa yang kamu lakukan?" Bentaknya kaget.
__ADS_1
"Aku akan membawa anak ini ke Jakarta. Dia merindukan Abinya. Kalian tidak punya hak untuk mengurungnya di Pesantren dan memisahkan dia dari Abinya." Jelas Auri yang langsung membawa pergi Rizki.
Memei mengejar lagkah Auri, namun dihalangi Oleh Rudi dan Melki. Sehingga Memei kehilangan Rizki yang harusnya dibawanya ke hadapan Marsya dan Kelvin.