Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Rindu


__ADS_3

Happy Caffe.


Disinilah kini Auri berada. Dia mengajak Umi Aisyah untuk mampir di caffe sebelum memgantarnya kembali ke hotel tempatnya menginap.


"Tadinya Memei mau menemani Umi sampai sholat magrib di masjid. Tapi, karena salah satu Santri sakit, Umi menyuruh Memei untuk membawanya kembali ke hotel." Jelas Umi.


"Sudah berapa hari umi di Jakarta?" Menyeduh jus orange kesukaannya.


"Dua hari dengan hari ini. Rencana besok sore umi kembali ke Solo. Karena malamnya di pesantren akan ada acara perayaan hari jadi Abi." Menyentuh punggung tangan Auri. "Ikut Umi ke pesantren, Abi sangat merindukanmu, nak." Ucapnya.


Auri hanya tersenyum menanggapi ajakan Umi. Dia tidak mungkin kembali ke pesantren itu lagi. Semua kenangan menyakitkan itu akan kembali teringat. Jika boleh jujur, sebenarnya bertemu dengan Umi saja sudah membuat Auri merasa jahitan luka yang belum sepenuhnya sembuh itu mulai terlepas satu persatu. Itu sangat menyakitkan.


Tapi, meski begitu Auri harus tetap tersenyum pada wanita baik nan lembut penuh kasih itu. Walau bagaimanapun umi tetaplah wanita terbaik yang pernah ada dalam kehidupannya.


"Andai Kelvin bisa membuka mata hatinya, dia pasti tidak akan memilih wanita..."

__ADS_1


"Umi. Jangan mengatakan hal itu. Semuanya sudah diatur sesuai rencana yang Maha perancang rencana." Ucap Auri yang sengaja memotong ucapan Umi.


"Astaghfirullah, Umi terlalu terbawa emosi." Menundukkan pandangannya merasa malu dihadapan Auri.


"Tidak apa Umi. Sebagai manusia biasa, wajar saat kita terbawa emosi, tinggal bagaimana cara kita menahan emosi itu agar tidak meluap. Bukankah begitu yang selalu umi ajarkan pada Auri saat itu?" Mengingatkan kembali pada Umi.


"Benar, nak. Kamu benar." Menatap sendu wajah Auri.


Banyak hal terlintas dalam pikirannya saat melihat wajah Auri. Semua penderitaan dan kesakitan yang dialami Auri karena ulah putranya membuatnya malu untuk bertemu Auri. Itulah salah satu alasannya tidak mencari Auri selama ini. Namun, meski begitu, kerinduannya pada Auri akhirnya terobati dengan pertemuan sesaat ini.


"Mh, Auri tinggal di… yang pasti tempatnya sangat nyaman dan juga ada banyak teman, Umi." Jawabnya sambil tersenyum.


"Syukurlah, nak. Umi akan selalu mendoakanmu. Selamanya kamu tetap anak Umi yang sangat umi sayangi."


"Doa Umi adalah kekuatan untuk Auri. Jadi, umi harus selalu menjaga kesehatan. Jangan terlalu lelah saat bekerja. Ok Umi!" Menyentuh lembut kedua belah pipi Umi.

__ADS_1


"Inshaa Allah, nak. Kamu juga, jaga kesehatan, ya!" Menyentuh lembut pipi Auri juga.


Disaat Auri dan Umi Aisyah sedang berbincang sembari melepas rindu. Di pesantren, Kelvin sedang memberikan tausiah singkat pada santrinya. Sedangkan Marsya, dia tetap di kediamannya. Hatinya gundah, sebab Rizki tidak bersamanya.


"Mbak Marsya kenapa? Saya lihat sepertinya sangat gundah?" Memeriksa keadaan Marsya.


"Aku seorang ibu, Yuni. Hatiku tidak bisa tenang, saat buah hatiku tidak bersamaku." Tuturnya lemah lembut.


"Iya, tapi kan den Rizki bersama Abinya. Sudah dapat dipastikan keadaannya akan baik baik saja." Ucap Yuni lantang. Hal itu membuat Marsya agak marah, dia sangat ingin berteriak pada Yuni, tapi diurungkan karena ini lingkungan pesantren. Terlebih dirinya adalah istri dari pemimpin pesantren.


"Justru karena itulah aku khawatir. Aku khawatir Rizki akan memilih untuk tinggal bersama Abinya. Lalu aku harus bagaimana?" Matanya mulai berkaca kaca.


"Hak asuh den Rizki, ada pada mbak Marsya. Jadi, tidak usah khawatir tentang itu. Lagian kan sebentar lagi mbak marsya akan punya bayi lagi." Hiburnya.


Marsya mengelus perutnya sambil tersenyum. Dia lupa, ternyata kini dirinya sudah mengandung yang kini berusia tiga minggu. "Maafkan Umi ya sayang. Umi lupa, ternyata kamu sudah ada disini." Mengelus lagi perutnya yang masih datar itu.

__ADS_1


__ADS_2