Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Wanita Istimewa


__ADS_3

Hari ini Auri membatalkan semua jadwalnya. Dia ingin menghabiskan waktu seharian bersama Mamanya.


"Bagaimana kalau kita bawa Mama ke taman Waladatika." Auri meminta pendapat teman temannya.


"Bagus juga. Jadi, kita bisa sekalian ngevlog." Ujar Rudi.


"Aku setuju."Sahut Widia dan Endah hampir berbarengan.


Lalu, Andi, Melki dan Digo pun mengangguk setuju.


"Kita berangkat sekarang." Ajak Auri yang langsung mendorong kursi roda Mamanya menuju mobil.


Betapa bahagianya Auri bisa menghabiskan waktu bersama mamanya yang selama ini selalu dirindukannya.


Sepanjang peejalanan menuju taman, Auri menceritakan banyak hal pada Mama. Termasuk tentang Islam. Respon mama sangat baik. Dia tidak marah sama sekali pada Auri. Dia malah bangga pada putrinya itu yang berani mengambil resiko besar dalam menjalani kehidupannya tanpa takut pada apapun kecuali pada Tuhannya.


"Wid, baca deh artikel ini." Tiba tiba Endah bicara seperti sedang mendapat masalah.


"Apaan?" Tanya Endah sambil melirik layar ponsel Widia. "Ya ampun, aku nggak percaya. Ini pasti hanya hoax." Endah dan Widia heboh sendiri.


"Kalian kenapa?" Tanya bang Rudi khawatir.


Sebelum menjawab, Endah dan Widia tersenyum malu. Mereka juga melirik kearah mama dan Auri. "Kita baca artikel, bang." Jawab mereka bersamaan.

__ADS_1


Auri mengerutkan dahinya heran. "Artikel apa. Kok sampai sehisteris itu?" Tanya Auri.


Dengan berat hati Widia memberikan Handphonenya pada Auri. Dan Auri pun langsung membaca artikel tersebut tanpa suara. Sehingga membuat yang lain penasaran.


"Artikel apaan tuan putri?" Tanya Melki.


"Kita penasaran loh ini." Seru Digo.


"Palingan artikel tentang Al Fatih, kan?" Tebak Rudi sambil tetap fokus menyetir.


Semua menatap Auri untuk mencari jawaban. Lalu Auri mengangguk. "Pemeran utama sinetron terbaru Al Fatih, digantikan dengan aktor pendatang baru. Al ingin istirahat sejenak, karena kecelakaan yang dialaminya, dia dinyatakan lumpuh." Auri membaca artikel itu dengan lantang dan jelas.


"Jadi mas Al mengalami kelumpuhan?" Ulang Andi yang sejak tadi tidak tertarik dengan perbincangan mereka.


Dan disinilah orang yang mereka bicarakan. Al duduk di kursi roda. Ibunya mendorong kursi itu ditaman rumah sakit.


"Buk, Al sudah tidak punya pekerjaan sekarang. Al juga melanggar kontrak kerja, jadi Al harus membayar dendanya. A.R art Studio juga harus ditutup sementara." Menjelaskan situasi dirinya saat ini.


A.R art Studio adalah tempat Al merekrut anak anak muda yang berbakat dalam acting, namun tidak punya keberanian untuk tampil di depan layar. Al memberi mereka pelatihan agar mereka bisa menjadi actor dan actris hebat.


"Apa uangmu sudah tidak cukup untuk membayar denda itu, serta suntuk mengelola studio?" Ibu mulai khawatir.


"Insya Allah cukup, buk. Tapi, untuk melanjutkan studio Al rasa sudah tidak mungkin. Karena Al akan segera menjadi pengangguran. Lalu, Al akan merepotkan ibu lagi." Tutur Al pada ibunya.

__ADS_1


"Ibu senang saat kamu merepotkan ibu. Jadi jangan khawatir. Selama ibu masih hidup, anak ibu akan baik baik saja." Ucap Maryam dengan terus mendorong kursi roda yang dinaiki Al Fatih.


"Buk, mintakan izin pada dokter Yuda untuk membawa Al pulang." Ucapnya.


"Kamu belum sembuh, nak. Jadi, belum boleh pulang." Maryam berhenti mendorong. Dia melangkah kehadapan Al dan duduk berjongkok disana.


"Ibu kenapa berjongkok. Kita cari kursi, agar ibu bisa duduk dengan nyaman." Saran Al sambil memegang erat kedua tangan ibunya.


"Ibu tidak apa apa kok. Lagian ibu suka seperti ini. Ibu bisa melihat wajah putra ibu dengan jelas." Maryam mencubit kedua pipi Al dengan lembut.


"Ibu kok jadi romantis gini? Udah mulai pintar acting, nih." Menggoda ibunya.


Maryam hanya tersenyum. Dia bahagia dan merasa menjadi wanita paling beruntung karena memiliki putra seperti Al Fatih.


"O iya, ibu tiba tiba kepikiran sama neng Auri yang cantik itu loh." Ujarnya yang membuat Al mengerutkan dahinya.


"Ibu cuma bertemu sekali dengan Auri, tapi masih mengingatnya." Al merasa heran pada ibunya.


"Entahlah, ibu merasa dia cocok untuk menjadi menantu ibu." Tuturnya yang membuat Al bertambah heran dan tidak percaya dengan apa yang dipikirkan ibunya.


"Dia wanita yang sangat istimewa, buk. Al tidak pantas untuk bersanding dengannya. Sekelas Kelvin yang anak seorang Kiai saja, tidak mampu mendampinginya. Apa lagi Al yang tidak punya apa apa." Jawab Al dengan jujur dan ingin ibunya berpikir secara realiatis.


"Justru karena dia wanita istimewa, makanya ibu mau dia menjadi menantu ibu. Dan tentang si Kelvin itu, dia memang tidak pantas bersanding dengan neng Auri yang cantik." Celoteh ibu.

__ADS_1


Al menggelengkan kepala mendengar semua celotehan ibunya. Dia juga merasa heran dengan sikap ibunya yang berbeda dari biasanya. Hari ini ibunya lebih ceria dan juga blak blakan. Padahal dulunya sangat pendiam, hanya bicara seperlunya saja. 'Semoga keinginan ibu terkabul. Aamiin.' Al berdoa dalam hati, berharap keinginan ibunya benar benar bisa terwujud. Karena, sebenarnya keinginan ibunya adalah keinginannya juga.


__ADS_2