
Rumah William Mark.
Alista, Auri, Rudi dan Al, tiba di rumah William dan Jeni. Kedatangan mereka disambut hangat.
"Gimana liburan di London?" Tanya William pada menantunya.
"Seru dong, Pa." Jawab Al.
Merekapun duduk santai di ruang keluarga. Sembari mereka berbincang, Auri dan Jeni pun bergegas kedapur untuk membuatkan minuman dan juga mengambil beberapa cemilan dalam kulkas untuk disajikan.
Semua peralatan yang dipakai untuk membuat minuman berupa barang barang yang baru di beli oleh Jeni dan memang dikhususkan untuk kedua putrinya dan juga menantunya. Jeni sudah mempelajari banyak hal tentang islam, agar bisa tetap dekat dan tetap bisa bersama dengan kedua putrinya meski berbeda keyakinan. Dia juga sangat hati hati dalam menjamu kedua putrinya.
"Untungnya kita tinggal di Indonesia, jadi Mama bisa dengan mudah mendapatkan peralatan dan juga makanan yang baik dan sehat untuk kalian." Ujar Jeni.
"Makasih ya, Ma. Mama adalah ibu terbaik di dunia." Ucap Auri yang langsung memeluk erat tubuh ibunya.
"Dan Mama adalah ibu yang paling beruntung memiliki putri seperti kalian." Balasnya.
"Udah dulu pelukannya. Kita udah haus nih!" Seru Alista yang menghampiri mereka ke dapur.
"Yee, pasti cemburu, kan? Kakak di peluk Mama, adek nggak." Ledek Auri.
"Iiiss, siapa juga yang cemburu. Aku setiap hari dipeluk Mama kok. Iya kan, Ma?" Ucapnya tidak mau kalah dari kakaknya.
"Iya, sudah jangan berantam di dapur Mama. Nih, bawa minuman ke depan." Jeni memerintahkan Alista untuk membawa nampan yang ada gelas berisi minuman.
"Kak Auri, bawa cwmilan kedepan. Gih, cepatan sana." Perintahnya.
"Iya, Mama." Jawab Auri dan Alista bersamaan.
Lalu mereka pun menuju ruang keluarga, dan langsung meletakkan minuman dan cemilan diatas meja.
"Silahkan, diminum." Ucap Alista.
"Terimakasih, sayang." Ucap William pada putri bungsungnya itu.
"Ini cemilannya, silahkan dimakan." Auri ikut meletakkan cemilan diatas meja.
"Terimakasih, sayang." Ucap Al meniru Papa mertuanya.
Kemudian, mata Al dan William melirik pada Rudi yang sejak tadi hanya diam. Rudi bahkan tampak sangat tegang dan kaku, sehingga membuat Al dan William geram ingin menggodanya.
__ADS_1
"Rudi kok nggak bilang makasih sama Alista?" Goda William.
Hanya senyum malu malu yang terlihat sebagai respon dari ucapan calon mertuanya itu.
"Santai aja, Rud. Papa orangnya baik, kok." Ucap Al sambil menepuk bahu Rudi.
"Elah, Al juga seperti kamu ini kok nak Rudi. Waktu pertama bertemu Papa, dia malah terlihat pucat dan kaku juga." Ucap Jeni yang baru kembali dari dapur.
"Eee, Mama buka rahasia aja." Al cemberut manja.
"Lah, emang iya. Al bahkan lebih pucat dari nak Rudi, ya kan, Ma?" Ujar William.
"Betul."
Bukan hanya Jeni yang menjawab, Auri pun ikut mengacungkan jempol tanda setuju dengan ucapan William.
Hal itu membuat wajah Al merona. "Wajar dong, iya nggak, Rud?"
Al mencari pembelaan dari Rudi. Dan hanya anggukan pelan dan senyum yang diberikan Rudi sebagai respon.
"Sudah, sudah. Cukup saling sindirnya. Sekarang, nih minum dulu dan cicipin cemilan ini." Jeni menyarankan.
🍀🍀🍀
Tanggal pernikahan telah ditentukan. Semua biaya pernikahan tanggung jawab William. Namun, dengan semua itu, bukan membuat Rudi senang, dia malah merasa sedih dan terbebani.
Sepulang dari rumah calon mertuanya, Rudi hanya terus diam menatap lampu lampu kota dari balkon lantai atas rumah.
"Bang, kenapa?" Tanya Andi menghampiri Rudi.
"Mmh, biasalah melamun." Jawab Rudi.
"Melamun tentang apa lagi, bang. Bukankah tanggal pernikahan dan biaya pernikahan sudah jelas?" Ujar Andi.
"Iya, memang sudah jelas, Ndi. Tapi, aku malah merasa nggak pantas untuk menjadi suami Alista." Ungkapnya.
"Lah kenapa gitu, bang? Apa jangan jangan abang tidak mencintai Alista selama ini?" Andi mencoba menebak.
"Bukan karena itu, Ndi." Bantahnya.
"Terus kenapa? Cerita dong bang."
__ADS_1
"Aku takut tidak bisa membahagiakan Alista." Ungkapnya.
"Maksudnya?" Andi bingung.
"Seperti yang kamu lihat, Ndi. Aku nggak punya pekerjaan tetap sama sekali. Gajiku yang aku kumpulkan sejak masih bekerja sama Auri, sudah semakin menipis. Sementara, Alista itu seorang bintang yang hidupnya selalu berkecukupan. Aku khawatir, dia akan tersiksa saat bersamaku." Tuturnya.
"Oo gitu masalahnya. Kalau itu sih, kenapa nggak dari awal bang Rudi berpikir seperti itu. Sekarang mah sudah terlambat untuk memikirkan hal itu. Yang perlu dipikirkan sekarang, bagiamana caranya mendapat pekerjaan tetap dengan gaji yang cukup untuk membuat mbak Alista bahagia. Gitu, bang."
Andi memberikan sarannya untuk bang Rudi yang sudah dianggapnya sebagai abangnya sendiri.
"Kamu benar Ndi. Masalahnya, pekerjaan seperti apa yang cocok untuk seorang yang hanya punya ijazah SMP, sepertiku."
Rudi benar benar terlihat kebingungan. Dari tatapan matanya terlihat jelas, dia sedang dilema antara harus meneruskan pernikahan dengan Alista, atau dia mundur sebelum terlanjur akad diikrarkan.
"Bang Rudi tenang saja. Jangan khawatir yang berlebihan, bang. Lagian, channel youtube kalian juga sudah banyak yang nonton dan viewernya naik setiap harinya. Aku yakin, dua bulan lagi, bang Rudi dan mbak Alista akan mendapatkan gaji pertama kalian dari channel youtube." Ucap Andi mencoba menghibur Rudi.
"Entahlah, Ndi. Rasanya aku ingin mundur saja." Ucapnya dengan tatapan kosong jauh kedepan.
"Bang Rudi ngomong apa, sih. Pamali lo bang ngomong begituan." Rutuk Andi.
Rudi menghela napas, lalu mengusak kepala dan wajahnya. Kemudian, dia mengeluh.
"Malu rasanya, Ndi. Pernikahan semuanya dibiayai oleh Papanya Alista. Ntar, setelah Nikah, kalau aku tidak bisa memberi kehidupan yang layak buat Alista bagaimana?"
"Bang Rudi mencintai mbak Alista?" Tanya Andi.
"Sangat. Aku sangat mencintainya, Ndi."
"Jika cinta diperjuangkan, bang. Jangan mikir terlalu jauh kedepan. Jalanin hidup ini dengan terus percaya diri dan bekerja keras. Syukuri apa yang kita punya." Ucap Andi.
"Soal pekerjaan dan memberi nafkah yang banyak, itu pikirkan belakangan saja, bang. Yang pengting sekarang, nikahi mbak Alista. Setelah sah, berikan dia kasih sayang sepenuhnya. Istilahnya nafkah batin. Saat istri bahagia, maka rezeki akan mudah didapatkan bang. Gitu kata ustad yang pernah aku dengar saat ikut pengajian." Tutur Andi.
Raut wajah bingung dan khawatir Rudi pun perlahan berubah menjadi senyuman. Dia merasa terhibur oleh Andi.
"Ternyata kamu lebih dewasa dariku, Ndi. Aku bahkan terlalu berlebihan memikirkan masa depan tanpa mensyukuri nikmat yang selalu Allah berikan." Ucapnya menyesal dan merasa malu pada Andi.
"Nah itu baru bang Rudi yang selalu berpikir positif dan pantang menyerah." Merangkul bahu Rudi.
"Gelisah dan galau menjelang pernikahan itu hal wajar, bang. Banyak juga yang mengalami hal yang sama seperti yang abang rasakan. Tapi, kita punya Allah tempat bergantung dan meminta pertolongan. Jadi, sudahi galaumu, bang." Tutur Andi.
Rudi tersenyum. Dia menghela napas lega dan mencoba untuk berpikir lebih positif lagi dari sebelumnya. 'Terimakasih Andi. Kalau tidak karena kamu, mungkin aku akan mengambil keputusan yang menyakitkan banyak pihak termasuk diriku sendiri.' Pikirnya.
__ADS_1