Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Fans Meeting


__ADS_3

Sepekan telah berlalu.


Promosi Sinetron terbaru Al dan Alista sudah beredar dimana mana. Semua saluran Tv pun menyiarkan tentang penayangan sinetron terbaru mereka. Bukan main, antusias penonton sangat banyak dan heboh. Mereka benar benar menunggu Sinetron itu dengan penuh rasa penasaran.


"Kalian juga menunggu sinetronnya tayang?" Tanya Auri melirik pada Widia dan Endah yang sedang menonton penyiaran sonetron melalui hp mereka.


"Iya dong, kita kan Al Lovers. Kamu mau gabung nggak jadi fan clubnya mas Al Fatih?" Ajak Endah.


Auri menggelengkan kepalanya cepat. Lalu dia mengalihkan pandangan keluar jendela mobil.


"Kita makan dulu atau langsung pulang, Ri?" Tanya Rudi yang mengendalikan setir mobil.


"Makan dulu, yuk mbak. Lapar!" Sahut Adit yang duduk di bangku belakang.


"Iya, makan dulu kita. Aku juga lapar." Melki ikut bersuara.


"Boleh. Aku juga sudah sangat kelaparan." Jawab Auri setuju.


"Kita juga!" Seru Endah dan Widia yang tetap fokus pada layar hp mereka.


"Baiklah, sopir akan mengantarkan kalian semua ke tempat makan paling enak sedunia." Rudi menambah kecepatan laju mobilnya untuk segera menuju resto.


"Rud, rud pelankan mobilnya." Teriak Widia dan Endah. Hal itu membuat yang lain menatap heran pada mereka.


"Apaan sih. Resto masih jauh juga." Rutuk Digo yang sejak tadi memejamkan matanya di kursi samping Rudi.


"Ihh, pokoknya nepi sekarang. Itu Alista sama Al. Aku mau minta tanda tangan mereka." Tunjuk mereka keluar mobil.


Semua penumpang mobil melirik kearah telunjuk Widia dan Endah. Benar, mata mereka menangkap pasangan itu sedang mengobrol asik di depan caffe. Rudi pun langsung menepikan mobilnya tidak jauh dari tempat Alista dan Al mengobrol.


"Aku udah cantik, belum? Make up aku masih bagus, kan?" Celoteh Widia dan Endah sebelum turun dari mobil.


"Mbak Auri nggak ikut turun?" Tanya Widia.


"Aku tunggu di sini aja. Ingat jangan lama lama. Perutku keroncongan." Serunya dari dalam mobil.


Rombongan tim creatornya tidak menjawab ucapan Auri. Mereka sudah menyerbu kearah Alista dan Al.


"Mbak Alista, mas Al. Boleh photo nggak?" Tanya Widia dan Endah.


Al terkejut melihat mereka yang datang beramai ramai mendekat tiba tiba. Sedangkan Alista langsung mengiyakan permintaan mereka. Dia pun mulai berpose dengan para penggemarnya itu.

__ADS_1


"Mas Al, tanda tangan disini dong." Melki meminta Al untuk tanda tangan di kerah kemejanya.


"Pulpen nya ada? Kebetulan saya lupa membawa pulpen." Jelas Al pada Melki.


"Waduh, aku nggak punya mas Al. Tapi tunggu sebentar." Melki berlari menuju mobil untuk meminjam pulpen dari Auri.


Mata Al mengikuti langkah Melki, dan saat pintu mobil terbuka, Al melihat dengan jelas wanita bercadar yang ada di dalam mobil itu. Hingga tanpa ragu kaki Al melangkah mendekati Melki yang sedang menunggu Auri memberikan pulpen padanya.


"Mas Al, kamu mau kemana?" Teriak Alista heran melihat Al melangkan menjauh darinya. Tapi, dia tidak bisa fokus memperhatikan Al, karena banyak fan berdatangan meminta berphoto dengannya.


"Cepat, Auri. Nanti Al keburu pergi." Teriaknya tidak sabaran.


"Nih, jangan sampai hilang. Itu kenangan dari temanku." Memberikan pulen pada Melki.


"Auristela?" Suara Al membuat Auri dan Melki terkejut, mereka tidak mengetahui keberadaan Al yang sudah ada di dekat mereka.


"Mas Al, ini pulpennya!" Memberikan pulpen pada Al dan Melki siap memegang kerah kemejanya agar segera di tanda tangani oleh Al.


"Oh, disini ya?" Memegang kerah kemeja Melki.


"Iya, Mas." Penuh rasa kebahagiaan.


Sedangkan Auri sudah kembali ke dalam mobil. Dia menutup jendela kaca mobil, sehingga Al tidak bisa melihatnya dari luar mobil.


"Maaf mas, apa yang tadi itu Auristela Az-Zahra?" Tanya Al pada Melki setelah selesai menandatangi kerah kemejanya.


"Hah? Kom mas Al bisa tau?" Heran.


"Tapi benar, kan itu Auri…"


"Mas Al minta photo nya dong." Teriak Widia, Endah dan Fan lainnya yang berlari menyerbu Al. Hal itu membuat Al tidak bisa mendengar jawaban dari Melki. Tapi, meski begitu Al yakin wanita bercadar di mobil adalah Auri.


"Maaf ya, hati hati. Mungkin boleh sedikit mundur." Saran Al yang tidak nyaman begitu dekat dengan banyak wanita wanita itu. Al bahkan menyempatkan untuk memanjangkan lengan kemejanya yang tadi sempat dugulungnya. Dia benar benar menjaga agar tidak bersentuhan langsung dengan tangan tangan fans wanita nya itu.


"Antrian, ya kak, dek. Jangan saling dorong dan berebut, atau saya tidak akan tanda tangan." Perintah Al. Dan dengan seketika mereka semua berbaris lurus mengantri dengan nyaman dan juga tenang.


"Ah mas Al, aku sangat ingin bersalaman dengan mas Al. Sedikit saja, boleh dong?" Pinta salah satu penggemarnya yang memakai mini dress, sehingga membuat Al terpaksa menatap ke atas dan mencoba menghindari menatap wajah wanita itu.


"Maaf, kak. Tapi, saya belum cuci tangan loh. Masih banyak kumannya ditangan saya." Kilah Al, menolak secara halus.


"Aku rela berbagi kuman sama mas Al, kok." Memaksa hendak memegang tangan Al yang sedang mencoretkan sign di buku wanita itu.

__ADS_1


"Maaf, kak. Ini saya sudah selesai tanda tangan. Tolong yang sopan ya!" Tersenyum sambil berusaha menjauhkan tangannya dari jangkauan tangan wanita itu.


"Udah ya, mbak cantik. Sekarang giliran kita. Kita udah antri lama loh." Endah menyenggol tubuh wanita itu hingga dia terdorong kebelakang.


Al tersenyum senang, akhirnya ada fans yang mengerti dirinya. segera saja Al berpose untuk berpoto dengan Endah dan Widia. Mereka berpose tidak berlebihan dan tentunya dengan jarak yang disukai Al, yaitu sejengkal darinya.


"Namanya siapa, kak?" Tanya Al ramah sambil tersenyum saat diphoto.


"Endah…" Memberikan selembar kertas agar ditanda tangani oleh Al.


"Aku Widia." Melakukan hal yang sama.


Dengan senang hati Al memberi mereka tanda tangan dan juga ucapan cinta dari Al, serta tanda hati diukirnya di kertas kertas itu.


"Terimakasih mas Al." Mereka benar benar bahagia. Lalu, saat giliran mereka selesai untuk bertemu Al, mereka pun melangkah menuju mobil yang tidak jauh dari sana. Lagi lagi, Al menatap langkah mereka menuju mobil, lalu dia tersenyum senang melihat hal itu.


Sementara Itu, Alista tergepung ditengah fans yang meminta berphoto bersamanya. Sehingga dia tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh Al barusan.


"Jangan rebutan ya! Kalau rebutan, saya benar benar akan langsung pulang loh." Peringatan dari Al yang sebenarnya sudah kewalahan dengan fans nya.


Tadinya dia hanya berniat datang ke caffe untuk menyeduh kopi, eh malah bertemu Alista. Jadi, mereka mengobrol sebentar di luar caffe dan tidak menyangka akan diserbu para penggemar sebanyak ini.


Dan Auri, dia hanya menghela napas dalam dalam. Apa yang dilihatnya barusan benar benar melelahkan. Untung saja, dengan dirinya memakai cadar, tidak banyak orang yang mengenalnya. Jika tidak bercadar, Auri pun akan selalu diserbu fans saat berada di pusat pusat keramaian.


"Kalian mau tau info penting nggak?" Teriak Melki tiba tiba saat mobil mulai berjalan menjauhi kerumunan orang.


"Apa? Memangnya ada info yang lebih penting dari bertemu dengan mas Al." Widia dan Endah mengheboh gemas sambil tersenyum malu malu. Melihat itu Auri hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Makanya dengar dulu. Kalian pasti akan terkejut." Memasang wajah misterius.


"Apaan ah, cepatan. Jangan bikin penasaran dong." Rutuk mereka mulai kesal karena Melki masih belum juga bicara.


Sebentar dia melirik pada Auri yang kini sudah memejamkan matanya bersandar pada kursi. Mata mereka semua mengikuti arah mata Melki, lalu mereka saling menatap bingung.


"Tadi, mas Al menghampiri Auri. Dia bahkan menanyakan, apakah yang dimobil itu Auristela?" Meniru suara Al.


"Benarkah?" Mereka saling tatap untuk sesaat, kecuali Rudi yang tetap fokus mengemudi.


"Benar. Sungguh benar adanya."


"Sudah diam kalian semua. Aku mau tidur. Bangunkan saat tiba dirumah." Tegasnya tampa membuka mata. "Oh ya, makannya ditunda sampai rumah. Kalian sudah menghabiskan banyak waktu untuk bertemu artis artis itu, tampa memikirkan perutku yang keroncongan." Rutuknya kesal.

__ADS_1


"Baik, mbak." Sahut mereka serentak dengan suara pelan. Ada rasa kecewa dan juga ada rasa bersalah, sehingga mereka memilih untuk ikut diam dan memejamkan mata. Kecuali Rudi, ya. Karena Rudi belum latihan untuk mengemudi sambil memejamkan mata.


__ADS_2