Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Cinta tak direstui


__ADS_3

Auri bangun lebih awal. Dengan sangat hati hati dia melepaskan diri dari pelukan suaminya. Begitu hendak menginjakkan kaki di lantai, Auri tersipu malu, mengingat dirinya saat ini hanya memakai gaun malam yang tipis dan sangat mini. Dia menggeleng malu sambil mengusak wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian, dia melangkah cepat menuju kamar mandi.


Sebenarnya Al sudah bangun sejak merasakan pergerakan Auri. Tapi, dia memilih pura pura tidur untuk melihat reaksi lucu Auri yang malu malu dan menggemaskan itu.


"Untung saja sudah subuh. Kalau belum subuh, sudah aku terkam lagi, sayangku. Sungguh menggemaskan." Gumam Al menatap langkah Auri menuju kamar mandi.


Setelah beberapa saat Auri keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap kecuali cadar. Sedangkan Al sedang bicara dengan seseorang melalui handphonenya. Al berdiri di balkon dengan hanya memakai piyama yang tidak dikancingnya.


Auri yang tidak ingin memikirkan hal hal yang aneh pun langsung menghampiri suaminya itu.


"Mas…" Auri menyentuh bahu suaminya.


Al langsung menoleh dan tersenyum pada istrinya itu. "Sebentar ya sayang." Bisiknya pada Auri.


"Iya, yang pasti aku benar benar ingin tempat yang nyaman dan romantis." Ucap Al.


Dia berbicara pada lawan bicaranya di telepon.


"Thanks bro. Bye."


Panggilan berakhir.


"Siapa, mas?" Tanya Auri.


"Teman dari London. Mas memintanya untuk mencarikan tempat honeymoon yang nyaman dan romantis." Jelasnya.


Auri terdiam mendengar itu. Dia tidak begitu menyukai ide Al yang mengajaknya untul honeymood ke luar Negeri.


"Ya sudah, mas mau mandi dulu. Nanti kita sholat subuh berjamaah." Ucap Al.


Dia pun bergegas ke kamar mandi. Sedangkan Auri menyiapkan perlengkapan sholat sembari menunggu suaminya mandi.


Sementara itu, di salah satu rumah yang megah, semua keluarga sedang berkumpul. Mereka membahas tentang persiapan pernikahan putra mereka.

__ADS_1


"Gio, kapan keluarga Mia tiba?" Tanya Papanya.


"Sebentar lagi, Pa. Katanya mereka terjebak macet. Tapi, sudah dekat kok." Gio menjelaskan.


"Kenapa sih kamu menikahi gadis itu. Kenapa tidak memilih yang satu profesi?" Ungkap Mamanya.


Memang sejak awal dia tidak suka pada Mia. Namun, meski begitu, Gio tidak pernah mendengarkan mamanya. Dia tetap menjalin hubungan dengan Mia dan bahkan sekarang mereka akan segera menikah.


"Kenapa memangnya. Aku mencintai Mia dan hanya Mia yang aku inginkan. Lagi pula dia juga wanita kakir yang sukses. Butiknya bahkan diminati banyak artis artis yang populer. Dia juga berhasil menang dalam peragaan busana di Australia." Jelas Gio yang dengan tegas membanggakan kekasihnya.


"Apa hebatnya menjadi pemilik butik. Lagian, Mama lihat penampilannya dibawah standar. Pemilik butik tapi kok nggak trendi. Gaya berpakaiannya juga norak." Sambung adik perempuannya yang juga tidak menyukai Mia.


"Terserah kalian. Pokoknya aku akan tetap menikah dengan Mia. Setuju atau tidak setuju aku tidak peduli." Tegasnya.


Papa hanya diam saja. Dia sebenarnya juga tidak menyukai Mia. Itu karena Mia hanya berasal dari keluarga biasa, bukan dari keluarga konglomerat seperti mereka. Jadi, tidak ada hal bagus yang bisa didapatnya dari Mia untuk pewaris dari ke enam keluarga mereka.


Tidak lama setelah perbincangan tidak mengenakan hati itu selesai, Mia dan keluarganya tiba. Mereka disambut ramah oleh Gio. Tapi, semua keluarga Gio malah terlihat sinis dengan kedatangan keluarga Mia.


Mia mengetahui ketidaksukaan keluarga Gio pada dirinya. Tapi, hati Mia sakit melihat mereka yang memandang keluarganya sebelah mata.


Senyumpun akhirnya terlihat diwajah Mia. Meski senyum itu terpaksa demi kekasihnya.


"Om, tante, semuanya, silahkan minum dulu." Ajak Gio kepada keluarga Mia.


Dengan berat hati, demi Mia, merekapun menerima tawaran dari Gio untuk mereguk sedikit saja minuman yang sudah tersaji di depan mereka.


Setelah beberapa saat, suasana masih tetap sunyi. Orangtua Mia ingin bicara, tapi tidak baik rasanya, jika mereka yang lebih dulu bicara, sementara tema acara pertemuan ini adalah permintaan keluarga Gio untuk bertemu mereka dan membahas acara pernikahan nantinya. Tapi, sampai detik ini keluarga Gio tidak ada yang mau bicara. Mereka hanya saling berbisik bisik antara mereka saja.


"Pa, ma. Keluarga Om Bahta sudah tiba. Katanya Papa dan Mama mengundang mereka untuk membahas pernikahan aku dan Mia. Tapi, kok kalian malah saling berbisik dan tidak menghormati tamu." Ucap Gio yang sudah tidak tahan melihat tingkah keluarganya di depan keluarga Mia.


"Oh, jadi harus Papa dulu yang bicara? Papa kira mereka duluan yang bicara." Jawabnya acuh.


Melihat ekspresi wajah keluarga Gio satu persatu, ditambah dengan ucapan papanya yang acuh, membuat Bahta merasa terhinakan. Sehingga dia langsung menghampiri Mia.

__ADS_1


"Lepaskan cincin di jarimu." Pintanya pada Mia.


Hal itu sontak membuat semua mata menatap pada mereka.


"Kenapa, pa?" Tanya Mia tidak mengerti.


"Lepaskan saja cincin itu." Tegasnya dengan suara lantang.


Dengan terpaksa Mia melepaskan cincin itu dihadapan Gio yang menatap sendu pada kekasihnya itu.


"Ini, pa." Mia memberikan cincin itu pada Papanya.


Bahtia melangkah menghampiri Gio. "Ambil kembali cincin ini. Sepertinya keluargamu tidak menyukai Mia." Ucapnya.


Mendengar itu Gio benar benar terpukul. Ditatapnya satu persatu wajah keluarganya yang kini tersenyum mengejek.


"Om, aku mencintai Mia. Kami sudah bersama untuk waktu yang lama. Aku tidak mau hidup dengan siapapun jika itu bukan Mia." Ucap Gio mencoba meyakinkan Bahtia.


"Om percaya. Tapi, om tidak akan membiarkan Mia di ejek dan dipandang sebelah mata oleh keluargamu." Menatap tajam wajah papa dan mama Gio yang mencoba menahan tawa geli mereka.


"Mia, mari kita pulang, nak." Melangkah lebih dulu meninggalkan ruangan itu.


"Mia, please jangan pergi. Aku sangat mencintaimu." Gio menahan langkah Mia.


"Aku akan terus mencintaimu selamanya." Ucap Mia.


Perlahan dia melepas cekalan tangan Gio di pergelangan tangannya lalu dia pun pergi mengikuti langkah keluarganya keluar dari rumah itu.


"Aku akan tetap menikahi Mia." Teriak Gio menegaskan.


"Silahkan. Tapi tinggalkan rumah ini. Dan satu lagi, papa akan meminta semua media, sutradara dan siapapun itu untuk menolak kamu. Cari pekerjaan sendiri. Aku tidak sudi membantu seorang anak yang tidak patuh." Teriaknya tidak kalah lantang dari Gio.


Mendengar itu Gio tidak takut. Dia malah tertantang untuk benar benar pergi dari rumah itu.

__ADS_1


"Aku akan tetap menikahi Mia. Terserah papa mau melakukan apa. Aku tidak peduli, selama aku bisa hidup bersama Mia."


Setelah mengatakan itu, Gio pun pergi dari rumah itu dengan hanya memakai pakaian yang ada di badannya. Yang dia bawa hanya mobilnya, ponsel dan sedikit uang cash. Sementara semua credit card ditinggalkan di kamarnya. Dan dia yakin, papanya juga akan memblokir semua credit card itu.


__ADS_2