Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Cinta Gio & Mia


__ADS_3

Mobil Al dan Gio tiba berbarengan di depan rumah Mia.


"Gio, apa yang terjadi?" Tanya Auri yang langsung turun dari mobil dengan tergesa.


"Kedua orangtuaku menolak rencana pernikahan ini." Jawab Gio lesu.


"Trus loe setuju?" Tanya Al yang ikut turun dari mobil.


Gio menggeleng tegas menjawab pertanyaan dari Al.


"Jika tidak setuju, kenapa loe nggak bicara pada Media, kalau berita pembatalan itu hanya kesalah pahaman?" Teriak Al agak kesal.


"Tidak ada gunanya bro. Papa sudah melobi semua media untuk tidak membiarkan gue bicara apapun." Jelasnya.


"Lalu, mana Mia? Kenapa aku tidak bisa menghubunginya?" Tanya Auri khawatir.


"Mia mungkin ada di sini." Jawab Gio.


Memdengar itu, Auri langsung berlari masuk ke rumah oragtua Mia. Kebetulan pintu rumahnya tidak terkunci.


"Auri!" Seru Mamanya Mia saat melihat Auri muncul tiba tiba.


"Maaf aku menerobos masuk, tante. Aku hanya ingin bertemu Mia." Jelas Auri.


"Mia mengurung diri dikamarnya. Silahkan temui dia, mungkin nak Auri bisa membujuknya." Ucap Bahtia.


Dengan segera Auri melangkah menuju kamar Mia.


"Mia, buka pintunya. Ini aku Auri." Teriak Auri dari luar kamar Mia.


Sayup sayup Mia mendengar suara Auri. Tapi, dia tidak bergerak sama sekali untuk membuka pintu.

__ADS_1


"Mia, please… buka pintunya. Bicara sama aku." Ucap Auri lagi.


Mia masih tidak bergerak. Dia hanya diam, menatap kosong bingkai foto prewednya dengan Gio.


"Mia… buka pintunya. Izinkan aku masuk." Panggil Auri dengan suara yang tidak lagi sekeras tadi.


Masih tidak ada tanda tanda pergerakan. Auri menghela napas kesal. Dia kesal pada dirinya sendiri, karena tidak bisa melihat kondisi sahabatnya itu saat ini.


Cekkllek…


Tiba tiba Mia membuka pintu. Dia langsung memeluk Auri dengan erat. Air matanya tidak lagi menetes, mungkin karena Mia sudah sangat lelah menangis hampir seharian.


"Semuanya akan baik baik saja, Mia. Percayalah!" Ucap Auri mencoba menenangkan kegundahan hati sahabatnya itu.


Sementara itu, Gio sedang berlutut di hadapan kedua orangtua Mia. Dia memohon, agar diizinkan untuk menikahi Mia.


"Saya mohon, Om, Tante. Izinkan saya menikahi Mia. Saya sangat mencintai Mia dan memang hanya Mia yang saya inginkan untuk menemani saya seumur hidup." Ucap Gio dengan posisi masih terus berlutut.


"Apapun syaratnya akan saya lakukan, Om."


"Tinggalkan keluargamu dan dunia keartisanmu itu. Maka saya izinkan kamu menikahi Mia."


Mendengar persyaratan itu, membuat Al dan Haris yang mendengarnya merasa syarat itu sangat berat dan seakan meminta Gio untuk menyerah berjuang demi menikahi Mia. Tapi, ternyata dugaan Al dan Haris salah. Gio malah mengangguk setuju.


"Saya siap, Om. Saya bahkan memang telah meninggalkan keluarga saya untuk menemui Mia. Saya diusir dan tidak memiliki apapun, kecuali pakaian yang ada ditubuh saya dan juga mobil. Itulah satu satunya yang saya miliki saat ini. Tapi, saya janji akan bekerja keras, agar bisa membuat Mia tetap nyaman dan tanpa kekurangan apapun saat hidup bersama saya." Ungkap Gio percaya diri.


Dan tanpa mereka sadari, sejak tadi Mia dan Auri mendengar negosiasi itu. Mia bahkan tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Gio yang berlutut dihadapan kedua orangtuanya.


"Lihatlah Mia, Gio sangat mencintaimu." Ucap Auri yang memeluk erat tubuh Mia yang rapuh.


"Baiklah. Tapi, jika kamu membuat Mia menderita atau bersedih, maka saya akan mengambil kembali Mia dari hidupmu." Tegasnya.

__ADS_1


Gio merasa bahagia dan lega saat berhasil meyakinkan kedua orangtua Mia. Dan pada saat itulah Mia berlari menuruni anak tangga.


"Mia hati hati!" Teriak Auri khawatir.


Teriakan Auri membuat semua pasang mata menoleh. Mereka melihat Mia berlari menuruni anak tangga dengan mata yang kembali mengeluarkan air.


Betapa Gio khawatir, takut Mia jatuh dari tangga. Sehingga Gio ingin berlari untuk mengejarnya. Namun, Gio sadar bahwa kedua orangtua Mia menatapnya.


"Om, Tante… boleh saya…"


"Pergilah." Ucap mereka bersamaan.


Mendengar itu, Gio langsung berlari mengejar Mia. Dan akhirnya mereka bertemu tepat di depan tangga. Mia langsung memeluk erat tubuh Gio tanpa memperdulikan kedua orangtuanya yang menatap kearah mereka.


"Bawa aku pergi kemanapun kamu mau. Aku tidak peduli, mau susah atau senang kehidupan kita nantinya, selama kita bersama, maka aku akan terus bahagia." Ucap Mia.


Gio membalas pelukan kekasihnya itu. Dia sangat lega dan bahagia, karena mulai hari ini mereka akan hidup bersama selamanya. Gio bertekad untuk terus membahagian Mia meski bagaimanapun caranya.


Auri ikut bahagia dan terharu melihat Mia dan Gio. Dia kini sudah berada di anak tangga terakhir, dan langsung disambut oleh suaminya.


"Terimakasih, mas." Ucapnya pada Al.


"Untuk?" Tanya Al bingung.


"Karena mengizinkan aku untuk bertemu Mia."


"Tentu, sayang." Al merangkul tubuh Auri.


Dan Auri menyenderkan kepalanya dibahu Al. Mereka menatap Gio dan Mia yang sedang bahagia. Hal itu juga mengingatkan pada masa awal perjalanan cinta mereka.


Bahtia juga ikut memeluk istrinya. Mereka terharu dan ikut bahagia, menyaksikan bagaimana perjuangan Gio agar mendapat restu dari mereka untuk menikahi Mia.

__ADS_1


Sedangkan Haris, hanya bisa menggeleng, tersenyum dan menunduk. Bagaimana tidak, semua orang di sana saling berpelukan dan berbagi perasaan. Sementara dirinya hanya sendirian dan belum juga menemukan pasangan yang cocok untuk menemaninya disisa akhir hidupnya.


__ADS_2