
Saat ini Auri mondar mandir di depan gerbang pesantren. Dia ingin masuk untuk menjenguk Abi. Tapi, saat dia tiba tadi, tidak sengaja melihat Kelvin dan Marsya yang juga baru tiba di pesantren. Hal itu yang membuat Auri enggan untuk masuk ke pesantren, dia belum sanggup untuk bertemu Marsya dan Kelvin sendirian.
Pada saat itulah, Al yang baru saja membuka pintu gerbang, melihat Auri mondar mandir.
"Assalamualaikum!" Sapa Al ragu ragu.
Sontak Auri menoleh dan untuk sesaat dia menatap lekat wajah Al Fatih yang juga menatapnya. Kemudian, keduanya tersadar dan langsung menundukkan pandangan.
"Mbak Auri, sedang apa?" Tanya Al ragu.
"Ee, rencananya saya mau jenguk Abi." Ucapnya ragu ragu.
Mereka merasa canggung, karena tidak menyangka bertemu secara tiba tiba setelah satu bulan lebih tidak pernah ketemu lagi, setelah hari itu.
"Kenapa tidak langsung masuk saja? Saya juga tadi jenguk pak Kiai." Ujar Al.
"Saya tidak yakin untuk masuk sendirian. Karena tadi saya melihat mereka juga baru tiba."
Mendengar pernyataan Auri itu membuat Al manguk mangguk paham.
"Mau saya temani kedalam?" Al menyarankan.
Sebentar Auri terdiam. Mendengar Al menawarkan diri untuk menemaninya, membuat hatinya terasa aneh.
"Apa tidak merepotkan? Bukankah mas Al sudah mau pulang?"
Al hanya tersenyum, kemudian dia membuka pintu gerbang. Al melangkah masuk lebih dulu, baru kemudian Auri mengikuti dari belakang.
Begitu mereka tiba di depan rumah pak Kiai. Auri dan Al mendengar suara Kelvin dan Marsya yang memohon maaf dari pak Kiai dan bu Nyai.
"Assalamualaikum!" Seru Al dari luar rumah.
__ADS_1
Suara Al membuat bu Nyai berlari menghampirinya. Betapa terkejutnya dia, ternyata Al kembali lagi dan kali ini bersama Auri.
"Masya Allah, Auri... anakku." Sambut Umi yang langsung memeluk erat tubuh Auri.
"Maafkan Auri terlambat datang, umi." Ucapnya dalam pelukan Umi.
Dari dalam, Abi melangkah perlahan dengan bantuan kruk. Dia menghampiri Auri.
"Anakku..." Panggil Abi.
Auri melepas pelukan dari Umi, dia langsung menghampiri Abi dan mencium punggung tangannya.
"Maafkan Auri, abi. Auri baru bisa datang sekarang." Ucap Auri merasa tidak enak hati.
"Tidak apa anakku. Justru Abi berterimakasih karena kamu masih mau datang ke pesantren dan menemui Abi." Ucapnya.
Setelah keharuan itu, Umi mengajak Auri dan Al masuk. Mereka pun duduk di kursi ruang tamu. Auri duduk disamping Umi. Sedangkan Al duduk berdekatan dengan Kelvin dan Abi. Sementara Marsya duduk dilantai sambil menyajikan minuman untuk para tamu.
"Maafkan aku Auri." Ucap Marsya.
"Tidak ada yang perlu di maafkan." Jawab Auri singkat sambil tersenyum.
"Silahkan diminum teh nya." Ucap Auri sambil menyodorkan secangkir teh kearah Al, Abi dan Umi.
Dia sengaja melewatkan Kelvin. Karena itu tugas dari Marsya untuk menuangkan minum suaminya.
"Kamu tuangkan sendiri untuk suamimu." Saran Auri yang kembali duduk di dekat umi.
Sesaat suasana menjadi hening. Mereka hanya menikmati secangkir teh buatan Marsya.
"Abi, Umi. Sebenarnya tujuan Auri datang kemari, selain dari menjenguk Abi dan silaturrahmi..." Menghela napas sebentar.
__ADS_1
"Sebenarnya Auri mau meminta restu abi dan umi. Auri mau menikah lagi." Ucapnya sambil tersenyum senang.
Mendengar pengakuan itu, membuat hati Al terasa hancur. Sehingga dia hanya bisa mengedipkan matanya, berusaha agar tidak mengeluarkan air apapun dari sana. Sementara Abi dan umi terkejut dan juga bahagia.
"Menikah dengan siapa dan kapan?" Tanya Umi penasaran.
"Kamu mau menikah dengan siapa, Auri?" Kali ini Kelvin yang bertanya.
"Dengan siapapun kamu menikah, Abi selalu memberi restu. Karena Abi yakin kali ini dia laki laki yang baik dan bertanggung jawab." Ujar Abi.
Al menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak. Rupanya sebulan tidak ada kabar, Auri menyiapkan pernikahannya.
"Siapa laki laki beruntung itu, nak?" Tanya Umi penasaran.
Auri tersenyum. "Sungguh Aurilah yang beruntung karena dicntai oleh lelaki seperti dia umi." Jawab Auri sambil mencuri pandang pada Al yang tampak tenang.
"Selamat ya Auri. Semoga kali ini laki laki itu benar benar akan menjagamu dengan baik. Tidak sepertiku yang menyia nyiakan kamu." Sambung Kelvin yang membuat Marsya merasa semakin tersudutkan.
"Selamat Auri. Kamu memang pantas bahagia." Sambung Marsya terdengar sedih.
"Terimakasih, karena Abi dan Umi merestui Auri untuk menikah lagi. Terimakasih juga untuk mas Kelvin yang membuangku seperti sampah. Tapi, ternyata aku sampah yang masih bisa didaur ulang. Sehingga aku kembali menjadi berguna bagi seseorang dan kehadiranku sangat berarti untuknya." Jawab Auri.
Jawaban itu sangat mengena dihati Kelvin dan Marsya. Juga dipahami oleh Abi dan Umi. Namun, tidak diindahkan oleh Al yang semakin merasa sedih dan pengap.
'Selamat Auri. Semoga laki laki itu akan mencintaimu lebih dari pada aku mencintaimu.' Ujar Al dalam hati.
"Abi, Umi. Auri akan segera menikah dengan Al Fatih." Ujar Auri sambil menunduk dan memejamkan matanya.
Mendengar pengakuan itu membuat semua mata menatap pada Al Fatih yang hampir tersedak, karena saat Auri menyebut namanya, dia sedang mereguk teh manisnya.
Menyadari dirinya ditatap semua orang, membuat Al salah tingkah. Dia bingung mau mengatajan apa, karena pengakuan Auri secara tiba tiba sungguh membuatnya terkejut dan tidak menyangka.
__ADS_1