Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Bantuan


__ADS_3

Al tiba di lokasi tempat Auri berada. Dia disambut baik oleh teman teman Auri. Dia juga langsung memperkenalkan diri pada Mama Jeni.


"Nak Al ini yang selalu syuting bareng Alista, kan?" Tanya Jeni.


"Iya tante. Saya sering beracting bersama Alista." Jawab Al senang, karena Mama Jeni ternyata mengenalnya.


"Ada keperluan apa, mas Al datang kesini?" Tanya Widia ragu.


Sebentar Al melirik pada Auri. "Saya ingin bertemu Auri. Ada sesuatu yang ingin saya bahas bersama Auri." Jawab Al jujur.


Jawaban jujur itu membuat Endah dan Widia senyum malu malu. Sedangkan Melki memasang wajah kesalnya. Sementara bang Rudi, Andi dan Digo hanya mengangguk pura pura mengerti maksud kedatangan Al.


"Ya sudah, kalau begitu kalian mengobrol lah dulu." Saran Jeni.


Baik Al maupun Auri, hanya mengangguk tanpa ekspresi apapun. Mereka sama sama merasa canggung, karena hati masing masing mulai merasakan butir butir cinta.


"Maaf ya, aku mengganggu aktivitas kalian!" Seru Al saat hanya tinggal berdua dengan Auri.


Mereka tidak benar benar berdua saja, ada bang Rudi dan Digo yang duduk didekat mereka juga kok. Itu atas permintaan Auri dan Al yang memang tidak ingin ditinggal berdua saja.


"Santai saja, mas Al." Sahut Rudi dan Digo yang kemudian mereka fokus memeriksa hasil pengambilan gambar hari ini.


"Jadi, mas Al perlu bantuan apa dari saya?" Tanya Auri langsung to the point.


Sebentar Al mengatur tarikan napasnya yang sedikit terasa sesak. "Jadi begini, ibuk mulai kembali menjahit dan membuat beberapa gamis. Nah, dia memasarkan melalui orang lain. Tapi, aku kasihan sama ibuk, karena harus mengantarkan baju baju itu langsung kealamat orang tersebut." Jelas Al.

__ADS_1


Auri menyimak dengan baik.


"Jadi, aku ingat untuk meminta bantuan kamu, membantu dan mengajarkan dia untuk berjualan sendiri secara online. Aku sendiri tidak terlalu paham tentang semua itu." Sambung Al.


Auri mengangguk. Dia paham apa yang diinginkan Al darinya. "Mas Al, ada foto gamis gamis buatan ibuk nggak?" Tanya Auri penasaran.


"Ada. Bentar saya carikan." Jawab Al semangat, lalu menunjukka foto beberapa gamis yang di design langsung oleh ibuk.


"Wah, gamisnya bagus bagus ini. Saya suka." Ucap Auri senang saat melihat hasil karya ibu Maryam.


"Benaran bagus, atau hanya bermaksud menghibur?" Tanya Al tidak begitu yakin.


Auri mengangguk sebentar. "Benaran bagus kok. Dan aku yakin gamis buatan ibuk bisa laris jika dijual di toko online." Auri mejelaskan.


"Jadi, bagaimana? Kamu mau bantu?" Penuh harap.


"Tentu." Auri tersenyum senang.


"Caranya bagaimana?" Al penasaran.


"Maksudnya?" Auri bingung dnngan pertanyaan ambigu itu.


"Maksudnya, gimana caranya kamu bisa ngajarin ibuk?" Jelasnya.


Sebentar Auri melirik pada bang Rudi. "Bang, kita berapa lama di Bogor?" Tanya Auri.

__ADS_1


Rudi dan Digo saling bertatapan. Mereka mendengar jelas obrolan kedua insan itu. Jadi mereka mencoba membuat kesepakatan yang bisa menguntungkan pasangan itu.


"Masih dua hari lagi. Iya nggak Digo?" Jawab Rudi sambil memberi isyarat agar Digo juga sepakat.


"Iya. Masih sisa dua hari lagi." Digo menimpali dan berhasil membuat Auri percaya.


"Saya bisa mengajarkan ibu caranya secara langsung selama saya masih di Bogor. Tapi, mungkin saya tidak punya waktu luang jika harus menghampiri ibuk ke rumah." Jelas Auri.


Al mengangguk paham. "Ibuk yang akan datang ke sini. Bagaimana?" Tanya Al.


Sesaat Auri terdiam. Dia merasa tidak enak, jika harus ibu yang menemuinya. Harusnya dia yang menemui ibuk.


"Bang Rudi, bisa nggak kalau Auri yang menemui ibuk kerumah?" Tanya Auri lagi dan kali ini terlihat bola matanya memohon dengan serius.


Sebentar Rudi berpikir. Sebenarnya mereka akan pulang ke Jakarta besok. Tapi, tadi Rudi sudah mengundur waktu. Dan sekarang harus membuat jadwal baru untuk Auri.


"Tidak apa kok ibuk yang ke sini!" Seru Al merasa tidak enak hati karena mengacaukan jadwal mereka.


"Jam sebelas sampai zuhur bisa kok mas Al. Auri bisa menemui ibuk." Sambung Rudi begitu mendengar ucapan Al barusan.


"Ok. Saya bisa ke rumah ibuk besok jam sebelas dan kembali lagi ba'da zuhur." Ulang Auri.


Al tersenyum senang. "Terimakasih." Ucap Al pelan dengan suara yang sangat lembut juga disertai senyum manisnya yang ditujukan pada Auri.


Dan diam diam sesorang pria mengambil foto Auri dan Al dari kejauhan. Pria itu terlihat mencurigakan dengan pakaiannya yang serba hitam. Bahkan dia juga menutup wajahnya menggunakan masker hitam.

__ADS_1


__ADS_2