Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Ikut Abi Syuting


__ADS_3

Semalaman Marsya tidak bisa tidur nyeyak. Keberadaan Rizki masih belim diketahuinya sampai pagi ini. Kelvin belum tahu tentang hilangnya Rizki, karena dia sedang di Bandung ikut bersama beberapa santrinya untuk bersilaturahmi ke pesantren dibawah pimpinan sahabatnya.


Abi dan umi juga tidak tahu tentang hal itu. Karena mereka sedang berada di Semarang. Sehingga yang tahu hanya dirinya, Memei dan dua pengasuh lainnya.


"Ustadzah, kenapa tidak menelpon mas Al saja. Siapa tahu Rizki bersamanya." Memei menyarankan.


"Tidak mungkin aku menelpon menanyakan Rizki padanya. Bagaimana kalau ternyata Rizki tidak bersamanya dan dia akan mencari Rizki dengan bantuan media. Lalu, saya akan menjadi sorotan sebagai seorang ibu yang tidak bisa menjaga anak. Kamu mau begitu?" Ocehnya tidak setuju dengan saran dari Memei.


"Tidak Ustadzah. Maafkan saya." Memei dan kedua temannya terus menunduk merasa bersalah. Mereka bahkan tetap berada di rumah Marsya sampai pagi ini. Padahal banyak santri dan para ustadzah mencari keberadaan mereka. Tapi, Marsya meminta mereka untuk tetap diam dan bersembunyi agar masalah ini tidak tersebar.


"Ingat ya kalian. Aku akan mengatakan pada Abi kalau kalian berkeliaran diluar pesantren semalam, jika sampai siang ini Rizki masih belum juga ditemukan."

__ADS_1


Peringatan ancaman dari Marsya membuat Memei dan kedua temannya hampir saja buka suara untuk memberitahukan siapa yang membawa Rizki. Tapi, sebelum itu terjadi, Hp Marsya bergetar. Rupanya ada notif pesan dari nomor yang tidak dikenal.


Segera saja Marsya membuka pesan itu yang ternyata berupa photo photo Rizki yang sedang asik bermain bersama Al dan ibunya. Mata Marsya memerah, tangannya mengepal erat hp yang ada ditangannya. Dia benar benar marah karena melihat Rizki sudah kembali bersama Al. Padahal selama dua bulan terakhir dia berhasil menjauhkan Rizki dari Al.


"Ini semua gara gara kalian." Teriaknya sambil membanting pintu kamar. Dia meraung raung dan membanting beberapa barang di kamarnya. Memei dan teman temannya dapat mendengar semua itu dari ruang depan.


"Mei, sebaiknya kita segera kembali ke asrama." Ajak salah satu temannya.


"Iya Mei. Jika kita kembali sekarang, kita bisa membuat alasan bahwa kita menemani Ustadzah Marsya, karena dia tidak ingin sendirian dirumah." Sambung teman yang satunya.


Di Jakarta, selesai menyantap sarapan bersama Rizki dan ibunya. Al bersiap untuk ke lokasi syuting. Kali ini dia akan menginap untuk dua hari dilokasi, karena ada scene yang akan diambil saat tengah malam, dan juga subuh hari.

__ADS_1


"Apa tidak apa ibu dan Rizki ikut ke lokasi syuting?" Tanya ibu yang memasukkan beberapa perlengkapan untuk Rizki saat nanti ikut menginap di lokasi syuting bersama Al.


"Tidak apa, buk. Ibu sama Kiki nanti bisa bermain dengan bebas di rumah tempat kami menginap. Rumah itu besar buk, ada banyak kamar, dan Al kebagian kamar yang luas kok. Jadi ibu bisa tidur dan istirahat yang nyaman nanti sama Kiki." Menggendong tubuh si mungil kesayangannya itu.


"Ikut abi cuting…" Ucap Rizki senang. Dia bermanja dalam gendongan Al.


"Iya, Kiki sama nenek ikut abi syuting, ya!" Melangkah keluar membawa tas yang disiapkan ibu.


"Al tunggu, bantal Kiki kelupaan!" Seru ibu yang langsung berlari naik menuju lantai atas untuk mengambil bantal guling mungil kesayangan Rizki. Dia tidak bisa tidur tampa bantal itu.


"Bantal Kiki telupaan." Ucap Al saat meletakkan tubuh Rizki dikursi samping tempatnya menyetir. Kursi Rizki khusus didesain untuk bayi.

__ADS_1


"Mas Al, ada telpon dari mbak Marsya." Haris datang membawakan Hp yang sudah tersambung pada Marsya.


Al menutup pintu mobil setelah meletakkan Rizki dengan posisi duduk yang nyaman. Lalu, dia mengambil alih Hp dari tangan Haris. "Asaalamualaikum, ada apa?" Tanya Al to the point. Dia malas berbasa basi dengan Marsya.


__ADS_2