
Berita perselingkuhan Al dan Auri menyebar begitu cepatnya. Bahkan Auri sendiri pun sudah menonton semua itu. Dia juga melihat bagaimana Marsya dan Kelvin mengatakan cerita bohong lengkap dengan air matanya juga.
Kelvin: (Selama ini saya benar benar tidak tahu tentang hubungan tersembunyi Al dan mantan istri saya, karena saya menganggap Al sebagai sahabat baik saya. Sampai saat mantan istri keguguran dan dia kabur dari rumah sakit dengan hanya meninggalkan secarik kertas ini, dan saya tahu perselingkuhan mereka setelah membaca surat itu.) Tutur Kelvin berbohong dengan lancarnya.
Lalu, Kelvin menunjukkan kertas yang bertuliskan pengakuan Auri tentang perselingkuhannya. Padahal tulisan itu bukan tulisan Auri. Tulisan itu merupakan campuran tulisan Marsya dan Kelvin sendiri.
"Kok ada ya, manusia selicik Marsya dan Kelvin di dunia ini?" Ujar Widia heran sambil mematikan Tv.
"Mbak, kita langsung klarifikasi saja." Saran Andi.
Sebentar Auri terdiam, lalu dia tersenyum sambil menatap satu persatu teman temannya itu. "Aku tidak akan mengklarifikasi apapun. Berita itu semuanya fitnah. Dan jika dengan itu dapat membuat semua dosaku diampuni oleh Allah, maka aku baik baik saja." Jawab Auri dengan sangat tenang.
Dia hanya terlihat tenang dihadapan mereka. Padahal hatinya hancur, sehancur hancurnya. Sungguh fitnah yang amat sangat kejam. Auri tidak ingin mengklarifikasi, karena itu hanya akan terlihat seperti mengemis pembelaan saja. Untuk apa melakukan hal itu, sementara dirinya memang tidak membutuhkan pembelaan apapun.
"Tapi, Auri. Ini fitnah yang sangat amat kejam." Melki ikut terbawa emosi.
__ADS_1
"Cepat atau lambat kebenaran akan segera terbongkar. Biarkan saja dulu, Marsya dan Kelvin menikmati permain mereka dengan semua kebohongan itu. Dan aku akan terus menjalani semua aktivitasku seperti biasa tanpa beban." Auri pun melangkah mendekati Mama yang juga hanya diam setelah mendengar pemberitaan buruk tentang putrinya itu.
"Ma, Auri sudah dewasa sekarang. Auri diberikan ujian lagi oleh Allah. Semoga ujian kali ini Auri lolos lagi dan akan naik kelas." Auri mengatakan itu dengan bibir tersenyum, dan air mata keluar dari pelupuk matanya tanpa diminta.
Jeni memberikan pelukan hangat pada putrinya itu. Dia bangga, karena memiliki seorang putri yang luar biasa sabar dan kuat dalam menjalani kehidupan ini.
Berita itu bahkan sudah sampai pada William Mark. Dia yang sangat amat membenci Auri karena memilih Kelvin dan keluar dari keluarga pun, merasa tidak terima putrinya difitnah seperti itu.
"Bima!" Teriaknya pada sekretarisnya itu.
"Kamu tahu keberadaan Auri saat ini?" Tanyanya sudah tidak
sabar.
"Nona Auri berada di Bogor bos. Nyonya juga ada disana." Jelasnya.
__ADS_1
"Kita ke Bogor sekarang." Melangkah cepat tanpa memperdulikan Bima yang agak kesulitan mengejar langkah bosnya itu.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya William tiba di villa tempat Auri dan teman temannya berada.
Saat itu, Auri sedang duduk terdiam di bangku taman halaman rumah. Mama dan teman temannya istrirahat di dalam villa.
"Auri…" Suara itu menyadarkan Auri dari lamunannya.
"Papa?" Auri berdiri menatap wajah lelaki yang sangat dirindukannya itu.
William menatap Auri dengan mata berkaca kaca. Lalu, perlahan dia mendekat dan akhirnya meraih tubuh Auri masuk dalam dekapannya.
"I am sorry, I am sorry." Ucap William diikuti dengan air matanya yang ikut menetes.
"Auri juga minta maaf, Pa. Maaf karena meninggalkan papa demi lelaki jahat itu." Ucap Auri terisak.
__ADS_1
"Harusnya papa melindungi kalian. Tapi, papa begitu egois sampai membiarkan putri papa ini di injak injak oleh lelaki sialan itu." Ucapnya yang kini melepas pelukan dan hanya menggenggam erat kedua belah tangan putrinya itu.