Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Doa Ibu


__ADS_3

Al tiba di rumah sore hari. Ibu sama Rizki sedang bermain di taman belakang. Rizki yang memang baru belajar berjalan, sangat senang berjalan di rerumputan taman. Kaki mungilnya tidak mau berhenti melangkah. Meski dia sering terjatuh, dia tidak mau berhenti berjalan.


"Cucu nenek senang, ya!" Memperhatikan langkah si mungil. Maryam terus mengawasi cucunya. Tidak sedetikpun matanya menoleh pada yang lain. Dia hanya terus menatap cucunya dengan tatapan penuh cinta.


"Aduh, cucu nenek jatuh!" Menghampiri Rizki yang tertelungkup di rumput. Dia terjatuh. "Mh, sakit ya? Sakit?" Tanya Maryam sambil membantu Rizki bangun. "Loh, langsung jalan lagi…" Melepas Rizki yang masih semangat terus berjalan.


"Cucu nenek hebat. Kuat seperti Abi ya, nak." Ujarnya dengan terus mengikuti langkah Rizki.


"Nyonya. Den Al sudah pulang." Panggil Lela, asisten rumah tangga yang sudah hampir sebulan bekerja dengan Al.


"Benarkah?" Teriak Maryam tampa menoleh pada Lela. "Sayang, Abi pulang." Meraih tangan mungil Rizki.


"Abi… abi..." Ucap Rizki yang langsung berlari masuk ke dalam rumah. Maryam ikut berlari kecil untuk menjaga Rizki agar tidak jatuh, karena langkah cepat Rizki masih terlihat oleng. Rizki tampak seakan hendak jatuh.


"Abi... bi… bi... abi…" Terus berlari menuju pintu depan.


Al yang baru tiba di rumah pun, begitu membuka pintu langsung tersenyum bahagia. Dia duduk berlutut, lalu merentangkan kedua tangannya. Al siap menyambut putra kesayangannya untuk segera masuk dalam dekapannya.

__ADS_1


"Oh, putra kesayangan Abi." Memeluk erat tubuh mungil itu sambil mencium puncak kepalanya tanpa henti.


"Abi…" Panggilnya, lalu mencium pipi Al. Hal itu membuat Al gemas dan terharu.


"Sayang… abi terharu." Menatap lembut wajah Rizki. " Iyyappp…" Mengankat tubuh Rizki. "Anak abi sudah berat ternyata." Berpura pura merasa berat saat menggendong tubuh Rizki. Tingkah Al yang seperti itu membuat Rizki tertawa bahagia. Lalu dia mengalungkan dengan erat kedua tangan mungilnya di leher abinya.


"Buk." Sapa Al yang langsung mencium punggung tangan ibunya.


"Sudah selesai urusanmu, nak?" Tanya Maryam yang juga ikut melangkah bersama Al dan Rizki.


"Alhamdulillah untuk hari ini sudah, buk. Tapi, setelah ini Al akan selalu berada di lokasi syuting." Jelasnya singkat. Lalu, Al duduk di sofa ruang tamu. Rizki duduk nyaman di pangkuannya.


"Iya, buk." Mencium lagi puncak kepala Rizki. "Abi kangggeen, hampir sebulan nggak ketemu, jagoan abi." Mencium lagi wajah Rizki berkali kali, hingga Rizki tertawa dan berontak, karena Al juga menggelitik lehernya.


"Kapan kamu akan berhenti dengan syuting sinetron seperti ini terus, nak?" Tanya ibu.


"Mh, mungkin nanti, buk. Al ingin menabung, untuk membuka usaha sendiri yang nantinya bisa Al gunakan untuk Rizki sekolah dan masa depannya." Jelas Al mencoba membuat ibunya mengerti.

__ADS_1


"Pesan ibu hanya satu, nak. Jangan tinggalkan sholat, dan tolong jaga dirimu. Jangan menghalalkan yang tidak halal menurut perintah Allah." Pesannya pada putranya. Maryam sangat takut, putra semata wayangnya itu terjerumus pada pergaulan anak anak muda zaman sekarang. Terlebih, putranya itu adalah seorang public pigur yang dikerumuni banyak penggemar wanita.


Sebentar Al berhenti bermain dengan Rizki. Dia mengalihkan fokusnya pada ibu tercinta. Ditatapnya wajah khawatir ibunya. Untuk mengurangi kekhawatiran itu, Al tersenyum pada ibuknya.


"Buk, doakan Al selalu. Doakan setiap langkah yang Al tuju agar selalu diridhoi Allah. Awasi Al selalu, tetaplah berada disamping Al. Inshaa Allah, Al akan selalu mengingat pesan ibu." Menggeser duduknya agar lebih dekat pada ibunya.


"Dan Al ingin ibu jangan mudah percaya pada apapun yang diberitakan oleh media tentang Al, selama itu semua tidak keluar dari mulut Al langsung. Karena, apapun yang terjadi Al akan mengatakan terlebih dahulu pada ibu sebelum orang orang lain." Menggenggam erat tangan ibunya.


Mata Maryam berkaca kaca mendengar apa yang diucapkan Al. Entah mengapa, Maryam merasa sangat sedih, mengingat apa yang sudah dilalui anaknya. Dia juga tahu, betapa hancur dan terlukanya hati anaknya sejak perpisahan dengan istri yang sangat dicintainya.


"Terimakasih buk. Al bisa tetap tegar dan masih tersenyum hingga saat ini, semua karena doa dari ibu." Mencium kening ibunya dengan sangat lembut.


"Nenek…" Si kecil melangkah lalu memeluk neneknya. Sepertinya dia mengerti kesedihan hati neneknya.


"Oh, cucu nenek." Mengangkat tubuh Rizki dalam pangkuannya. Lalu dia mencium pipi Rizki dan Al bergantian. "Sayang kalian." Ucap Maryam sambil tersenyum haru.


Lalu, Al menatap pada si kecil. Dia berbicara dengan isyarat tangan untuk mengajak si kecil mencium wanita tersayang mereka bersamaan.

__ADS_1


"Satu, dua, tiga." Al dan Rizki menempelkan bibir mereka di pipi Maryam. Yang mendapat ciumanpun tersenyum bahagia.


__ADS_2