
Gue benar benar merindukan anak gue, bro. Rasanya seperti separuh jiwa gue pergi. Dia segalanya. Gue nggak butuh kemewahan ini. Yang gue butuh adalah anak gue berada dipelukan gue. Rasanya semua kemewahan ini tidak berarti tampa anak gue, Muhammad Rizki." Ungkapnya yang membuat hati Gio terenyuh haru dan juga tersentuh.
Ddrrriittt.
Hp Al bergetar. Ada panggilan masuk.
"Bentar bro, gue angkat telpon dulu." Meraih Hpnya dan meninggalkan Gio sendiri di ruang istirahat.
"Assalamu'alaikum!" Al menjawab panggilan dari nomor tak dikenalnya.
"Waalaikumsalam, apa benar ini mas Al Fatih?" Rudi bertanya saat panggilan tersambung.
"Iya, benar. Anda siapa?"
"Saya Rudi, temannya Auristela."
"Ok. Terus ada perlu apa menghubungi saya?"
"Saat ini kami sedang di Solo, tidak jauh dari pesantren."
__ADS_1
"Bisa langsung ke intinya saja? Saya sedang di lokasi syuting."
"Tadi sore kami nggak sengaja bertemu anak mas Al di jalanan, dia memanggil manggil mas Al sambil menangis…"
"Apa yang terjadi dengan anak saya?" Memotong penjelasan Rudi.
"Mas Al yang tenang. Anak mas Al baik baik saja. Saat ini anak mas Al bersama kami, tapi di luar sana orang orang pesantren sedang mencarinya. Jadi, haruskah kami kembalikan anak mas Al pada mereka, atau kami bawa ke Jakarta saja besok pagi?" Tanya Rudi menjelaskan pada Al yang sudah sangat khawatir dengan keadaan anaknya saat ini.
"Apapun itu tolong sembunyikan anak saya. Saya akan ke Solo sekarang juga. Kirimkan alamat hotel kalian." Langsung mematikan panggilan tampa mendengarkan dulu jawaban dari Rudi.
Al segera meraih jaket dan juga mengambil kunci mobilnya. Dia bergerak cepat hingga membuat Gio dan juga semua kru yang ada dilokasi syuting merasa heran melihat Al yang langsung mengemudikan mobilnya dengan sangat laju.
"Saya tidak tahu." Jawab Gio santai.
Sementara itu di hotel, Auri dan teman temannya sedang melaksanakan sholat isa berjamaah. Widia dan Digo yang tidak sholat bermain dengan Rizki.
"Berhitung mulai." Digo mencoba berbicara menggunakan bahasa bayi seperti yang tadi Auri lakukan.
Benar saja, Rizki mulai berhitung. Dia bahkan bisa berhitung hingga angka sepuluh dengan bahasanya sendiri.
__ADS_1
"Pintar, dek Rizki pintar sekali!" Puji Widia yang mencubit pelan kedua belah pipi Rizki. Dan Rizki tersenyum bahagia mendapat pujian itu.
"Kamu lucu deh. Usia kamu berapa?" Taya Widia.
Rizki memperlihatkan satu setengah jarinya pada Widia dan Digo. Mereka tidak merti pada awalnya, hingga akhirnya mereka mengangguk dan mulai menebak.
"Satu setengah tahun?" Tebak Digo yang mendapat anggukan dari Rizki.
"Kenapa kalian tidak ikut sholat?" Tanya Rizki dengan bahasanya yang tidak dimengerti oleh Widia dan Digo. Mereka hanya saling bertatapan dan saling memberi kode agar menjawab pertanyaan yang mereka tidak mengerti.
"Karena, kak Widia dan kak Digo tidak boleh sholat." Sahut Auri melangkah mendekati Rizki.
Senyum bahagia dibibir Rizki terlihat menggemaskan. Dia mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Auri. Dengan senang hati Auri yang masih mengenakan mukenanya itu pun langsung memeluk tubuh mungil nan pintar itu.
"Kiki mau belajar mengaji?" Tanya Auri yang mendapat anggukan dari sikecil.
"Baiklah. Kita akan belajar mengaji." Auri mulai menuntun Rizki untuk mengikutinya menyebutkan huruf huruf hijaiyah satu persatu.
"Alif, ba, ta, tsa…" Rizki menyebutkan huruf juruf hijaiyah sampai pada huruf Ya tampa bantuan Auri lagi.
__ADS_1
Betapa terkejutnya mereka, ternyata Rizki sudah sangat pintar mengaji. Bukan hanya menghafal hurufnya, Rizki bahkan sudah mengenal huruf huruf itu saat Auri memintanya menebak satu persatu huruf tersebut. Hingga akhirnya mereka semua bertepuk tangan dan bergantian mencium pipi Rizki.