Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Terimakasih dan maaf


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Auri dan Alista kini sama sama belajar untuk menjadi wanita muslimah yang sejati. Mereka benar benar nyaman dengan kehidupan yang mereka jalani sebulan terakhir. Tidak ada pembahasan tentang laki laki lagi dalam keseharian mereka.


"Dek, sudah siap belom?" Teriak Auri dari luar kamar.


"Bentar kak, lagi merapikan jilbab." Sahut Alista.


Hari ini mereka akan menghadiri seminar yang bertema perempuan perempuan hebat, di salah satu komunitas hijrahnya anak anak muda.


"Kak, adek udah siap." Alista langsung menggandeng tangan Auri.


Mereka menuju mobil yang sudah siap berangkat. Bang Rudi yang jadi supir kali ini.


"Mbak, bukunya dibawa gak?" Tanya Widia mengingatkan.


"Udah kok ini bukunya." Menunjukkan buku cetakan pertama karya pertamanya sebagai seorang penulis.


Ya. Auri sudah lama menulis, tapi belum berani mengirim tulisannya ketempat percetakan buku.


"Mereka akan suka nggak ya sama buku ini? " Tanya Auri ragu.


"Tentu suka lah, tuan putri." Sahut Melki.

__ADS_1


"Tapi, biasanya remaja remaja lebih suka membaca novel online dibandingkan buku motivasi ini." Sambungnya kembali menjelaskan.


"Kita mau menemui orang orang yang sedang istiqomah untuk hijrah kak. Pasti mereka akan langsung menyukai bukunya. Seperti adek yang sangat suka membaca buku karya kakakku ini." Ucap Alista meyakinkan kakaknya.


"Semoga saja."


Hari ini Auri ditemani Rudi, Melki dan Widia. Mereka menuju ke Yokyakarta, lalu akan mampir di Solo sebelum pulang ke Jakarta. Auri ingin menjenguk Abi yang sudah pulang dari rumah sakit beberapa hari yang lalu.


Selama hampir satu bulan terakhir, semua orang tidak pernah membahas tentang Al Fatih lagi dihadapan Auri dan Alista. Mereka sangat hati hati menjaga agar hubungan kedua kakak beradik itu tetap baik baik saja.


"Kak, terimakasih dan adek minta maaf." Ucap Alista tiba tiba sambil merebahkan kepalanya dipundak Auri.


Auri hanya tersenyum dan mencium lembut puncak kepala Alista. Diapun berterimakasih karena Alista masih tetap teguh untuk menemaninya menjadi seorang muslimah.


Alista mendengar semua yang dibicarakan oleh Al dan Auri di studio Al hari itu. Alista menelpon Zia dan sengaja meminta Zia untuk tetap menjaga ponselnya tetap hidup dan bisa mendengar langsung pembicaraan Al dan kakaknya.


"Aku tidak akan menikahi Alista. Aku tidak mau menikahi Alista." Tegas Al yang memotong ucapan Auri.


Mendengar langsung penolakan Al membuat hati Alista terasa sangat sakit.


"Tapi, Alista benar benar membutuhkan mas Al. Aku sangat mencintai Alista mas Al." Auri memohon.


Air mata tumpah dari pelupuk mata Alista mendengar kakaknya memohon pada seorang laki laki demi dirinya.

__ADS_1


"Tapi aku sudah mencintai wanita lain, Auri. Bagaimana aku bisa menikahi Alista sementara hatiku untuk wanita lain." Ucap Al yang juga terisak.


Rasanya Alista ingin langsung menghampiri kakaknya dan membawanya pulang.


"Alista mengatakan akan berhenti menjadi muslimah, jika dia tidak bisa menikahi mas Al. Aku hanya tidak ingin Alista kembali menjadi non muslim. Aku sangat mencintainya mas Al. Dia membutuhkan mas Al untuk membimbingnya agar dia bisa semakin mencintai islam. Itulah yang dia katakan." Tutur Auri dengan nada suara yang terdengar lebih tenang dari sebelumnya.


Mendengar Auri berkali kali memohon demi dirinya membuat Alista merasa menjadi sangat jahat pada kakaknya itu.


"Aku tidak bisa menikahi Alista, Auri. Jika kamu memintaku menikahi wanita manapun selain Alista, mungkin aku akan membantumu untuk menikahi wanita itu." Jawab Al yang juga sudah lebih tenang.


"Kenapa mas, apa alasannya? Alista gadis yang cantik, pintar, mas Al hanya tinggal membimbingnya, maka inshaa Allah dia akan menjadi istri yang sholehah." Tutur Auri.


"Aku mencintai orang lain, Auri. Jika aku tidak bisa menikahi orang yang aku cintai sekalipun, aku tetap tidak akan bisa menikahi Alisata."


"Kanapa? Apa alasa…"


"Karena wanita yang aku cintai itu Auristella Azzahra binti William Mark." Tegas Al memotong ucapan Auri lagi.


Pengakuan Al bukan hanya membuat Alista kecewa, tapi juga membuatnya membenci dirinya sendiri. Dia benci dirinya yang terlalu egois hingga menempatkan kakaknya dalam masalah yang sangat rumit ini.


Tapi, setelah mendengar pengakuan Al secara langsung. Hati Alista tersentuh, dia merasa bahagia karena lelaki baik itu mencintai kakaknya. Setidaknya, Alista yakin jika mereka benar benar berjodoh, Al tidak akan pernah menyakiti hati kakaknya lagi seperti yang dilakukan Kelvin dimasa lalu.


Alista juga bertekad untuk benar benar menjadi muslimah yang sejati seperti kakaknya yang memiliki hati bak malaikat.

__ADS_1


flashback off.


__ADS_2