
Malam ini, Auri menatap wajahnya dicermin. Senyum bahagia terlihat menghiasi wajah cantik itu.
"Kakak terlihat sangat cantik malam ini. Mas Al benar benar beruntung." Puji Alista yang sedang membenarkan jilbab kakaknya itu.
"Kakak yang beruntung menjadi wanita yang dipilihnya untuk mendampingi hidupnya. Kakak sangat bahagia, dek."
Alista akhirnya memeluk erat tubuh Auri. Dia menangis haru dibahu Auri. Bwgitu juga sebaliknya, Auri pun ikut nenangis.
Sementara itu, makanan sudah tertata rapi diatas meja. Semua makanan itu dipesan dari restoran halal oleh Mama Jeni. Tempat tempat makanan itu, juga semuanya adalah mangjuk dan piring yang baru dibelinya beberapa bulan lalu. Sengaja agar Auri bisa makan dan minum dengan nyaman dirumahnya.
"Apa semuanya sudag siap?" Tanya Jeni pada asisten runah tangganya.
"Sudah nyonya. Semuanya sudah siap." Jawabnya.
Jeni tersenyum senang. Kemudian, dia kembali ke ruang depan untuk menunggu calon besan dan calon menantunya tiba.
"Ma, apa mereka benaran akan datang malam ini untuk melamar Auri?" Tanya William yang merasa resah, karena sejak tadi menunggu kedatangan Al dan ibunya yang tak kunjung tiba.
"Iya, Pa. Auri sendiri yang bilang, kan tadi malam kalau Al dan ibunya akan datang melamar malam ini." Jeni menjelaskan.
"Tapi ini sudah jam delapan lewat, dan mereka masih juga belum datang." Rutuknya khawatir.
Dia sudah tidak sabar untuk bertemu secara langsung dengan Al yang menurutnya merupakan pria yang sangat pantas untuk bersanding dengan putrinya. Dan juga, akhir akhir ini William mulai menjadi fans dari aktor papan atas itu.
__ADS_1
Disaat kehawatiran mulai memuncak, mobil Al tiba dihalaman rumah orangtua Auri.
"Itu mereka tiba, Pa." Ucap Jeni yang langsung ikut melangkah ke depan pintu bersama asisten rumah tangganya.
Al turun dari mobil. Dia melangkah dengan menggendong putranya. Sementara ibunya membawa box berisi perlengkapan make up. Lalu, Haris dan Zia juga membawa box yang berisi beberapa barang mewah untuk Auri sebagai hadiah.
"Assalam…" Ucap Al saat tiba didepan Jeni dan William.
"Waalaikumsalam." Jawab Jeni dengan ramah. Sementara William hanya tersenyum saja.
"Mari masuk mbak, nak Al." Ajaknya.
Merekapun melangkah menuju ruang tamu dan duduk sebentar untuk sekedar mengobrol sebentar sebelum makan malam.
"Iya nenek." Ucap Al mengajari Rizki untuk menjawab panggilan Jeni. Tapi, kiki hanya tersenyum malu dan membenamkan wajahnya didada Al.
"Kiki sangat sulit bergaul, tante. Dia tidak terlalu senang berteman dengan orang yang baru ditemuinya." Jelas Al berharap dimaklumi oleh calon mertuanya itu.
"Tidak apa. Mama paham kok. Meski belum punya cucu, tapi mama sering melihat teman teman mama berkomunikasi dengan cucu mereka." Ujar Jeni.
"Mbak yu, mari kita makan malam dulu. Kami sudah mempersiapkan." Ajak Jeni pada Maryam.
"Mari. Tapi, maaf sebelumnya karena merepotkan." Ucap Maryam merasa tidak enak dengan sambutan makan malam dari calon besannya itu.
__ADS_1
"Tidak usah sungkan, mbak yu."
Jeni merangkul Maryam melangkah menuju dapur. Sementara, Rizki sudah beralih digendong oleh Haris, dia juga mengikuti langkah Jeni dan Maryam, begitu juga dengan Zia. Sedangkan Al masih harus bicara dengan calon mertuanya.
"Papa hanya ingin menanyakan satu hal dan jawablah dengan jujur." Ucap William sambil menatap tajam pada Al yang mulai merasa agak grogi, karena ini pertemuan pertamanya dengan seorang William Mark.
"Iya, om. Saya akan menjawab dengan jujur." Jawab Al agak terbata bata.
"Panggil saja Papa. Dan cobalah bicara santai, karena sebentar lagi kita akan menjadi keluarga."
Mendengar perkataan itu membuat hati Al terasa hangat dan perasaan canggung pun mulai mengurang.
"Apakah kamu sangat menginginkan Auri untuk menjadi pendampingmu, bukan hanya untuk sehari dua hari, seminggu dua minggu, setahun dua tahun, tapi untuk selamanya, seumur hidup?" Tanya William serius.
Sebentar Al mengatur napasnya agar bisa menjawab dengan lebih santai. "Aku sangat mencintai Auri, Pa. Aku benar benar ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamanya." Jawab Al tegas dan dengan jujur.
Tanpa Al dan William sadari, Auri mendengar pembicaraan mereka dari atas sana. Auri berdiri di anak tangga pertama paling atas sambil melihat dan mendengar perbincangan Al dan papanya.
"Kakak pasti bahagia mendengarnya." Bisik Alista.
"Sangat bahagia, dek. Kakak sangat bahagia." Jawab Auri sambil tersenyum lebar.
Dia benar benar merasa sangat bahagia, melihat Papanya dan Al sedekat itu.
__ADS_1
!!!!