Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Mencoba Fokus


__ADS_3

Syuting sedang berlanjut. Al sudah take beberapa bagiannya dengan berkali kali ulang. Dia tidak bisa fokus karena teringat pada Rizki.


"Mas Al kenapa?" Alista tampak khawatir melihat wajah bingung Al.


Al hanya menjawab dengan gelengan kepala sambil memberi tanda silang menggunakan tangannya. Tanda itu diarahkan pada kru dan produser. Al ingin waktu break sejenak. Keinginan Al pun disetujui oleh semua kru dan juga bang Adin.


Gio yang sejak tadi memperhatikan tingkah bingung Al dari kejauhan pun, akhirnya memutuskan untuk menanyakan langsung apa penyebab mood yang tidak baik itu.


"Mas Al, minum dulu." Alista mengulurkan secangkir kopi hangat pada Al.


"Thanks." Mengambilnya dan langsung mereguknya dengan sekali teguk tanpa peduli rasa hangat menyentuh lidahnya.


Alista hanya diam khawatir menyaksikan keadaan Al yang aneh itu. Tangannya berkali kali hendak menyentuh pundak Al, tapi tidak berani. Hingga seseorang datang dan membuatnya menyimpan tangannya dibalik punggung.

__ADS_1


"Boleh gue ngomong berdua sama Al bentar, Alista!" Seru Gio yang kini berdiri dihadapan Al yang menatap bingung padanya.


"Boleh kok." Jawab Alista dengan sedikit tidak suka. Lalu dia melangkah menuju tempat lain.


"Apa lagi kali ini, Al?" Duduk dihadapan Al.


Lagi lagi Al hanya menggeleng dengan senyumnya yang terlihat sangat menyakitkan.


"Lebih baik loe pulang aja dulu, Al. Dari pada cuma raga loe yang disini tapi hati loe bersama Rizki. Percuma juga loe disini dengan alasan mau kerja. Loe nggak akan bisa fokus Al. Percaya deh sama gue. Loe kejar Rizki sekarang." Memberi saran agar Al segera mengejar Rizki.


"Ok. Kalau memang itu keputusan loe, ayo dong fokus. Bukan hannya loe yang bekerja untuk projek ini bro. Coba loe lihat mereka." Gio meminta Al menatap wajah wajah pemain dalam sinetron itu. Dan Al pun menatap wajah mereka satu persatu.


"Mereka disini untuk kerja. Tapi, kalau loe terus gak fokus gini, hari mereka disini terbuang sia sia. Mereka pamit pada keluarga untuk kerja, eh ternyata mereka hanya melihat senior mereka yang tidak bisa profesionalitas dalam bekerja." Tegas Gio.

__ADS_1


Al mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia merasa bersalah pada mereka. "Astaghfirullah… ya Allah." Menatap lagi wajah wajah lelah teman teman disekitarnya.


"Maafkan saya teman teman." Al berteriak sambil sedikit menundukkan badannya. Dia benar benar merasa bersalah pada semua orang disekitarnya.


Mereka semua tersenyum menyambut permintaan maaf Al pada mereka. Begitu juga dengan bang Adin, Alista dan Gio. Mereka menghampiri Al, mencoba menguatkan kembali hati Al yang sempat gundah itu.


"Al, loe orang baik. Semuanya akan baik baik saja kok." Hibur seorang kru.


"Terimakasih mas. Maafkan saya. Saya akan berusaha fokus dan menyelesaikan syuting hari ini." Ucap Al lebih bersemangat dari sebelumnya.


"Gitu dong Al. Kita semua percaya loe bisa melewati semua ini. Semangat." Teriak salah satu kru yang mengajak semua pemain berkumpul untuk mengumpulkan semangat mereka yang sempat hilang.


Senyum Al mengembang. Dia bahagia, karena begitu banyak orang orang yang memberinya semangat. Padahal Al tahu, mereka juga punya masalah masing masing. Tapi, meski begitu mereka tetap mendukungnya, memberikan semangat dan menghiburnya saat hatinya sedang tidak baik baik saja.

__ADS_1


Sementara Al tersenyum. Diam diam Alista menatap wajah Al dengan dalam. Gio melihat tatapan itu. Tatapan penuh cinta dan khehawatiran. Tapi, entah mengapa, melihat Alista menatap Al seprti itu membuat Gio semakin tidak suka pada Alista. Dan mungkin Gio satu satunya yang tidak menyukai kedekatan Alista dengan Al. Entah apa alasannya, Gio sendiri tidak tahu. Tapi, yang jelas, Gio lebih suka jika Auri yang menjadi pasangan Al, bukannya Alista.


__ADS_2